Sesak Napas Industri Perbukuan di Gencet Pandemi

Ahsan Ridhoi

Buku adalah jendela dunia. Kita sering mendengar pepatah lawas itu ketika membicarakan pentingnya membaca buku. Namun pandemi yang menghantam Indonesia selama lebih kurang dua tahun ini, membuat jendela bisnis buku tak selebar dulu. Penjualan di tingkat penerbit dan ritel anjlok. Akibatnya, pelaku industri ini merugi.

Efendi Simanjuntak yang karib disapa Ucok, mengeluh pada saya tentang sepinya penjualan di tokonya, Guru Bangsa. Saya mengunjungi tokonya pada Rabu (25/8/2021) siang. Saya pengunjung pertama ke tokonya hari itu, katanya. Ia mengaku rata-rata pengunjug tokonya hanya dua orang setiap hari selama pandemi. Padahal, menurutnya, sebelum pandemi rata-rata bisa 20 orang per hari.

Toko buku Guru Bangsa terletak di Jalan Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan. Hanya lebih kurang 600 meter dari Kampus Kedokteran UIN Jakarta. Dari luar, orang yang lewat bisa langsung melihat rak-rak tinggi berisi penuh buku. Seluruhnya buku bekas.  

“Kalau yang di sini ratusan lah (buku). Di rumah masih ada lagi,” kata Ucok.

Ucok tinggal di Pamulang. Kecuali hari Minggu, ia selalu membuka tokonya. Ia akan menunggu pembeli dengan khidmat sambil memilah buku sesuai tema untuk dipajang di rak. Rak buku bertema agama punya tempat paling besar. Hal ini lantaran mahasiswa UIN Jakarta—konsumen utamanya, paling banyak mencari buku bertema itu.

Pria berdarah Batak ini memulai usahanya pada 1997. Saat itu toko bukunya terletak di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Saya pernah mengunjungi lokasi tokonya yang lama pada 2012 lalu. Letaknya di samping halte Transjakarta, Pondok Pinang. Lebih besar dari tokonya yang sekarang. Itu pula alasan Ucok menyimpan sebagian koleksinya di rumah.

Buku bekas adalah bagian penting dalam mata rantai industri perbukuan. Bagi para pecinta buku, lapak buku bekas seperti Guru Bangsa memberi peluang mendapatkan terbitan-terbitan lawas dan langka yang mungkin sudah tak ada di toko buku baru macam Gramedia atau Periplus. Yang terpenting, membuat masyarakat kelas ekonomi bawah tetap dapat menjangkau buku dengan harga murah.

Hal terakhir disebut itu lah yang juga mendasari keputusan Ucok membuka toko buku. Ia ingin semua kalangan masyarakat mendapat akses buku. Baginya, orang hanya bisa mendapat kesuksesan dengan membaca buku.

“Tukang tahu yang enggak baca buku, bisa jadi sukses dalam 10 tahun. Tukang tahu yang baca buku, bisa jadi sukses dalam 3 tahun. Yang baca buku, mungkin dia baca buku marketing, jadi tahu cara pemasaran yang lebih efektif,” kata Ucok.

Alasan lain Ucok berdagang buku bekas, tentu saja bisnis. Nilai buku tak pernah berkurang, sebaliknya justru bisa naik, katanya. Ia memisalkan buku karangan Pramoedya Ananta Toer. Masih banyak orang yang rela membeli cetakan lawas buku-buku Pramoedya dengan harga mahal. Ada nilai koleksi di dalamnya yang membuat sebuah buku tetap bernilai, katanya.

Meski demikian, Ucok bukan tipe penjual yang “asal tembak harga.” Ia lebih baik untung sedikit, tapi penjualannya banyak. Khusus buku pelajaran dan referensi umum, ia tak pernah mematok untung tinggi. Ia mengklaim hal ini lah yang membedakannya dari pelapak buku bekas lain, sehingga bisnisnya bisa tetap bertahan selama lebih dua dekade. Kelebihan lainnya, adalah ia pembaca buku yang rajin dan memahami barang jualannya secara baik.

