Seberapa Mahal Saham BRIS Saat Ini?

Date:

[Waktu baca: 3 menit]

Laju emiten bank syariah ini tampaknya belum berhenti bertenaga, setidaknya dalam beberapa minggu pertama di 2021. Jika dihitung dari awal tahun, saham PT Bank BRIsyariah Tbk. (BRIS) sudah menanjak hampir 70%. Padahal, perdagangan saham di tahun ini saja belum genap sepuluh hari.

Kenaikan ini berarti membuat saham BRIS setidaknya sudah naik 2.700% dari level terendahnya di awal pandemi di harga Rp135 per lembar saham.

Emiten ini memang penuh dengan sentimen positif tahun lalu. Diawali dengan sentimen "Mansurmology", di mana Ustaz Yusuf Mansur mengajak masyarakat Indonesia untuk membeli saham ini, efek penerapan qanun di propinsi Aceh, hingga dibentuknya BRIS menjadi satu entity untuk dijadikan bank syariah nasional.

Sejak itu, kenaikan saham BRIS seolah tak terbendung.

Baca Juga: 3 Hari Melesat 47%, Ada Apa dengan Saham BRIS?

Optimisme yang terasa berlebihan melekat kepada saham ini.

Banyak yang bilang bahwa saham BRIS setidaknya akan menyamai harga saham induknya, Bank BRI, yang saat ini dijual di harga Rp4.770 per lembar.

Benarkah demikian? 

Perlu dipahami bahwa membandingkan dua buah saham tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat nominalnya saja. Dua buah saham sebaiknya juga dilihat dari seberapa baik dua perusahaan itu dalam mencetak laba.

Kita bandingkan saja dengan melihat laporan keuangan mereka di Q3 2020, di mana BRI berhasil mencetak laba sebesar Rp14,1 triliun sedangkan BRIS ‘hanya’ sebesar Rp190 miliar. Jika laba bersih per lembar saham itu dibandingkan dengan harga sahamnya, maka angkanya akan lebih mengejutkan.

Price to Earnings Ratio (PER) untuk BBRI sebesar 24x (artinya BBRI dijual seharga 24x laba bersihnya), sementara PER BRIS sudah di angka 177x. 

Itu berarti, jika laba bersih BRIS akan konstan di angka Rp190 miliar per tahun, maka dibutuhkan waktu 177 tahun untuk para investor BRIS untuk balik modal saja.

That’s unbelievably expensive!

Belum lagi jika dilihat dengan rasio lain seperti Return on Equity (ROE) dua bank ini. ROE BRIS hanya sekitar 3,9% jauh lebih rendah dari ROE BBRI yang berada di angka 12,3%. Itu artinya, setiap 1 dollar uang investor yang masuk ke BRIS, manajemen BRIS hanya bisa menghasilkan 3,9 sen sebagai laba bersih.

Baca Juga: Saham Baru Masuk MSCI: Dari MDKA Sampai BRIS

Sebuah angka yang tidak berbeda jauh dari bunga deposito saat ini.

Lagipula, membandingkan BRIS dan BBRI sudah tidak tepat karena:

  1. BBRI bukan lagi induk dari BRIS, setidaknya berdasarkan kesepakatan antara bank-bank BUMN, di mana Bank Mandiri memiliki kepemilikan terbesar berdasarkan aset Bank Syariah Mandiri yang nanti akan masuk ke BRIS.
  2. BBRI dan BRIS merupakan dua bank di kelas yang berbeda, dimana saat ini BRI berada di kategori bank buku IV sementara BRIS berada di bank buku III.

Tentu saja fakta ini tidak bisa menghentikan begitu saja kenaikan harga saham BRIS. Optimisme bahwa BRIS nanti akan menjadi bank syariah terbesar di Indonesia masih menjadi bahan bakar naiknya harga saham ini di bursa.

Tapi dengan mengetahui faktanya di atas, setidaknya kita bisa sedikit berhati-hati. 

Jangan sampai ketika nanti pestanya sudah selesai, kita yang kebagian jatah cuci piring.