Dari DCII Sampai LUCY, Bagaimana Menyikapi Saham IPO 2021?

Berkah Rio

[Waktu baca: 5 menit]

Saham-saham pendatang baru bukanlah kelompok saham yang mudah untuk dianalisis prospek masa depannya. Namun, kenaikan harganya yang sering kali begitu luar biasa sangat mudah menarik minat pelaku pasar untuk mencoba peruntungan. Siapa tahu bakal ikut ketiban untung.

Tren kenaikan harga saham yang luar biasa pada emiten-emiten pendatang baru merupakan fenomena yang makin sering ditemui di pasar modal saat ini. Hal ini terutama makin marak setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong lebih banyak perusahaan untuk go public.

Jika dulunya kebanyakan perusahaan yang masuk ke pasar modal adalah perusahaan-perusahaan skala menengah dan besar, kini makin banyak perusahaan kecil yang melakukan IPO. Umumnya, perusahaan-perusahaan ini hanya mengumpulkan dana dalam jumlah kecil dari pasar modal.

Hal ini menjadikan saham mereka lebih mudah dikendalikan, terutama ketika selama proses IPO, beberapa pihak tertentu berhasil mengumpulkan saham dalam porsi lebih banyak. Mereka dapat memainkan saham tersebut di pasar sekunder sehingga meningkat berkali-kali lipat.

Sepanjang Januari hingga Mei tahun ini, sudah ada 17 emiten pendatang baru di BEI. Dari jumlah tersebut, hanya tiga emiten yang kinerja sahamnya melemah dan satu emiten yang hanya tumbuh 1% hingga perdagangan Rabu, 2 Juni 2021.

Selebihnya, sebanyak 13 saham emiten pendatang baru mencatatkan lonjakan harga di atas 10% hingga ribuan persen. Emiten dengan kinerja tertinggi yakni PT DCI Indonesia Tbk. (DCII). Sejak IPO pada awal tahun ini, saham DCII sudah melesat 3.828,57% dari Rp420 menjadi Rp16.500.

Seiring dengan itu, kapitalisasi pasarnya juga melejit dari hanya Rp1 triliun menjadi Rp39 triliun. Bahkan, pada sesi pertama perdagangan saham hari ini, Kamis (3 Juni 2021), saham DCII sudah naik lagi 20% menjadi Rp19.800 dengan kapitalisasi pasar Rp47 triliun.

Di posisi kedua ada PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk. atau yang telah berubah nama menjadi PT Bank Aladin Syariah Tbk. Kode sahamnya adalah BANK.

Sejak IPO pada 1 Februari 2021, saham BANK sudah melejit 2.958,25%, dari harga Rp103 menjadi Rp3.150. Kapitalisasi pasarnya meningkat dari semula hanya Rp1,34 triliun menjadi Rp41,1 triliun.

Nilai kapitalisasi pasar saham DCII dan BANK ini sudah benar-benar tak wajar, mengingat asetnya masing-masing hanya Rp2,44 triliun dan Rp1,22 triliun, sedangkan modal atau ekuitasnya masing-masing hanya Rp720 miliar dan Rp1,16 triliun.

Laba bersih DCII pada setahun penuh 2020 hanya Rp183 miliar, sedangkan laba BANK pada kuartal pertama tahun ini hanya Rp1,42 miliar.

Sebagai pembanding, emiten lain dengan kapitalisasi pasar yang tidak jauh berbeda, yakni PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP) asetnya mencapai Rp27,33 triliun. Kapitalisasi pasarnya yang sebesar Rp45,92 triliun hanya mencerminkan kurang dari dua kali lipat asetnya.

INTP sudah berhasil membukukan laba hingga Rp315,3 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Selain itu, perusahaan semen ini juga telah menguasai seperempat dari total pangsa pasar semen nasional. Emiten ini sudah memiliki rekam jejak kinerja yang jauh lebih meyakinkan ketimbang BANK.

Berikut ini daftar kinerja saham emiten-emiten pendatang baru di BEI sepanjang tahun ini:

Bagaimana Menyikapi Saham IPO?

Begawan value investor pasar modal Indonesia Lo Kheng Hong memiliki prinsip kuat untuk tidak menyentuh saham IPO sama sekali, baik saat proses penawaran umum maupun setelahnya. Investor yang berpegang pada analisis fundamental ini hanya akan membeli saham emiten yang sudah jelas rekam jejaknya.

Artinya, emiten tersebut sudah cukup lama tercatat di BEI sehingga historis kinerja keuangannya bisa dilacak lebih panjang. Selain itu, dengan historis kinerja keuangan yang lebih lengkap, analisis fundamental terkait kinerja keuangan, valuasi wajar perusahaan, dan prospeknya menjadi lebih komprehensif.

Hal ini sulit dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan kecil yang baru IPO, yang bahkan baru berdiri kurang dari 10 tahun. Lagi pula saat ini sudah menjadi tren umum bahwa harga saham yang baru IPO cenderung selalu terkena auto reject atas (ARA) pada hari-hari awal perdagangan di bursa.

