Ditopang Stimulus, Penjualan Mobil Belum Pulih Kuartal I/2021

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 4 menit]

Penjualan mobil secara wholesale (penjualan sampai tingkat dealer) mencapai 187.021 unit pada kuartal I/2021 atau turun 21,05 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020.

Kendati demikian, berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada Rabu, 5 Mei 2021, penjualan mobil pada kuartal I/2021 tersebut meningkat 16,63 persen dibandingkan dengan kuartal IV/2020.

Di sisi lain, produksi mobil mencapai 255.312 unit pada kuartal I/2021 atau naik sebesar 23,36 persen dibandingkan dengan kuartal IV/2020. Namun, produksi itu masih turun 22,16 persen dibandingkan dengan kuartal I/2020.

Menurut data BPS, perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya masih mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,46 persen karena penurunan penjualan mobil dan motor. Namun, penurunan itu tidak sebesar penurunan pada kuartal IV/2020 yang mencapai 9,71 persen.

Selain mobil, penjualan sepeda motor secara wholesale mencapai 1,29 juta unit pada kuartal I/2021 atau turun 17,61 persen dibandingkan dengan kuartal I/2020. Perdagangan mobil dan sepeda motor masuk ke dalam kategori Perdagangan dalam penghitungan PDB menurut lapangan usaha.

Data penjualan mobil di atas menunjukkan bahwa penjualan mobil belum pulih seperti situasi sebelum pandemi. Berbagai stimulus yang diluncurkan oleh pemerintah pada  Maret 2021 juga belum berdampak signifikan.

Seperti diketahui, pemerintah merelaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) kendaraan roda empat. Dengan kebijakan itu, PPnBM tersebut ditanggung pemerintah. Pemerintah menanggung 100 persen tarif pada Maret-Mei 2021, 50 persen pada Juni-Agustus 2021, dan 25 persen pada September-November 2021.

Relaksasi PPnBM ini berlaku untuk mobil penumpang 4x2, sedan berkubikasi mesin kurang dari 1.500 cc, dengan kandungan lokal 70 persen. Insentif ini pun akan dievaluasi kembali setiap 3 bulan. Dengan kebijakan ini, diharapkan harga kendaraan bermotor menjadi lebih murah dan kemampuan masyarakat untuk membeli kendaraan pun menjadi lebih tinggi.

Di samping itu, Bank Indonesia juga merilis kebijakan uang muka kredit/pembiayaan untuk pembelian mobil baru sebesar 0 persen. Kebijakan itu juga diharapkan dapat mendongkrak pembelian mobil. Namun, efek dari berbagai stimulus itu masih terbatas pada saat ini.

Salah satu perusahaan di Indonesia yang memiliki bisnis utama otomotif adalah Astra International (ASII). Mobil sebagai bagian dari produk otomotif merupakan salah satu bisnis andalan Astra International. Pada tiga bulan pertama 2021, penjualan mobil Astra turun 24 persen dan penjualan sepeda motor turun 17 persen.

Pada kuartal I/2021, laba bersih yang diatribusikan lini bisnis otomotif ke laba Astra turun 26 persen menjadi Rp1,4 triliun dibandingkan dengan Rp1,93 triliun pada kuartal I/2020. Bagaimana prospek bisnis otomotif di Astra di masa mendatang? Apakah Astra akan terus mengandalkan bisnis otomotif ini?Simak ulasannya dalam artikel berikut: Di Balik Pudarnya Pesona Saham Astra ASII

Investasi