Prospek IPO BRI Syariah

Date:


Beberapa waktu yang lalu, PT Bank BRI Syariah melakukan pemaparan publik (public expose) terhadap rencana mereka untuk listing di bursa Indonesia. Hal ini tentu menjadi sentimen positif untuk investor pasar modal Indonesia. Dengan semakin banyak perusahaan yang berencana listing, maka kapitalisasi pasar IDX juga akan semakin membesar. Dan diharapkan, perdagangan akan semakin likuid.

IPO (initial public offering) BRI Syariah tentu menjadi sangat menarik melihat nama besar induk mereka yakni Bank BRI (BBRI) yang sudah menjadi idaman banyak manajemen investor kelas kakap. Reputasi Bank BRI sebagai saham bluechip seolah menjadi jaminan kualitas anak perusahaannya : Bank BRI Syariah.

IPO BRI Syariah juga diharapkan bisa menjadi magnet untuk orang-orang yang memburu saham-saham syariah di bursa efek Indonesia.

Lalu bagaimana prospeknya?

Sebelum kita bedah lebih jauh laporan keuangannya, mari kita lihat proses IPO nya sendiri.

Berdasarkan prospektus yang sudah dirilis BRI Syariah (dari sini kita singkat BRIS saja), perseroan menyatakan akan akan melepas 2,62 miliar saham ke publik dengan skema inital public offering ( IPO) dengan nilai nominal Rp 500 per saham. Tapi rencananya, saham BRIS akan dilepas di kisaran harga Rp505-Rp605 per lembar sahamnya.

Adapun jumlah itu mewakili sekitar 27 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah penawaran umum perdana saham.

Setelah IPO, induk perusahaan (Bank BRI) akan berkurang kepemilikannya menjadi 72.99 persen dari sebelumnya 99.99 persen. Dan perseroan berniat mengalokasikan sebesar-besarnya 2.5% dari jumlah saham sebagai employee stock allocation (ESA). Suatu program yang ingin mengalokasikan sebagian saham perusahaan sebagai bonus bagi pegawainya.

Dampak dari penjelasan jumlah saham ini berarti nantinya pergerakan saham BRIS diharapkan akan cukup likuid, mengingat porsi saham yang dilepas ke publik cukup banyak.

Dana dari proses IPO ini direncanakan

80% akan disalurkan sebagai penyaluran pembiayaan.

5% akan digunakan untuk mengembangkan sistem teknologi informasi yang meliputi core banking system, electronic channel, infrastruktur jaringan, support system, digital banking dan big data.

Sementara 7.5% sisanya akan digunakan untuk pengembangan jaringan kantor dengan membuka kantor cabang di berbagai wilayah.

Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan niat IPO BRI Syariah ini cukup baik dengan intensi utama sebagai proses pengembangan bisnis perusahaan, bukan untuk membayar hutang.

Adapun, perkiraan masa penawaran umum yakni 2 Mei hingga 4 Mei 2018. Di tahun ini, BRI Syariah menargetkan pertumbuhan 10-14% yang didorong oleh pembiayaan infrastruktur dan sektor konsumen.  Sebagai contoh, tahun lalu BRI Syariah telah menyalurkan pembiayaan sektor infrastruktur sekitar Rp1 triliun. Sebagian di antaranya disalurkan kepada PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) untuk pembangunan jalan tol.

Lalu mari kita beralih ke Laporan Keuangannya.

Kita lihat langsung laporan laba ruginya.

Di 2017 laba usaha BRIS sebesar Rp139 milyar atau turun jauh dari Rp239 milyar di tahun 2016. Hal ini mayoritas terjadi akibat peningkatan beban cadangan kerugian sebesar Rp453 miliar di 2017.

Hal ini mengakibatkan laba dasar per saham (earning per share – EPS) susut menjadi Rp25.54 per lembar saham.

IPO BRIS nanti direncanakan akan dilepas dengan harga Rp505-650 per lembar sahamnya. Jika benar demikian maka price per earning ratio (PER) BRIS nanti akan berkisar 20-25x. Alias mahal banget!

Induknya saja (BBRI), dengan reputasi lebih hebat, kinerja yang lebih mengkilap dan laba yang lebih jumbo, di harga Rp3480 per penutupan perdagangan hari Jumat kemarin (6 April 2018) diperdagangkan dengan P/E ratio 14.7x.

Padahal, BRI Syariah berada dalam kelas yang berbeda dengan induknya Bank BRI. Bank BRI sudah masuk di kelas bank BUKU IV. Dimana, bank BUKU IV adalah bank dengan modal inti di atas Rp 30 triliun.

Sedangkan BRI Syariah masih berniat naik kelas Bank BUKU III, masih ingin naik kelas  yang sama dengan Bank Jabar (BJBR) dan Bank Jatim (BJTM). Untuk menjadi BUKU III saja, BRI Syariah harus memiliki modal inti minimal Rp5 triliun.

Melihat ratio ini saja, kami tidak tertarik untuk membahas IPO BRI Syariah lebih lanjut. Dengan harga segitu, masih ada banyak saham lain yang lebih ‘murah’ termasuk induknya sendiri yakni Bank BRI.

Tapi seperti biasa, di hari-hari pertama perdagangan, saham IPO biasanya akan melejit lalu kemudian stabil atau turun ke posisi wajarnya.

Jadi untuk anda pemburu saham syariah, sepertinya harus bersabar untuk menunggu momentum yang tepat untuk masuk atau berharap kinerja BRI Syariah akan membaik ke depannya.

Hingga saat itu, harga IPO BRI Syariah masih kami anggap premium alias kemahalan.