Strategi Ganda BRI Mengarungi 2021

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 5 menit]

Bank Rakyat Indonesia (BRI), salah satu bank terbesar di Indonesia, baru saja menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis, 21 Januari 2021.

Dalam rapat tersebut, perusahaan mengambil sejumlah keputusan.  Salah satu rencana besar yang baru saja disepakati direksi BBRI adalah nominal anggaran belanja Rp5 triliun yang bakal dipakai untuk akuisisi perusahaan lain. Nominal ini tentu saja bukan nominal yang kecil.

Dalam RUPSLB yang sama, BRI resmi mengangkat empat orang direktur baru yakni Amam Sukriyanto selaku direktur bisnis kecil dan menengah, Agus Winardini sebagai direktur SDM, Viviana Dyah Ayu menjadi direktur keuangan, serta direktur layanan Arga Mahanana.

Saaat memberikan keterangan kepada media, Direktur Utama BRI Sunarso gamblang menyatakan jika tugas utama keempat nama tersebut dalam setahun ke depan adalah menemukan perusahaan untuk dicaplok lisensinya.

Sunarso juga memberi kisi-kisi bahwa BBRI akan berupaya mencari entitas yang punya misi mewujudkan bank digital. Diharapkan, dengan mencaplok bank yang siap melakukan digitalisasi, BBRI bisa dengan mudah menyelaraskan perusahaan tersebut dengan layanan BRImo dan pasar.id.

BRImo merupakan aplikasi digital banking BRI, sedangkan pasar.id merupalan platform yang menghubungkan penjual dan pembeli di pasar tradisional secara digital.

Kedua aplikasi ini akan menjadi prioritas perseroan dengan memakai rekam jejak digitalisasi di anak usaha BBRI, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (AGRO) sebagai kompasnya.

Pertama dirintis sebagai perbankan yang fokus ke transaksi agribisnis, belakangan AGRO memang kerap menjadi ajang ‘eksperimen’ visi digitalisasi.

Sejak pengujung 2019 AGRO mulai intensif menjadikan Pinang, aplikasi digital lending rintisan mereka sebagai salah satu produk utama. Per Agustus 2020, AGRO mengklaim bahwa Pinang telah berkontribusi terhadap 56% total nilai pembiayaan yang telah dicapai perusahaan sejak pertama kali platform tersebut diluncurkan. 

Baca Juga: Seberapa Mahal Saham BRIS Saat Ini?

Pencapaian AGRO di tengah transisi digitalisasi sejauh ini juga masih konsisten. Per akhir kuartal 3/2020, AGRO tercatat masih menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp15,65 triliun, naik dari posisi Rp15,25 triliun secara year-on-year

Perkara menuju ke arah digital juga bukan hanya ditempuh BBRI dengan melakukan akuisisi ataupun melakukan eksperimen lewat anak usahanya.
Akhir tahun lalu, perusahaan juga telah menyicil langkah lain dengan bekerja sama bersama Alipay. Per tahun ini BBRI menjadi satu dari 2 mitra resmi Alipay—bersama Bank Mandiri—untuk dapat memproses transaksi-transaksi di Alipay dengan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). 

Holding Pemompa

Di luar rencana anggaran jumbo dan arah digitalisasi, satu senjata lain yang bakal diupayakan perseroan menjadi penopang kinerja tahun ini adalah wacana pembentukan holding ultra mikro oleh Kementerian BUMN. Rencana ini diakui Sunarso juga telah dibahas saat RUPSLB kemarin.

Holding utra mikro merupakan program kerja Kementerian BUMN untuk mengintegrasikan BBRI dengan dua perusahaan pelat merah lain, yakni PT Pegadaian Persero dan PT Permodalan Nasional Madani Persero (PNM).

Baca Juga: Menakar Strategi BBRI Hadapi Tekanan Pandemi 

Menteri BUMN Erick Thohir menyebut langkah mengonsolidasikan ketiga entitas tersebut menjadi salah satu solusi membuat pendapatan terpadu UMKM dan ultra mikro (UMi).  Pendapatan terpadu dapat menjadi jalan masuk untuk meningkatkan kelas pengusaha ultra mikro, mikro, dan kecil di Tanah Air.

Lantas, bagaimana dampak pembentukan holding tersebut terhadap BBRI?

Ada beberapa skema yang saat ini tengah dikaji pemerintah. Salah satunya adalah dengan menkonsolidasikan pegadaian dan PNM sebagai anak usaha BBRI dan melakukan right issue.

Bila skema itu dipilih, secara teori, pembentukan holding akan menciptakan efisiensi biaya dana alias cost of fund hingga sinergi digitalisasi dan platform. Efeknya, ekspansi usaha bisa dilakukan BBRI dengan lebih murah, yang pada ujungnya juga bisa menggenjot profitabilitas perseroan.

Aksi konsolidasi tersebut juga bisa membuat BRI tampil sebagai pemimpin pasar pada segmen kreditur mikro.

Sebagai gambaran, saat ini PNM memiliki 57 juta nasabah usaha mikro. Dari jumlah itu 30 juta nasabah di antaranya adalah sektor non formal yang belum terjangkau perbankan.

Dengan asumsi konsolidasi berjalan lancar, maka BRI akan turut kecipratan sekitar 30 juta nasabah yang belum terjangkau perbankan tersebut. Dan, tentu saja, ini akan membuat perusahaan selangkah lebih maju untuk mencapai tujuannya.

Apalagi, langkah ini sejalan dengan rekam jejak BRI sebagai salah satu bank yang menjembatani usaha mikro.

Hingga Desember 2020, BBRI telah menyalurkan KUR ultra mikro sebesar Rp8,66 triliun kepada lebih dari 985 ribu nasabah. Perseroan juga melakukan restrukturisasi kredit dengan realisasi sebesar Rp186,6 triliun kepada 2,8 juta nasabah. Dari jumlah tersebut, mayoritas atau 95,5%^ merupakan nasabah segmen mikro, konsumer kecil, dan menengah.

Per akhir kuartal III 2020 BBRI telah menyalurkan kredit Rp935,35 triliun. Dan lagi-lagi, sebagian besar penyaluran kredit tersebut diberikan kepada segmen UMKM dengan komposisi mencapai 80,6% dari total kredit BBRI.

Adapun untuk 2021 ini, BBRI menargetkan pertumbuhan kredit pada kisaran 7%.

Target itu tergolong ambisi yang optimistis bila menimbang situasi 2020, ketika kontraksi kredit secara industri sepanjang tahun mencapai -2,41%. Namun, bila pembentukan holding bisa rampung tahun ini, target tersebut jelas sesuatu yang lebih dari mungkin untuk digapai.


 

Tags:

Bisnis