Terbukti, 5 Saham Ini Cuan Dalam Jangka Panjang

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 6 menit]

Investasi saham sering disebut sebagai investasi jangka panjang. Apa maksudnya?

Investasi jangka panjang berarti "membeli dan menahan" saham tersebut bukan dalam jangka waktu harian, mingguan atau bulanan. Tahan (hold) berarti tetap memegang saham tersebut atau tidak menjualnya dalam cuaca apapun, badai atau cerah, sampai target investor tersebut tercapai sesuai tujuan keuangannya.

Berapa lama jangka panjang? Tidak ada definisi yang baku mengenai periode ini. Investopedia, situs finansial terlengkap sedunia, menyebut investasi jangka panjang biasanya dalam rentang 7-10 tahun.

Sebagian saham membuktikan tesis saham adalah instrumen investasi jangka panjang. Saham tersebut tidak selalu masuk dalam indeks paling populer, LQ-45 dan tidak sering dibahas oleh media massa.

Baca Juga: Mengenal Average Down Dalam Investasi Saham

Harga saham-saham tersebut pastinya pernah turun dalam jangka waktu tertentu dan tidak kebal krisis (seperti yang terjadi karena pandemi pada 2020). Namun, data historis menunjukkan saham-saham ini bergerak dalam tren naik (uptrend) dalam jangka panjang.

Berikut ini saham-sahamnya:

1. EKAD

PT Ekadharma International Tbk. (EKAD) adalah salah satu penghuni lawas BEI. Perusahaan ini IPO pada 14 Agustus 1990 dengan harga penawaran Rp6.500 dan pernah memecah harga sahamnya (stock split) pada 1999.

EKAD adalah produsen pita perekat atau yang biasa dikenal dengan istilah lakban atau selotip dimana salah satu merknya adalah Daimaru. EKAD tidak masuk ke dalam indeks LQ-45.

Secara fundamental, EKAD adalah perusahaan yang menguntungkan. Pada 2019, perusahaan ini untung Rp73,76 miliar atau naik 1,95% dibandingkan dengan Rp72,35 miliar pada 2018. Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja perusahaan ini dalam tren tumbuh.

Berikut ini pergerakan harga EKAD sejak 2005 (Rp135) hingga 22 November 2020 (Rp1.260):

Sumber: Google Finance

2. MTDL

PT Metrodata Electronics Tbk. (MTDL) adalah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi dengan tiga lini bisnis: distribusi, solusi dan konsultasi. Di lini distribusinya, misalnya, perusahaan memasarkan laptop kepada pelanggan melalui diler.

Sama seperti EKAD, MTDL adalah penghuni lawas BEI. MTDL IPO pada 1990 dengan harga penawaran Rp6.800 dan memecah harga sahamnya (stock split) pada 1999. MTDL tidak masuk ke dalam indeks LQ-45.

MTDL adalah perusahaan yang untung dan selalu bertumbuh dalam 5 tahun terakhir (2015). Berbagai indikatornya, penjualan dan laba bersih, menunjukkan tren pertumbuhan dari 2015 hingga 2019.

 Berikut ini pergerakan harga MTDL sejak 2005 (Rp75) hingga 22 November 2020 (Rp1.595):

Sumber: Google Finance

Baca Juga: Membedah 5 Saham (GJTL, PTRO, MBSS, PNLF, BMTR) Pilihan Lo Kheng Hong

3. BBCA

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) adalah bank swasta nasional terbesar di Indonesia. IPO pada 2000 dengan harga Rp1.400, BBCA pernah stock split pada 2008. 

Pendapatan dan laba bersih BBCA dalam tren pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. BBCA adalah bank yang menjadi penghuni tetap indeks LQ-45 dan 10 besar emiten dengan kapitalisasi terbesar di Indonesia.

Berikut ini pergerakan harga BBCA setelah stock split pada 2008 (Rp3.600) hingga 22 November 2020 (Rp33.000):

Sumber: Google Finance

4. BMRI

Sama seperti BBCA, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) adalah penghuni tetap indeks LQ-45 dan 10 besar emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia. 

BMRI adalah BUMN yang IPO pada 2003 dengan harga penawaran Rp675 dan kemudian stock split ketika harga sahamnya tembus di level Rp13.000. Dengan kata lain, sejak IPO hingga stock split, harga BMRI telah naik lebih dari 2.000%.

Berikut ini pergerakan harga BMRI:

5. UNVR

PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) adalah penghuni lawas BEI. IPO sejak 1982, Unilever telah tiga kali melakukan stock split pada 2000, 2003 dan 2019. UNVR adalah perusahaan yang memasarkan produk kebutuhan sehari-hari, mulai dari sabun hingga kecap.

UNVR sering dikategorikan oleh investor sebagai saham defensif atau saham dari perusahaan yang produknya selalu dibutuhkan di suatu negara dalam kondisi ekonomi apapun, baik resesi atau sedang bertumbuh.

Dari stock split pada 2003 hingga menjelang stock split pada 2019, harga UNVR naik lebih dari 1.000% (dari harga Rp3.000an ke Rp47.000an). Berikut ini pergerakan harga UNVR:

Baca Juga: Perbedaan Saham dan Reksa Dana Saham

Prospek Mendatang

Bagaimana prospek saham-saham tersebut untuk investasi jangka panjang di masa mendatang? Tentu saja, tidak mudah untuk memprediksi masa depan. Berikut ini sejumlah ulasan yang dapat dijadikan pertimbangan sebelum mengambil keputusan investasi

 

Investasi