Investasi

Kiprah Yusuf Mansur Dalam Investasi Saham

[Waktu baca: 4 menit]

Sudah sejak lama Yusuf Mansur dikenal sebagai seorang ustad atau pendidik agama Islam. Dia sering berdakwah, di masjid, televisi, media sosial atau media lain.

Tapi, Yusuf Mansur berbeda dari ustad kebanyakan.

Pria kelahiran 19 Desember 1976 itu mempraktikkan dan sering membahas investasi di pasar modal, termasuk saham dan reksadana. Investasi pasar modal adalah topik yang jarang dibahas oleh ustad-ustad lain.

Yusuf Mansur adalah pemilik PayTren Aset Manajemen, manajer investasi syariah pertama di Indonesia, yang telah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

PayTren memiliki produk reksadana pasar uang bernama PAM Syariah Likuid Dana Safa. Dua produk reksadana Paytren lainnya, M Syariah Saham Dana Falah (RDS FALAH) dan PAM Syariah Campuran Dana Daqu (RDS DAQU), telah dilikuidasi.

Lewat PayTren pula, Yusuf Mansur membeli saham IPO BRI Syariah (BRIS) pada Mei 2018. Harga IPO BRIS sebesar Rp510. 

Selain lewat PayTren, Yusuf Mansur kabarnya membeli saham BRIS secara individu dan melalui Koperasi Indonesia Berjamaah (Kopindo). 

Apa hasil dari investasi itu?

Kurang dari tiga tahun, saham BRIS melesat hingga mencapai level tertinggi Rp1.690 per lembar atau terbang lebih dari 230%! Saham BRIS terbang sedikit banyak dipengaruhi oleh sentimen penggabungan bank-bank syariah milik bank BUMN. BRIS, satu-satunya bank syariah BUMN yang telah listing, menjadi surviving entity pasca-merger terebut. Kabarnya Yusuf Mansur sudah menjual sebagian saham BRIS untuk "balik modal".

Yusuf Mansur hanya beli BRIS? Tidak.

Melalui PayTren, Yusuf Mansur juga membeli saham media Tempo Inti Media (TMPO) yang mengelola media-media dengan merk Tempo pada 2018. Nilai pembelian itu sekitar Rp27,3 miliar atau setara 5% saham TMPO.

Pembelian itu dilakukan sebagai bagian "pengembangan bisnis Tempo.co". Dengan pembelian itu, PayTren akan bekerjasama dengan Tempo.co yang memiliki 34 juta pembaca per bulan.

Setelah saham bank dan media, Yusuf Mansur juga merekomendasikan saham lain: saham Garuda Indonesia (GIAA) dan saham infrastruktur.

Lewat akun Instagramnya  pada Sabtu 7 November 2020, Yusuf Mansur mengajak para pengikut di media sosialnya untuk "membantu" GIAA yang sedang kesulitan dengan membeli sahamnya. 

Menurutnya, utang dan kerugian GIAA bisa ditutupi dengan mudah asalkan masyarakat mau berduyun-duyun menjadi pemegang saham baru GIAA. 

Entah ada hubungannya atau tidak, setelah Yusuf Mansur membahas GIAA pada akhir pekan tersebut, saham GIAA terbang 6,61% pada Senin, 9 November dan 16,28% pada Selasa, 10 November 2020.

Sepekan kemudian, Yusuf Mansur kembali menyatakan perhatiannya ke saham, kali ini sektor infrastruktur, khususnya jalan tol pada Senin, 16 November 2020.

Lagi-lagi, entah ada hubungannya atau tidak, saham sektor infrastruktur dan  konstruksi seperti Jasa Marga (JSMR), Nusantara Infrastructure (META), Waskita Karya (WSKT), PP (PTPP) dan sebagainya terkerek.

Banyak pihak yang kemudian menjuluki pernyataan Yusuf Mansur sebagai "Mansurmology" atau "Mansureffect". Apapun julukan baginya, yang pasti Yusuf Mansur tidak seperti ustad kebanyakan.

 
 

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login