Demam Tanaman Hias dan Isyarat Gelembung Ekonomi

Fauzan Ahmad

“Hobi baru ini membuka peluang bisnis baru dan saya melihat banyak yang sukses mengambil peluang ini. Berawal dari hobi, berujung menjadi bisnis yang menjanjikan.”

Jangan salah, penggalan kalimat di atas bukan datang dari acara seminar bisnis manapun. Kalimat tersebut meluncur dari jari-jemari Menteri BUMN Erick Thohir. Erick membagikan kalimat tersebut lewat akun instagramnya pada 6 Februari 2021, lengkap dengan potret dirinya tengah berdiri di depan pot berisi tanaman janda bolong.

Janda bolong, nama aslinya Monstera, memang jadi salah satu tanaman hias primadona orang Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Namun, ia bukan satu-satunya. Tanaman-tanaman hias jenis lain, mulai dari anggrek, mawar, bonsai hingga kaktus juga menjadi komoditas yang laris manis di berbagai toko penjual tumbuh-tumbuhan.

Baca Juga: Secerah Apa Prospek Investasi di Platform P2P Lending Tahun Ini?

Sebuah riset berjudul Pandemic, Social Isolation, and the Importance of People-Plant Interaction yang disusun peneliti Universidade Federal de Lavras Brazil, Simone Novaes Reis dkk., mengungkap fenomena gandrungnya orang-orang dengan tanaman hias di tengah pandemi sebagai hal wajar. Bukan cuma di Indonesia, hal serupa juga terjadi di beberapa negara lain.

Sebab, kata Simone dalam sebuah jurnal yang dimuat di SciELO, bunga dan tanaman ornamental di dalam pot bisa menambah keindahan dan dapat memunculkan kesan kesejahteraan, yang menstimulasi kreativitas serta kebahagiaan.

“Ciri-ciri seperti itu sangat penting untuk membantu manusia menghadapi kesulitan akibat isolasi sosial yang terjadi di masa krisis Covid-19,” tulis mereka.  (PDF)

Namun, yang kemudian menjadikan fenomena tersebut tidak wajar adalah dampak ekonominya. Tingginya permintaan bikin harga sejumlah tamanan terkerek tak masuk akal.

Janda bolong misal, untuk jenis tertentu sekarang bisa dibanderol hingga nominal Rp15 juta.  Pun dengan tanaman anggrek, yang harganya untuk sebagian jenis tertentu bisa melambung hingga belasan juta, kendati ada pula beberapa jenis yang harganya masih terjangkau.

Seperti kata Erick Thohir, lonjakan harga tanaman-tanaman hias tersebut berimplikasi positif ke pendapatan para pengusaha di sektor tanaman hias, yang rata-rata berasal dari Pulau Jawa.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam beberapa tahun terakhir jumlah tanaman anggrek kebanyakan berasal dari Jawa Barat dan Jawa Timur. BPS belum merilis data produksi 2020. Namun bila mengacu data 2019 misal, jumlah produksi tanaman anggrek di Indonesia yang mencapai 18,6 juta didominasi Jawa Timur dengan produksi 6,1 juta tangkai, disusul Jawa Barat dengan 5,6 juta dan Banten dengan 4,4 juta.

BPS tidak merekapitulasi jumlah janda bolong beredar, namun untuk beberapa jenis tanaman hias bunga-bungaan lain seperti anthurium dan anyelir, proporsinya juga masih didominasi Pulau Jawa. Jawa Barat menjadi provinsi penghasil kedua jenis tanaman tersebut dengan total produksi masing-masing. 2,9 juta dan 1,2 juta. Jawa Barat juga menjadi provinsi dengan produksi bunga krisan terbesar dengan jumlah lebih dari 179 juta dalam setahun.

Dengan asumsi harga tanaman-tanaman tersebut naik 2-3 kali lipat di masa pandemi, tambahan pendapatan yang didapat para pengusaha tanaman hias dari Jawa Barat dan Jawa Timur jelas tak terhitung lagi.