ARA bukanlah suatu kondisi yang wajar terjadi. Oleh karena itu, ketika saham satu emiten mengalami ARA berkali-kali, apalagi ketika tanpa ada informasi yang jelas sebagai landasan untuk menjustifikasi kenaikan tersebut, jelas itu adalah pertanda adanya aksi spekulasi terhadap saham tersebut.

Selain itu, tidak jarang kenaikan harga emiten-emiten baru tersebut hanya disebabkan oleh aksi transaksi yang terbatas, bahkan kurang dari 10 kali transaksi per hari.

Adapun, harga IPO saham pendatang baru adalah harga yang terbentuk dari hasil pengukuran terhadap valuasi wajarnya. Oleh karean itu, harga IPO sejatinya mencerminkan harga wajar perusahaan pada saat itu. Termasuk pula di dalamnya pengukuran atas valuasi dari prospek jangka panjangnya.

Nah, ketika harga saham yang baru IPO melonjak signifikan di pasar pada hari pertama perdagangannya dan bahkan pada hari-hari setelahnya, itu berarti harganya sudah jauh meninggalkan harga wajarnya.

Sebab, secara fundamental belum terjadi perubahan pada emiten tersebut dibandingkan dengan kondisinya sebelum IPO. Belum ada rilis kinerja keuangan yang baru dan belum ada informasi signifikan lain yang melegitimasi kenaikan harganya. Jadi, perkembangan harganya murni hasil spekulasi pasar.

Oleh karena itu, sulit menebak pergerakan harga saham emiten IPO ini. Volume transaksi hariannya tidak konsisten dan perubahan arah harga seketika bisa saja terjadi. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa semua saham emiten yang baru IPO bakal bernasib saham.

Misalnya saja saham LUCY dan FIMP yang harganya sudah terkikis separuh, padahal baru tercatat masing-masing pada awal Mei dan April tahun ini. Ini berbeda dengan tren saham IPO lainnya sepanjang tahun ini yang cenderung meningkat pesat.

Hal ini menyebabkan kalangan analis juga terkadang kesulitan mengukur prospek pergerakan saham mereka secara teknikal. Dengan demikian, keputusan untuk masuk ke saham-saham baru IPO ini benar-benar keputusan spekulatif.

Hanya saja, kenaikan harganya yang luar biasa dalam waktu singkat memang sangat menggoda. Sangat sulit mencari emiten lain yang sudah matang di pasar modal yang mampu memberikan kinerja serupa dalam waktu singkat.

Oleh karena itu, tidak mengherankan juga jika saham-saham pendatang baru ini banyak diburu oleh investor-investor ritel, bahkan meskipun mereka tahu tentang besarnya potensi risikonya.

Lagi pula, dari antara 16 emiten baru, hanya tiga yang kinerjanya negatif sejak IPO, sedangkan mayoritas naik pesat. Artinya, peluang keuntungan dari saham-saham IPO justru lebih besar ketimbang peluang ruginya, setidaknya dalam jangka pendek.

Di sisi lain, pasar modal juga saat ini sedang dalam tren koreksi dan baru kembali berbalik menghijau pada awal Juni ini. Tidak banyak emiten yang berkinerja positif saat ini. Oleh karena itu, adanya emiten-emiten baru yang harganya bisa naik pesat seperti menjadi oase bagi investor.

Selain itu, faktor sentimen sektoral juga tampaknya besar pengaruhnya. Dua saham yang naik paling tinggi tahun ini, yakni DCII dan BANK sangat erat berhubungan dengan euforia di sektor teknologi, yang digadang-gadang ketiban rejeki selama pandemi.

Kondisi pandemi menyebabkan kebutuhan terhadap layanan digital meningkat, sehingga jasa pusat data seperti DCII sangat dibutuhkan. Sementara itu, saham BANK terdorong oleh sentimen wacana perusahaan untuk menjadi bank syariah digital pertama di Indonesia.

Selain kedua perusahaan ini, saham-saham perusahaan lain di sektor teknologi memang umumnya meningkat, termasuk bank-bank kecil yang digadang bakal menjadi bank digital. Selain itu, sektor ini juga tersulut oleh sentimen bakal IPO-nya startup unicorn dalam waktu dekat.

Meskipun demikian, yang namanya sentimen tentu tidak pasti efeknya dan lebih didasarkan atas ekspektasi ketimbang kondisi riil. Perubahan mendadak selalu mungkin terjadi. Oleh karena itu, bagi investor ada baiknya untuk lebih mewaspadai saham-saham seperti ini, apalagi setelah harganya terlanjur sangat tinggi.

Sebab, potensi untuk turun bakal lebih besar ketimbang potensi untuk terus meningkat menembus level ketidakwajaran yang baru.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tags:

Investasi