“Penjual buku bekas lain sekarang ini kebanyakan cuma ngerti (buku) Pram. Mereka juga banyak yang jual buku bajakan. Kalau aku enggak mau jual bajakan,” kata Ucok.

Hari itu, saya membeli tiga judul buku: Sastra Indonesia Sebagai Warga Sastra Dunia karangan H.B Jassin; Ketidakmerataan, Konflik, dan Perubahan karangan Andrew Blowers dan Grahame Thompson; serta Komunikasi Politik, Media, dan Demokrasi karangan Henry Subiakto dan Rachmah Ida. Ketiganya saya dapat dengan harga Rp 100 ribu.

Pasang surut bisnis adalah hal biasa bagi Ucok. Namun, pandemi Covid-19 adalah ujian paling berat yang pernah dilaluinya. Penjualan bulanannya sempat anjlok sampai 70%. Biasanya, rata-rata ia bisa menjual sampai 50 buku per hari. Kini, untuk mendapat setengahnya saja susah dari pengunjung langsung ke tokonya.   

Ucok memahaminya sebagai sebuah kondisi yang tak terhindarkan bagi usahanya, mengingat ekonomi memang sedang buruk. Banyak orang kehilangan kerja. Sementara, menurutnya, meski penting, buku tak bisa didahulukan dari makanan.

“Aku paham orang pasti lebih mendahulukan beli sembako ketimbang buku. Kalau ekonomi sudah membaik, jualan buku pasti naik lagi, kawan,” kata Ucok secara optimis, lalu tertawa. “Belum lagi PPKM, PPKM itu lah. Orang enggak bisa datang,” imbuhnya.

Kondisi serupa juga dialami toko buku besar. Toko buku Gramedia dan Kinokuniya, tercatat menutup beberapa gerai akibat pandemi. Gramedia pada Oktober 2020 lalu menutup gerainya di Mal Taman Anggrek, Mal Ciputra, dan Mal Central Park. Ketiganya berlokasi di Jakarta. Jumlah kunjungan yang terus menurun menjadi salah satu alasan utama manajemen Gramedia.

Kinokuniya menutup permanen gerainya di Plaza Senayan, Jakarta, per 1 April 2021 lalu. Sebelumnya, Kinokuniya telah menutup gerainya di Pondok Indah Mall 2 pada 2018. Kini, gerai Kinokuniya tersisa di Grand Indonesia. Manajemen beralasan penutupan lantaran fokus menjual buku secara daring.          

 

Penerbit Sesak Napas

Untuk menggambarkan kondisi di tingkat hulu, saya berbicara dengan Direktur Buku Mojok Aditia Purnomo melalui telepon, Kamis (26/8/2021). Ia langsung mengaku penerbitannya turut “sesak napas” karena pandemi Covid-19. Paling sesak pada dua bulan pertama pandemi berlangsung di negeri ini.

“Februari-Maret tahun lalu itu anjlok banget,” kata Aditia.

Dua kasus pertama Covid-19 di Indonesia tercatat pada 2 Maret 2020. Namun, kabar soal pandemi sudah sampai ke negeri ini sejak akhir Januari 2020. Masyarakat pun mulai ramai membicarakannya, termasuk diiringi dengan panic buying alat kesehatan seperti masker.

Penjualan Buku Mojok, kata Aditia, pada tahun lalu sempat naik pada rentang April-Mei. Namun, itu bukan hal istimewa lantaran menjelang lebaran, saat masyarakat memang lebih konsumtif ketimbang waktu lainnya.

“PSBB sangat memengaruhi. Pas longgar penjualan naik. Pas ketat penjualan turun,” kata Aditia.

Pemerintah mengetatkan kembali pergerakan masyarakat melalui kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada awal 2021 dan setelah lebaran 2021 sampai sekarang. Penjualan Buku Mojok kembali anjlok.

Aditia mencatat penjualan belum mampu pulih sejak Juni 2021 sampai sekarang. Penjualan hanya berkisar 3.000 eksemplar per bulan. Jumlah itu hanya setengah dibandingkan masa normal. Keuntungan pun hanya bisa untuk membiayai operasional bulanan, seperti gaji pegawai.

