3 Hari Melesat 47%, Ada Apa dengan Saham BRIS?

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 4 menit]

Dalam tiga hari perdagangan bursa (Jumat-Selasa, 3-7 Juli 2020), saham PT BRI Syariah Tbk. (BRIS) melesat hingga 47% dari Rp306 per lembar saham menjadi Rp452 per lembar.

Pergerakan saham BRIS ini setidaknya dipicu oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir yang menyatakan akan menggabung sejumlah bank syariah yang dimiliki oleh bank BUMN. Rencana itu diharapkan dapat terealisasi pada Februari 2021.

Dalam pernyataannya yang dikutip oleh media, Erick menyatakan rencana penggabungan bank syariah pelat merah itu karena pemerintah ingin memfasilitasi pembiayaan syariah bagi masyarakat Indonesia. Seperti diketahui, Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Pernyataan Erick itu disampaikan pada Kamis (2 Juli 2020). Sehari sesudahnya, saham BRIS menanjak sekitar 3,92% pada Jumat (3 Juli 2020). Setelah itu, pada Senin dan Selasa (6 dan 7 Juli 2020), saham BRIS melesat masing-masing hingga 24% dan 14% dalam perdagangan di hari tersebut.

Dalam 3 bulan terakhir sejak turbulensi yang menghantam pasar saham Indonesia akibat pandemi corona pada Maret 2020, saham BRIS telah melesat hingga lebih dari 130%. Persentase peningkatan itu lebih tinggi dibandingkan dengan saham induk usahanya, BBRI.

Isu Merger Bank Syariah

Pada dasarnya, isu penggabungan bank syariah milik bank BUMN tersebut bukan isu baru. Isu telah dibahas sejak zaman Menteri BUMN Dahlan Iskan lalu dilanjutkan dengan Menteri BUMN Rini Soemarno. Namun, aksi korporasi itu tak jua terealisasi. Salah satu hal yang baru dari pernyataan Erick adalah waktu eksekusi pada Februari 2021.

Selain BRI Syariah, bank syariah yang akan digabung adalah PT Bank Syariah Mandiri dan PT BNI Syariah. Satu bank pelat merah lainnya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) BTN Syariah yang belum menjadi bank umum syariah.

Dari sejumlah bank syariah pelat merah tersebut, hanya BRI Syariah yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia. BRIS melakukan IPO pada 9 Mei 2018 di era Rini Soemarno. Selain BRIS, bank syariah lain yang telah IPO antara lain bank syariah swasta PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) dan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPS).

Penggabungan bank syariah milik bank BUMN itu berpotensi memperbesar modal entitas bank yang akan terbentuk suatu saat nanti. Besarnya modal tersebut akan meningkatkan kemampuan bank untuk menyalurkan pinjamannya yang kemudian berpotensi menghasilkan pendapatan bunga di masa depan. 

Pada saat ini, bank syariah milik bank BUMN itu telah memiliki segmen khasnya masing-masing. BRI Syariah dikenal dengan pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sesuai dengan karakter bisnis induk usahanya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Sementara itu, BNI Syariah fokus pada consumer banking serta Bank Syariah Mandiri fokus pada kredit korporasi.

Apabila aset antar bank syariah pelat merah tersebut dijumlahkan secara kasar, asetnya dapat mencapai lebih dari Rp280 triliun. Sampai kuartal I/2020, aset Bank Syariah Mandiri mencapai Rp114,75 triliun, aset BNI Syariah Rp51,12 triliun dan BRI Syariah sebesar Rp42,2 triliun.

Di sisi lain, berdasarkan kinerja keuangannya, BRI Syariah juga membukukan peningkatan laba bersih hingga 150% menjadi Rp75,15 miliar pada kuartal I/2020 dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama 2019.

Isu Qanun di Aceh

Selain isu yang muncul di tingkat pemerintah pusat, salah satu isu yang relevan dengan BRI Syariah adalah isu qanun lembaga keuangan syariah (LKS) di Nanggroe Aceh Darussalam. Mirip seperti isu merger, isu qanun ini sebenarnya sudah dibahas di tingkat daerah sejak beberapa tahun lalu.

Salah satu implikasi dari penerapan qanun LKS adalah konversi simpanan dan pembiayaan dari bank konvensional ke bank syariah. BRI Syariah memperkirakan konversi itu selesai pada 2020.

Dengan konversi tersebut, BRI Syariah berpotensi mendapatkan "limpahan" simpanan dan pembiayaan dari induk usahanya, BRI. Dalam pernyataan manajemen BRI Syariah di media, nilai konversi tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp20 triliun.

Pada saat ini, BRI Syariah memiliki jaringan berupa 13 kantor cabang, 16 kantor cabang pembantu dan 141 layanan syariah bank umum (LSBU) yang ada di kantor unit BRI di Aceh.

 

 

Apabila Anda berencana untuk berinvestasi saham, Big Alpha telah menyusun sebuah e-book kuartalan yang berisi 15 saham pilihan. Klik di sini untuk melakukan pemesanan.

Investasi