Commodity Super Cycle, Apa Itu?

Tirta Prayudha

Beberapa minggu ke belakang, beberapa media mulai mengangkat frasa Commodity Super Cycle. Sebenarnya apa fenomena Commodity Super Cycle ini?

Dan apakah benar kita sedang menuju ke sana?

Perlu dipahami bahwa harga komoditas bergerak dalam sebuah siklus, naik dan turun. Overproduction, kelangkaan supply, perang antar negara dan faktor-faktor lain bisa mempengaruhi naik turunnya harga-harga komoditas ini.

Secara sederhana, Commodity Super Cycle adalah fase panjang di mana harga-harga komoditas melonjak tinggi. Penyebabnya bisa dari dua sisi, melonjaknya demand terhadap komoditas tersebut ataupun kelangkaan dari sisi supply.

Selama dua ratus tahun terakhir, sudah terjadi beberapa kali fase commodity super cycle di dunia.

Industrialisasi Amerika Serikat di abad 19 dan rekonstruksi negara-negara Eropa & Jepang setelah perang dunia kedua, adalah dua contoh utama fase bullish komoditas yang pernah terjadi.

Maklum saja, setelah perang dunia kedua selesai, mayoritas negara-negara Eropa dan Jepang berbenah dan memperbaiki kondisi negara mereka yang hancur lebur karena perang.

Terakhir kali commodity super cycle terjadi, adalah di awal tahun 2000an di mana pada waktu itu China mulai bangkit sebagai superpower ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi China yang sangat pesat, bahkan menyentuh pertumbuhan double digit selama lima tahun berturut-turut, meningkatkan demand terhadap komoditas-komoditas utama dunia.

Pada waktu itu, pabrik-pabrik di China ‘sangat lapar’ akan barang mentah yang pada akhirnya meningkatkan permintaan akan komoditas dan mengerek harga jual. Pola yang sama mulai merambat ke negara-negara lain seperti Brazil, India dan Russia. Tapi terjadinya krisis ekonomi global di 2008-2009 menghancurkan tren tersebut dan menyisakan China sebagai satu-satunya negara yang ekonominya terus bertumbuh dengan pesat.

Akhirnya selama satu dekade terakhir, harga-harga komoditas pun melandai dan orang mulai melupakan fenomena ini.

Hingga akhirnya, pandemi covid-19 terjadi.

Salah satu investment bank yang meramalkan akan terjadinya commodity super cycle kali ini adalah Goldman Sachs.

Goldman berpendapat bahwa proses recovery covid-19 akan menitikberatkan pada industri ramah lingkungan, yang bisa dilihat dari komitmen China untuk meraih status carbon neutral di tahun 2060 dan masuknya kembali Amerika Serikat ke pakta Paris Agreement di bawah pemerintahan Biden.

Turunan dari kebijakan ini adalah meningkatnya teknologi ramah lingkungan seperti solar panel, wind turbine, baterai, dan mobil listrik. Beberapa teknologi tersebut berpotensi mengubah cara hidup manusia dan membutuhkan barang mentah dalam jumlah yang besar.

Ibarat sebuah mesin yang di re-start, pemulihan ekonomi dunia pasca covid-19 diprediksi membutuhkan banyak sekali supply komoditas pertambangan.

Secara jangka pendek, pandemi covid-19 akan bersifat memicu deflasi, di mana orang-orang akan lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Lockdown dan pembatasan aktivitas publik semakin mempersulit masyarakat untuk berbelanja. Tapi secara jangka panjang, meningkatnya supply uang akibat stimulus yang digelontorkan hampir semua negara di dunia, diperkirakan akan bersifat inflationary.

Baca Juga: Masa Depan PTBA dengan Gasifikasi Batubara

Supply uang itu pada akhirnya akan beredar, meningkatkan konsumsi dan daya beli masyarakat serta memicu inflasi.

Goldman berpendapat, commodity super cycle kali ini berpotensi menyamai fase yang sama di awal tahun 2000an yang lalu.

Lalu apakah ramalan Goldman akan terwujud?

Well, harga beberapa komoditas tambang memang sudah naik gila-gilaan selama beberapa bulan terakhir. Lihat saja harga nikel yang sudah mencapai harga tertingginya selama lima tahun terakhir.

Kenaikan nikel ini memicu melonjaknya saham-saham nikel yang ada di bursa seperti ANTM, HRUM dan INCO.

Tren yang sama juga terjadi di tembaga dan timah.

Begitu juga dengan dua komoditas unggulan Indonesia (CPO dan batubara) yang juga dalam tren menanjak beberapa bulan terakhir.

Sejauh ini memang sudah terjadi peningkatan harga beberapa komoditas dalam satu tahun terakhir.

Yang menjadi masalah, tidak ada yang tau apakah tren ini akan berlanjut dalam jangka waktu panjang hingga benar-benar terjadi nantinya. Semua analisis yang dilakukan sekarang juga masih berupa proyeksi. Terakhir kali fenomena ini terjadi, banyak perusahaan pertambangan juga tidak siap.

Berbicara pada sebuah event di tahun 2016, mantan Head BHP Billiton Andrew Mackenzie menyatakan bahwa industri pertambangan dunia sebenarnya tidak siap dalam menyambut supercycle yang terjadi pada awal tahun 2000an.

 “Many (including BHP Billiton) were unprepared for what has been the greatest commodities boom of our time.”

Goldman pun sekarang masih menjadi minoritas di mana mereka menjadi sedikit dari investment bank yang meramalkan hal ini.

Haruskah saya membeli saham-saham komoditas?

Jawabannya tergantung.

Karena karakter pasar modal yang bersifat forward looking, harga saham-saham berbasis komoditas sudah melonjak tinggi merespon naiknya harga jual barang produksi mereka. Sifat mereka sebagai price taker selalu berkorelasi positif dengan naiknya harga jual komoditas yang mereka hasilkan.

Dalam setahun terakhir, saham timah yang ada di bursa (TINS) sudah naik 194%, INCO naik 85%, ANTM sudah naik 287%, dan HRUM melonjak 394%.

Baca Juga: Harum Energy (HRUM), Perusahaan Yang Sedang Mengubah Diri

Dan apabila commodity super cycle benar-benar terjadi dalam dekade ini, harga saham-saham komoditas tersebut akan terus naik, dan mengambil alih panggung utama di perdagangan bursa seperti yang terjadi dalam beberapa tahun yang lalu.

Untuk mengurangi risiko, yang sebaiknya bisa kita lakukan adalah membedah laporan keuangan perusahaan-perusahaan komoditas ini untuk menentukan emiten mana yang sebenarnya memiliki kondisi fundamental yang kuat dan potensi bertumbuh yang lebih kencang dibandingkan pesaingnya. Syukur-syukur bisa menemukan saham yang harganya belum terlalu naik banyak dan dengan valuasi yang cukup murah.

Karena jika kita hanya mengandalkan kenaikan harga jual, sifatnya hanya akan bersifat spekulasi.

Jadi, siapkah kamu membeli saham komoditas?

Tags:

Ekonomi