Perihal Harga Batu Bara yang Berterbangan, Lalu Harus Bagaimana?

Tirta Prayudha

Beberapa waktu lalu, kami sempat membahas mengenai commodity supercycle. Sebuah fenomena kenaikan harga komoditas yang signifikan dan berlangsung dengan rentang yang panjang. Sebenarnya, gejala kenaikan pada sejumlah komoditas sempat kami bahas saat menerbitkan e-book kuartal tahun lalu, termasuk emiten industri batu bara. 

Menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia selain CPO dan nikel, batu bara memang sedang harum dan seolah menjadi harta paling berharga imbas kenaikan harganya yang luar biasa. Setidaknya dalam sepekan terakhir, harga batu bara naik 25,97% secara point-to-point. Jika melirik pada performa year-to-date, harga si batu hitam melejit 183,23%.  

Karena pergerakannya yang membuat banyak orang menaruh perhatian pada sang emas hitam. Hiruk pikuk tentang bank digital sudah mulai mereda dan kini semua orang mulai membahas emiten batu bara.  

Kegaduhan dan betapa riuh rendahnya pendapat banyak orang tentang batu bara memang sesuatu yang wajar terjadi. Akan tetapi, menarik untuk melihat apakah suara-suara yang saat ini bermunculan adalah penilaian yang objektif atau tidak.  

Jika beberapa bulan lalu challenge-nya adalah tetap fokus di tengah pesimisme sektor ini, maka sekarang berubah menjadi challenge yang baru, yakni tetap fokus di antara euforia yang baru akan terjadi.

 

Lalu, kita harus bagaimana?

Kenaikan harga acuan batu bara yang sangat signifikan selama beberapa bulan ke belakang sebenarnya di luar dugaan semua orang. Saat tulisan ini dimuat, harga Newcastle Coal sudah mendekati $250 per ton.

Akan lebih baik sebenarnya jika harga acuan berada di level yang cukup tinggi tetapi stabil selama beberapa bulan. ketimbang naik memecahkan rekor dalam setiap harinya.

Harga batu bara yang sangat tinggi ini akan berdampak buruk bagi banyak industri, karena batu bara merupakan bahan baku atau sumber energi dari banyak industri manufaktur. Kita bisa lihat bagaimana harga batu bara yang melonjak drastis mengakibatkan krisis energi di China sehingga mengakibatkan pemadaman listrik di negara Tirai Bambu tersebut. 

Jika hal ini terus berlangsung, kuat dugaan kalau efek domino dari kenaikan batu bara bakal memicu banyak permasalahan. Yang paling mungkin terjadi dalam waktu dekat adalah bottleneck dalam proses produksi dan supply chain global. Apalagi, mayoritas penggunaan batu bara di China adalah untuk power generation di sektor industri.

Andai hal ini berlangsung dalam tempo yang cukup panjang, sudah pasti akan ada intervensi dari pemerintah Cina (atau negara manapun) yang tidak akan membiarkan ekonominya menjadi korban. Bentuk intervensi itu lah yang saat ini kita tidak tau akan seperti apa.

Faktor kedua adalah nature dari siklus komoditas itu sendiri.

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa ‘the cure of low commodity price is low commodity price’.

Ketika sebuah harga komoditas berada dalam level yang rendah, maka para produsen akan berhenti atau mengurangi proses eksplorasi. Dengan berhentinya proses eksplorasi, maka cadangan (supply) akan berkurang. Dan ketika supply berkurang, maka harga akan naik.

Ini lah sebenarnya yang terjadi di sektor batu bara, di mana harga yang rendah dalam 2-3 tahun ke belakang, tidak memberikan insentif bagi para produser untuk menggali lebih banyak cadangannya.

Ditambah dengan bergulir kembalinya roda ekonomi pasca covid, menjadikan situasi semakin parah. Demand yang tinggi bertemu dengan supply yang rendah. Sebuah resep jitu bagi naiknya harga batu bara yang kami pernah bahas di sini.

Sekarang situasinya berbalik.

Harga komoditas yang tinggi akan menjadi insentif untuk para produsen agar mengeruk lebih banyak batu bara. Apalagi demand sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Terbukti dari beberapa raja produsen batu bara di Indonesia yang sudah mengajukan revisi RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Belanja) mereka tahun ini ke Pemerintah.

Tujuannya,  agar mereka diberikan izin untuk menggali lebih banyak batu bara dari perut bumi.

Dengan demikian supply akan bertambah dan harga akan mulai kembali melandai. Begitulah hukum besi business cycle dari perusahaan-perusahaan komoditas.

Dengan demikian, harga batu bara di level yang sangat tinggi seperti sekarang tidak akan berlangsung lama.

 

Lalu, kalau sudah pegang sahamnya sudah bisa jualan, dong? 

Tunggu dulu, Ferguso.

Saat ini para produsen batu bara tengah sibuk menghitung cuan mereka dari hasil jualan selama periode kuartal tiga tahun 2021. Laporan keuangan Q3 sendiri baru mulai akan rilis akhir bulan Oktober ini. Beberapa mungkin akan sedikit terlambat dan baru akan keluar di akhir November.

Dan pada saat itu lah kita baru bisa melihat kinerja sesungguhnya dari para emiten batu bara, karena yang terjadi saat ini hanya sekadar sentimen kenaikan harga semata.

Dari situ, kita bisa memperkirakan besaran dividen yang akan mereka bagikan. Apalagi ada beberapa emiten batu bara yang memang rajin membagikan dividen interim akhir tahun.

Perlu diingat, harga jual acuan di kuartal tiga rata-rata berada di level $150-$170 per ton. Sementara di bulan pertama kuartal empat, harga jual acuan sudah mendekati $250 per ton.

Jika tren ini berlanjut setidaknya sampai Desember (yang sebenarnya sangat mungkin terjadi mengingat belahan bumi utara mengalami musim dingin. Pemerintah negara manapun tidak akan membiarkan rakyatnya mati kedinginan), maka kinerja keuangan emiten-emiten batu bara di Q4 mungkin akan lebih baik daripada di Q3.

Dan laporan keuangan (audited) mereka baru akan bermunculan di bulan Maret 2022.

Jadi, jika memang ada saham-saham batu bara di dalam portfolio, maka kita masih memiliki beberapa bulan untuk menikmati kenaikan harga sahamnya. Jika floating loss saja bisa ditahan selama beberapa bulan, kenapa sulit untuk menahan floating profit untuk periode yang sama?

Jadi, santai saja.

NCF1! Chart by TradingView

Bisnis