Merger, Bank Syariah BUMN Jadi Seberapa Besar?

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 5 menit]

Sejumlah bank syariah milik bank BUMN dikabarkan akan digabungkan (merger). Bank itu antara lain PT BRI Syariah Tbk., PT Bank Syariah Mandiri dan PT BNI Syariah. Sesuai namanya, bank itu adalah anak usaha dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Bank BUMN lainnya yaitu PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. memiliki unit usaha syariah (UUS) BTN Syariah yang sampai saat ini belum dilepas dari induk usahanya (spin off) menjadi entitas anak yang terpisah.

Wacana penggabungan bank syariah itu telah muncul sejak masa kepempimpinan Menteri BUMN Dahlan Iskan, dilanjutkan Rini Soemarno lalu kini Erick Thohir. Dalam pernyataan sebelumnya, Kementerian BUMN menargetkan merger (penggabungan) ini bisa selesai 2021.

Dalam penggabungan ini, BRI Syariah akan menjadi surviving entity atau entitas yang masih dipertahankan. BRIsyariah telah menandatangani perjanjian penggabungan bersyarat (Conditional Merger Agreement) terkait penggabungan tiga bank syariah anak BUMN, bersama BNI Syariah,dan  Bank Syariah Mandiri.

Penggabungan entitas bank syariah itu akan membuat BUMN memiliki sebuah bank syariah berukuran besar yang menguasai hampir separuh aset bank syariah di Indonesia. Berikut ini aset bank syariah milik bank BUMN tersebut:

Dari tabel di atas diketahui bahwa Bank Syariah Mandiri memiliki aset paling besar (Rp114,4 triliun) serta laba paling besar (Rp719 miliar). Sementara itu, BTN Syariah yang belum menjadi perseroan terbatas itu yang memiliki aset dan laba terkecil.

Apabila dijumlah dengan perhitungan sederhana tanpa menyertakan UUS BTN Syariah maka aset BRI Syariah, BNI Syariah dan Mandiri Syariah setelah digabungkan menjadi sekitar Rp214 triliun. Sementara itu, apabila ditambah aset UUS BTN Syariah maka aset empat entitas bank syariah akan memiliki aset Rp245,85 triliun. 

Berdasarkan data Statistik Perbankan Syariah per Juni 2020 yang dirilis OJK, aset bank umum syariah mencapai Rp356 triliun dan aset unit usaha syariah Rp175 triliun. Dengan kata lain, aset tiga bank syariah BUMN tanpa UUS BTN Syariah mencapai sekitar 60% dari aset bank syariah Indonesia.

Apabila menyertakan penghitungan UUS maka aset empat entitas bank syariah BUMN itu mencapai 46% dari total aset bank syariah dan UUS. Dengan kata lain, bank hasil penggabungan ini akan menjadi salah satu pemain terbesar di industri pembiayaah syariah di Indonesia.

Saham BRIS

Dari empat entitas itu, baru satu bank yaitu BRI Syariah yang tercatat sebagai perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BRIS.  BRIS melakukan IPO pada 9 Mei 2018Wacana penggabungan ini menimbulkan reaksi dari para investor saham terhadap saham BRIS.

Selama 6 bulan terakhir hingga Selasa, 13 Oktober 2020, saham BRIS telah melesat sekitar 495% hingga tembus di level Rp1.000. Sejak awal 2020, saham ini telah melesat 239%. Pergerakan harga yang fantastis itu turut dipengaruhi oleh rencana penggabungan bank syariah BUMN dimana BRIS adalah salah satu bank yang terlibat. 

Sebagai informasi tambahan, BRIS adalah salah satu saham anak usaha BUMN yang harganya kini di atas harga IPO sebesar Rp510. Sebanyak 10 saham anak usaha BUMN lainnya, harganya berada di bawah harga IPO.

Aksi korporasi seperti merger atau akuisisi biasanya berdampak terhadap saham sebuah perusahaan. Para investor dapat bereaksi positif atau negatif terhadap rencana aksi korporasi tersebut. Aksi merger bank syariah BUMN kali ini ini disambut dengan reaksi positif oleh para investor. 

Penggabungan bank syariah milik bank BUMN itu berpotensi memperbesar modal entitas bank yang akan terbentuk suatu saat nanti. Besarnya modal tersebut akan meningkatkan kemampuan bank untuk menyalurkan pinjamannya yang kemudian berpotensi menghasilkan pendapatan bunga di masa depan. 

Pada saat ini, bank syariah milik bank BUMN itu telah memiliki segmen khasnya masing-masing. BRI Syariah dikenal dengan pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sesuai dengan karakter bisnis induk usahanya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Sementara itu, BNI Syariah fokus pada consumer banking serta Bank Syariah Mandiri fokus pada kredit korporasi.

Potensi bank syariah di Indonesia dianggap cukup besar mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Kendati demikian, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Pada saat ini, pangsa keuangan syariah masih relatif rendah. Berdasarkan data regulator, pangsa pasar bank syariah masih kurang dari 10%.

Di tingkat lokal seperti Aceh, isu qanun lembaga keuangan syariah (LKS) diperkirakan dapat kian memperbesar bank syariah karena adanya konversi simpanan dan pembiayaan dari bank konvensional ke bank syariah. 

 

Personal Finance