Fixed cost bulanan kami Rp 50 juta,” kata Aditia.

Buku Mojok bukan satu-satunya penerbit yang “sesak napas” karena pandemi Covid-19. Merujuk survei Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) periode April 2020 lalu, penjualan 58,2% penerbit di negeri ini turun lebih dari 50% dibanding sebelum pandemi.

Survei tersebut pun menemukan 60,2% penerbit mengaku hanya sanggup menggaji karyawan selama tiga bulan. Hanya 5,1% yang mengaku bisa bertahan selama 9 bulan sampai setahun. Sebuah hal yang menunjukkan resiliensi penerbit di tengah pandemi sangat minim.

“Ada penerbit yang sudah tidak lagi menerbitkan buku,” kata Ketua IKAPI Arys Hilman, melansir Alinea.id, pada Februari 2021 lalu.

 

Siasat Tetap Bertahan

Ruang daring menjadi salah satu cara para pelaku industri perbukuan menyiasati Covid-19. Mereka memanfaatkan aneka platform daring untuk memasarkan dagangannya. Ucok, pemilik toko buku bekas Guru Bangsa, mengaku membuat akun di dua aplikasi e-dagang: Tokopedia dan Bukalapak, sejak April tahun lalu.

“Cuma dari dua aplikasi itu yang masih nyelametin jualan,” kata Ucok yang mengaku sebelumnya “alergi” dengan hal-hal berbau daring, khususnya media sosial.

Ucok mengaku, akibat platform e-dagang pasarnya lebih luas. Ia bercerita tentang pembeli dari Samarinda yang sempat memborong sampai 50 buku darinya. Membuatnya kian bersemangat mengunggah barang jualan di akun marketplace.

Kepada saya, Ucok memamerkan jumlah kunjungan ke akun Tokopedia milik Guru Bangsa. Hari itu, tercatat kunjungan mencapai 180 orang. Tak semuanya membeli, tapi Ucok menganggapnya sebagai peluang. Kian banyak yang berkunjung, kian tinggi peluang mendapat pembeli.

“Sampai dikasih duit Aku sama Tokopedia,” kata Ucok.

Kendati, Ucok menyebut karakter konsumennya di marketplace dan luring berbeda. Ia pun mengaku terbuka bagi orang lain untuk menjadi drop shipper atau penyalur barang dagannya. Ia telah memiliki beberapa, tapi enggan menyebut jumlah pastinya pada saya.

“Kau kalau mau jadi drop shipper bilang aja, kawan,” katanya.

Buku Mojok lebih dulu memanfaatkan ruang daring untuk memasarkan produk. Aditia Purnomo, pun mengaku penjualan di marketplace sangat membantu menjaga penjualan tak terlalu anjlok saat pandemi, terutama ketika toko buku luring yang selama ini menjadi tempat utama pemasaran produknya tak bisa buka normal karena sejumlah aturan pembatasan masyarakat.

Penjualan tahun lalu, kata Aditia, sangat terbantu momen Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12.12. Penjualan Buku Mojok selama momen itu mencapai 10 ribu eksemplar. Mampu sedikit menutup kekurangan penjualan bulan-bulan sebelumnya.

Guna memaksimalkan penjualan daring, menurut Aditia, Buku Mojok membuat promo seperti paket beberapa buku setema. Promo seperti ini sukses membuat buku lama dan baru laku berbarengan. Selain itu, ia juga membuat kampanye baca buku sebagai hiburan selama masa bekerja dari rumah (WFH).

“Kami juga mengirim buku untuk mereka yang sedang isoman (isolasi mandiri). Mereka kan pasti bosan, lihat hape terus juga bosan, kami beri hiburan dengan buku,” kata Aditia.

Pandemi di Indonesia belum ada tanda berakhir. Perjuangan para pelaku industri perbukuan di Indonesia, barangkali akan tetap berat. Namun, mereka tak pernah berhenti berharap. Mereka yakin industri ini akan tetap bertahan.

“Sampai lima tahun lagi masih bagus industri ini,” kata Aditia

Bisnis