Mengenal Angkasa Pura, Pengelola Bandara di Indonesia

Date:

[Waktu baca: 5 menit]

Kalau kamu sudah pernah bepergian dengan pesawat terbang, tentu tidak asing dengan megahnya berbagai bandar udara (bandara) di kota-kota besar di Indonesia. Contohnya, Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang, Yogyakarta International Airport di Kulon Progo, atau Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo.

Bandara-bandara megah itu dikelola oleh perusahaan pelat merah atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ada dua BUMN yang bertugas mengelola bandara di Indonesia, yakni Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II. Nah, dua perusahaan ini awalnya merupakan satu entitas yang sama, berupa satu perusahaan bernama Angkasa Pura. 

Lantas seperti apa sejarah Angkasa Pura di Indonesia? Big Alpha merangkumnya untuk kamu. 

1. Berawal dari Keinginan Bung Karno

Pendirian Angkasa Pura berawal dari keinginan presiden pertama RI, Soekarno, agar Indonesia punya bandara-bandara dengan standar dunia. Keinginan Bung Karno untuk muncul sepulangnya dari Amerika Serikat. Bung Karno ingin Indonesia juga memiliki lapangan terbang dengan kualitas tak kalah dengan negara maju. 

Kemudian pada 1962, Presiden Soekarno menerbitkan PP Nomor 33 tentang Pendirian Perusahaan Negara (PN) Angkasa Pura Kemayoran. Perusahaan ini bertugas mengelola dan mengembangkan Pelabuhan Udara Kemayoran di Jakarta. Saat itu, Kemayoran menjadi satu-satunya bandara di Indonesia yang melayani penerbangan internasional. 

2. Resmi Ambil Alih Aset Bandara Kemayoran

Dikutip dari situs resmi Angkasa Pura I, pada 20 Februari 1964 PN Angkasa Pura Kemayoran secara resmi mengambil alih seluruh aset dan operasional Pelabuhan Udara Kemayoran dari pemerintah. Tanggal itulah yang dijadikan sebagai hari lahir Angkasa Pura I sampai saat ini. 

3. Mulai Mengelola Bandara Selain Kemayoran

Pada 17 Mei 1965, pemerintah mengubah nama PN Angkasa Pura Kemayoran menjadi PN Angkasa Pura. Perubahan nama ini dilakukan untuk mengantisipasi pengembangan bisnis perusahaan dengan mengelola bandara lain di Indonesia. 

Hal ini pun terwujud. Secara bertahap, PN Angkasa Pura mengelola berbagai bandara lain di kota-kota besar. Misalnya, Pelabuhan Udara Ngurah Rai di Denpasar, Pelabuhan Udara Halim Perdanakusumah di Jakarta, Pelabuhan Udara Polonia di Medan, Pelabuhan Udara Juanda di Surabaya, Pelabuhan Udara Sepinggan di Balikpapan, dan Pelabuhan Udara Hasanuddin di Ujung Pandang (Makassar). 

Lantas pada 1974, status hukum PN Angkasa Pura berubah menjadi perusahaan umum atau perum. 

4. Terbagi Menjadi Angkasa Pura I dan II

Berkembangnya pengelolaan bandara oleh Angksa Pura membuat pemerintah memutuskan 'memecah' fokus bisnisnya. Melalui PP 25 tahun 1986, Perum Angkasa Pura diubah menjadi Perum Angkasa Pura I. Sementara Perum Angkasa Pura II dibentuk  secara khusus untuk mengelola Bandara Soekarno-Hatta, yang baru saja pindah lokasi dari Bandara Kemayoran. 

Seiring berjalannya waktu, pembagian tugas pun semakin berkembang. Perum Angkasa Pura I bertugas mengelola bandara di wilayah timur Indonesia. Sementara Perum Angkasa Pura II mengelola bandara di wilayah barat Indonesia. 

5. Daftar Bandara yang Dikelola AP I dan II

Angkasa Pura I mengelola 15 bandara di Indonesia, antara lain:

  • Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar
  • Bandara Juanda, Surabaya
  • Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar
  • Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan
  • Bandara Frans Kaisiepo, Biak
  • Bandara Sam Ratulangi, Manado
  • Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin
  • Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang
  • Bandara Adisutjipto, Yogyakarta
  • Bandara Adi Sumarmo, Solo
  • Bandara Internasional Lombok, Lombok Tengah
  • Bandara Pattimura, Ambon
  • Bandara El Tari, Kupang
  • Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo
  • Bandara Sentani, Jayapura

Angkasa Pura II mengelola 19 bandara di Indonesia, antara lain:

  • Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta
  • Bandara Kualanamu, Medan
  • Bandara Supadio, Pontianak
  • Bandara Minangkabau, Padang
  • Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang
  • Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru
  • Bandara Husein Sastranegara, Bandung
  • Bandara Sultan Iskandarmuda, Aceh
  • Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang
  • Bandara Sultan Thaha, Jambi
  • Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang
  • Bandara Silangit, Tapanuli Utara
  • Bandara Kertajati, Majalengka
  • Bandara Banyuwangi, Banyuwangi
  • Bandara Tjilik Riwut, Palangkarang
  • Bandara Raden Inten II, Lampung
  • Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan
  • Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu

Belum IPO Saham

Sebagai perusahaan pengelola bandar udara di seluruh Indonesia yang terus berkembang, Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II kerap memanfaatkan pasar modal sebagai salah satu sumber pendanaannya.

Salah satu pemanfaatan pasar modal itu adalah dengan menerbitkan surat utang atau obligasi. Kedua perusahaan itu beberapa kali pernah menerbitkan obligasi untuk mendapatkan sumber pendanaan baru.

Kendati demikian, sama seperti berbagai BUMN besar lainnya, Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II belum melakukan IPO atau penawaran umum perdana saham. Mengapa banyak BUMN termasuk Angkasa Pura ini tidak melakukan IPO? Hal apa yang menghambat? 

Simak ulasan mengenai IPO BUMN dalam artikel ini: Mengapa BUMN Sulit IPO untuk mendapatkan jawabannya.


 

Tags: