Prospek Bisnis ANTM, Antara Emas dan Nikel

Berkah Rio

Kita tentu masih ingat bagaimana perkasanya PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM pada akhir tahun lalu hingga awal tahun ini. Harga ANTM melonjak drastis hanya dalam hitungan bulan. Pada awal Oktober 2020 harganya masih berada di level Rp 700-an namun tak ada yang menduga nilainya bisa mencapai Rp 2.000-an di akhir tahun.

Seakan masih gagah dan membawa angin positif, awal 2021 harga ANTM langsung melejit ke Rp 3.000 pada 13 Januari 2021 dan mencapai level tertingginya Rp 3.340 pada sesi perdagangan 21 Januari 2021. 

Saat itu, frekuensi transaksi ANTM di pasar sangat tinggi. Dalam sehari nilainya mencapai Rp 4 triliun di pasar reguler. Sehari sebelumnya bahkan mencapai Rp 5,7 triliun. Dengan harga setinggi itu, artinya dalam waktu 3 pekan saja, saham ANTM naik 59,7% year-to-date (YtD).

Namun, semenja itu ANTM mulai tertidur dan mendingin. April 2021 hingga September 2021, harga ANTM berfluktuasi antara Rp2.170 hingga Rp2.680. Kendati level harga ini sudah tidak lagi setinggi level puncaknya pada awal tahun ini, harga ANTM sudah jauh lebih tinggi ketimbang sebelum pandemi.

Sebelum pandemi, harga saham ANTM relatif tertahan di bawah level Rp1.000 per saham. Kini, harga saham ANTM sudah di kisaran Rp2.300-an.

Pergerakan harga sahamnya tentu berhubungan erat dengan sentimen harga emas. Instrumen yang acap kali disebut sebagai investasi safe haven atau instrumen yang aman untuk dimiliki karena secara konsisten memberikan imbal hasil positif.

Dengan kata lain, harganya selalu naik, sehingga cocok melawan inflasi. Meskipun pada kenyataannya harga emas juga sering kali turun dan fluktuatif, sebagai produk langka dan logam mulia, emas umumnya dipersepsikan tidak memiliki keterikatan negatif dengan gejolak atau ketidakpastian ekonomi.

Dengan demikian, emas juga dipersepsikan tidak memiliki hubungan negatif dengan aset atau portofolio investasi lainnya. Sehingga ketika terjadi gejolak di berbagai portofolio itu, terutama karena relasi mereka dengan perekonomian, emas diyakini dapat bertahan atau bahkan naik harganya.

Selama periode berat ekonomi pada 2020 lalu, ketika pandemi Covid-19 menginvasi hampir ke seluruh negara di dunia, banyak instrumen investasi rontok, terutama pasar saham dan surat utang. Namun, pada saat itu harga emas justru perlahan mulai melambung.

Sebagai pengingat, IHSG jatuh ke titik terendahnya pada 24 Maret 2020, yakni di level 3.937 dari level puncak 6.323 pada awal tahun, tepatnya 3 Januari 2020. Pada saat yang sama, harga emas Antam justru naik dari level Rp 775.000 per gram menjadi Rp 928.000 per gram.

IHSG bertahan di bawah level 5.000 hingga awal Juli 2020 dan hanya baru mencapai level 5.200-an, tepatnya 5.233 pada 12 Agustus 2020. Sementara itu, emas Antam justru terus bergerak memuncak ke level Rp1,065 juta per gram pada 7 Agustus 2021.

Namun, harga emas cenderung terus melemah setelahnya. Kini, harga emas Antam per 9 September 2021 ada di level Rp 928.000 per gram. Jika dibandingkan dengan harga puncaknya tahun lalu, harga emas Antam kini sudah turun 12,9%. Seiring dengan itu, harga saham ANTM juga mendingin.

 

Menilai Kewajaran Pergerakan Harga Saham ANTM

Kenaikan harga saham ANTM tentu tidak terlepas dari kenaikan harga emas yang merupakan produk utama ANTM. Namun, di luar emas, jangan lupakan produk unggulan Antam lainnya, yakni nikel. Komponen utama baterai ini juga punya potensi akibat sentimen mobil listrik.

Sayangnya saat ini ANTM belum merilis laporan kinerja keuangannya untuk periode 30 Juni 2021. Namun, jika menilik kinerjanya pada kuartal I/2021, terlihat bahwa kenaikan harga emas dan nikel berdampak signifikan bagi ANTM.

Pendapatan ANTM pada kuartal pertama tahun ini mencapai Rp 9,21 triliun, melonjak 77% year-on-year (YoY) dari periode yang sama tahun lalu Rp 5,2 triliun. Sementara itu, di posisi bottom line, ANTM berhasil membalikkan kondisi rugi Rp 281 miliar menjadi laba Rp 630 miliar.

Ini jelas pertumbuhan yang sangat luar biasa. Dengan demikian, kenaikan harga saham ANTM yang fantastis masih tergolong masuk akal.

Jika diperinci, penjualan bersih domestik pada kuartal I/2021 menjadi penyumbang pendapatan terbesar, yaitu Rp 7,45 triliun atau setara 81% dari total penjualan bersih perseroan.

Berdasarkan segmentasi komoditas, logam mulia dan pemurnian menjadi kontributor pendapatan paling besar, yaitu Rp 6,63 triliun, disusul segmen nikel sebesar Rp 2,17 triliun, bauksit dan alumina sebesar Rp 365,8 miliar, dan lain-lain sebesar Rp30,58 miliar.

Di segmen emas, kinerja penjualan emas ANTM pada kuartal I/2021 mencapai 7.411 kg, meningkat 45% dari kuartal I/2020. Sementara itu, ANTM mencatatkan total volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 289 kg.

Adapun, sepanjang 2020, pendapatan ANTM turun 16,3% YoY dari Rp32,7 triliun menjadi Rp27,4 triliun, tetapi laba bersihnya justru melonjak 495,3% YoY menjadi Rp1,15 triliun. Mengingat ANTM masih rugi pada kuartal I/2020, itu artinya lonjakan laba terbesar terjadi pada tiga kuartal terakhir 2020.

Turunnya pendapatan pada 2020 disebabkan karena penurunan produksi dan penjualan ANTM. Volume produksi emas ANTM unaudited sebesar 1.672 kilogram, turun 14,6% YoY, sedangkan volume penjualan emas mencapai 21.797 kilogram, turun 35,8% YoY.

Meskipun demikian, kenaikan harga emas dan nikel dunia berhasil mengimbangi tekanan produksi, sehingga pendapatan ANTM tidak turun sedalam itu. Di sisi lain, biaya produksi lebih kecil karena tingkat produksi yang turun. Otomatis ANTM masih bisa menjaga beban biaya. 

Selain itu, beban umum dan administrasi, serta beban penjualan dan pemasaran juga berkurang drastis. Hal ini memungkinkan ANTM mencetak pertumbuhan laba yang sangat tinggi.

Produksi feronikel unaudited pada 2020 mencapai 25.970 TNi, sedangkan penjualan feronikel sebesar 26.163 TNi. Tingkat produksi itu adalah rekor tertinggi ANTM, sedangkan penjualannya turun tipis 0,7% YoY.

Untuk produksi bijih nikel, ANTM mencatatkan volume produksi unaudited mencapai 4,76 juta wmt dengan tingkat penjualan unaudited mencapai 3,30 juta wmt. Pada segmen bauksit, Antam mencatatkan volume produksi bauksit unaudited 1,55 juta wmt dengan penjualan sebesar 1,23 juta wmt.

Nikel pada awal tahun ini juga sangat digandrungi karena terkait sentimen mobil listrik. Selain itu, bauksit juga merupakan komponen penting baterai mobil listrik. ANTM sendiri telah ditunjuk pula sebagai bagian dari holding Indonesia Battery Corporation bersama MIND ID, Pertamina, dan PLN.

Sentimen ini menambah panas harga saham ANTM. Kenaikan harga nikel di pasar global juga tidak kalah tingginya dibandingkan emas, sehingga memberikan keuntungan besar bagi ANTM.

Sebagai gambaran, berdasarkan data Investing.com, harga nikel di pasar global pada 1 Oktober 2020 ada di level US$ 14.317 per ton, tetapi pada  pada akhir tahun ada di level US$ 16.587 per ton. Pada 24 Februari sudah ada di level US$ 19.865 per ton.

Harganya sempat anjlok pada 4 Maret 2021 ke level US$ 15.985 per ton, tetapi kini sudah bertengger kembali di level US$ 20.120 per ton.

Dengan demikian, dua logam andalam ANTM, yakni emas dan nikel sama-sama sedang berada di atas angin saat ini. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi bisnis ANTM. Dengan demikian, tidak mengherankan jika transaksi sahamnya pada awal tahun ini sempat sangat tinggi.

Harga emas dan nikel yang kini masih jauh lebih tinggi ketimbang level harga sebelum pandemi menjanjikan tingkat keuntungan bisnis yang besar bagi ANTM hingga akhir tahun ini.

 

Rencana Bisnis ANTM

Tahun ini, manajemen mengatakan bahwa perusahaan akan fokus pada ekspansi pengolahan mineral bersifat hilir termasuk di komoditas nikel sembari melakukan perluasan basis cadangan dan sumber daya.

Selain memacu produksi dan penjualan, perseroan juga berupaya menekan cash cost agar proses bisnis menjadi lebih efisien dan margin menjadi lebih tebal. Perseroan akan menjalin kemitraan untuk pengembangan produksi mineral olahan baru dari cadangan yang ada.

Adapun, ANTM sendiri sudah masuk dalam rantai pasok produksi kendaraan listrik Tesla. Oleh karena itu, ANTM bakal lebih agresif pada produksi nikel tahun ini, sedangkan produksi emas relatif tidak begitu agresif.

Berikut ini rincian target ANTM tahun ini:

Naiknya target produksi bijih nikel adalah untuk bahan baku pabrik feronikel perseroan dan mendukung penjualan kepada pelanggan domestik. Sementara itu, peningkatan penjualan bijih nikel disesuaikan dengan outlook pertumbuhan industri pengolahan nikel di dalam negeri.

Adapun target volume produksi dan penjualan feronikel yang relatif stabil disesuaikan dengan langkah optimalisasi produksi pabrik feronikel perseroan di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Sementara itu, peningkatan produksi dan penjualan bauksit ditujukan untuk memenuhi permintaan pelanggan dan sebagai produksi alumina.

Target emas tidak dipatok terlalu tinggi karena perseroan ingin fokus pada pengembangan bisnis logam mulia di pasar domestik. ANTM berencana terus memperkuat bisnis tersebut melalui inovasi produk dan perluasan pasar, antara lain meluncurkan emas edisi khusus dan bermitra dengan perusahaan perhiasan emas seperti PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA).

Bersama HRTA, ANTM meluncurkan produk emas mikro ukuran 0,1 gram dan 0,25 gram. Produk ini ditujukan untuk memperluas investasi logam mulia pada masyarakat menengah ke bawah.

Adapun, sebesar 73% pendapatan perseroan tahun lalu dikontribusikan oleh pasar domestik, sedangkan ekspor hanya 27%. Penjualan nikel domestik tahun lalu naik 93% menjadi Rp 1,8 triliun, sedangkan penjualan emas domestik naik 66,8% menjadi Rp 17,79 triliun.

Oleh karena itu, perseroan menaruh perhatian besar pada pasar domestik ini untuk terus memperbesar peluang yang ada.

Kini, setelah paruh pertama berakhir, realisasi target ANTM berjalan cukup sesuai jalur. Volume produksi emas Antam dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 719 kg, sedangkan volume penjualan tumbuh 69% menjadi 13.341 kg atau 13,3 ton.

Antam juga mencatatkan produksi bijih nikel sebesar 5,34 juta wmt, melonjak 287% YoY, sedangkan penjualan bijih nikel mencapai 3,66 juta wmt, meningkat 21 kali dibandingkan dengan capai penjualan semester I/2020 sebesar 168.000 wmt.

Volume produksi bauksit tercatat sebesar 1,09 juta wmt, meningkat 36% dari periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, penjualan bauksit tercatat sebesar 587.000 wmt, meningkat 4% dibandingkan dengan semester I/2020.

 

Fokus Pada Proses

Perseroan akan lebih berfokus pada upaya penghiliran mineral tahun ini. Perseroan tengah mengerjakan hilirisasi pada Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah dan Proyek Pembangunan Pabrik Feronikel Halmahera Timur (P3FH).

Kedua proyek ini memakai dana belanja modal yang tidak sedikit. Kedua proyek ini memiliki visi yang sama, dalam hal memaksimalkan produksi olahan, aluminium, dan fornikelnya ke depan. Khususnya aluminium untuk mengurangi impor bahan baku aluminium Indonesia.

Kendati berbiaya tinggi, jika proyek ini rampung, perusahaan akan mampu mendulang pendapatan yang lebih maksimal ketimbang sebelum proyek hilir ini ada. Lagi pula, ANTM bekerja sama dengan PT Inalum (Persero) dalam Proyek SGAR, sehingga bebannya sedikit ringan.

Proyek hilirisasi akan mengolah bahan baku berkadar rendah, yang tidak terolah atau sulit terjual, menjadi olahan yang lebih bernilai, sehingga turut juga membantu percepatan perputaran inventory hasil tambang perusahaan nantinya.

Dengan kapasitas yang lebih besar, perseroan dapat mengimbangi gejolak yang mungkin terjadi pada harga komoditas logam yang dijualnya. Gejolak harga ini akan selamanya ada, sehingga peningkatan kapasitas akan menjadi kunci untuk menekan kemungkinan penurunan kinerja akibat gejolak harga.

Di luar itu, terbentuknya Indonesia Battery Corporation tahun ini juga membuka peluang bagi ANTM untuk mengoptimalkan sumber pendapatan. Holding ini siap bermitra dengan perusahaan-perusahaan besar global untuk pengembangan baterai kendaraan listrik.

Selain itu, dalam internal holding ini juga bakal saling bermitra untuk membentuk perusahaan patungan atau joint venture di segala lini bisnis yang terkait dengan baterai. Dalam rantai industri tersebut perseroan berkomitmen untuk memasok bahan baku baterai kendaraan listrik, yaitu nikel.

Tahun ini, ANTM mematok capex Rp2,84 triliun tahun ini, sebagian besar akan digunakan untuk pengembangan usaha, termasuk penyelesaian proyek smelter feronikel di Halmahera Timur (Haltim)atau P3FH dan SGAR yang bekerja sama dengan MIND ID.

Capex tersebut akan berasal dari kantong internal perseroan dan sebagian dari pendanaan eksternal. ANTM tengah menjajaki alternatif instrumen pendanaan eksternal dengan mempertimbangkan cost of fund yang paling kompetitif bagi perseroan.

Hingga akhir 2020, smelter Feronikel Haltim mencapai kemajuan konstruksi sebesar 98%. Pabrik Feronikel Haltim line-1 nantinya akan memiliki kapasitas 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi).

Dengan demikian, setelah rampung smelter itu akan menambah portfolio kapasitas produksi total tahunan perseroan menjadi 40.500 TNi, dari kapasitas saat ini hanya sebesar 27.000 TNi.

ANTM juga baru saja menandatangani perjanjian pendahuluan atau heads of agreement (HoA) pengembangan bisnis pemurnian nikel di Konawe Utara dan Morowali Utara, Sulawesi Tenggara dengan Alchemist Metal Industry Pte. Ltd. dan PT Gunbuster Nickel Industry.

Dengan langkah bisnis yang meyakinkan ini, ditambah sentimen harga logam emas, nikel, dan bauksit yang masih tinggi di pasar, tampaknya prospek ANTM memang masih sangat menjanjikan. Kenaikan harga sahamnya saat ini juga masih memiliki dasar yang kuat.

Dengan kondisi keuangan yang stabil dan prospek yang menjanjikan ini, tampaknya peluang bagi kenaikan lanjutan harga saham ANTM pun masih sangat terbuka lebar. Bukan tidak mungkin, dalam waktu dekat ANTM dapat kembali mencapai level harga puncaknya yang pernah dicapainya tahun ini.

Investasi