Namun, yang kemudian patut—dan agaknya lupa—digarisbawahi  oleh sebagian orang adalah fakta bahwa lonjakan harga tersebut juga berpotensi memunculkan dampak negatif.

Dalam istilah perekonomian, fenomena lonjakan harga tanaman hias saat ini berpotensi mengarah menuju economic bubble alias gelembung ekonomi. Gelembung ekonomi adalah kondisi yang dimulai dengan peningkatan harga produk atau aset secara tidak realistis dalam waktu cepat, yang pada akhirnya justru memicu krisis lantaran diikuti dengan over-supply.

Contoh beberapa gelembung ekonomi yang sebelumnya pernah terjadi di Indonesia adalah hobi koleksi ikan louhan dan batu akik.

Sudah jadi rahasia umum bila ikan louhan sempat menjadi primadona para kolektor di Indonesia pada awal 2000an. Namun, lantaran fenomena koleksi louhan tersebut menjelma jadi gelembung ekonomi, pengusaha-pengusaha pengepul ikan hias justru dilanda krisis. Setelah “gelembung” tersebut meletus, harga louhan pun jatuh dengan tidak kalah manusiawi

Bahkan hingga beberapa tahun terakhir, para pengusaha ikan hias mengeluhkan harga louhan yang masih anjlok sekitar 75 persen dari kondisi normal. Memang, nilai penurunan harga ini belum sebanding dengan proporsi kenaikan berkali lipat yang dulu sempat terjadi. Namun, mengingat penurunan tersebut bertahan hingga belasan tahun, harga rendah louhan pada akhirnya punya efek domino yang lebih mencekik di kalangan penjual ikan hias.

Hal tidak jauh berbeda terjadi pada fenomena batu akik. Sempat berada di kisaran jutaan pada medio 2013-2014, sejak akhir 2015 harga sebagian besar batu akik longsor ke level ratusan ribu bahkan puluhan ribu rupiah. Kondisi ini bertahan hingga sekarang, dan bukan tidak mungkin akan berlanjut sampai belasan tahun ke depan bila mengacu fenomena serupa pada kasus ikan louhan.

Sebenarnya fenomena demam louhan dan batu akik tidak ada apa-apanya bila dibandingkan Tuilpomania, sebuah gelembung ekonomi akibat perdagangan bunga tulip yang sempat melanda Belanda pada tahun 1636-1637.

Kendati dampak spesifiknya masih jadi perdebatan, Charles Mackay dalam bukunya Extraordinary Popular Delusions and the Madnes of Crowds menyebut pukulan ekonomi akibat krisis tulip sempat bikin Belanda mengalami resesi bertubi-tubi. Mackay menyebut dampak Tulipomania bukan cuma melumpuhkan pengusaha, tapi juga kalangan investor yang sudah kadung tergiur menanamkan investasi besar-besaran untuk pengembangan produksi umbi bunga tulip.

Klaim Mackay terseut kemudian diamini peneliti sejarah asal Wales, Mike Dash. Dalam karyanya, Tulipomania: The Story of the World's Most Coveted Flower & the Extraordinary Passions It Aroused, Dash bahkan menyebut Tulipomania sebagai akar yang mengawali maraknya fenomena lonjakan harga uang kripto serta pompom saham yang semakin menjamur di Wall Street sejak awal abad 21.

Baca Juga: Commodity Super Cycle, Apa Itu?

Gelembung ekonomi bukannya tidak bisa diatasi. Dalam 10 tahun terakhir, negara-negara maju terus berbondong-bondong melakukan penelitian guna mengembangkan rumus untuk mengatasi kondisi tersebut.

Pemerintah China misal, dalam belasan tahun terakhir berusaha mengatasi munculnya gelembung-gelembung ekonomi di dalam negeri dengan cara mendorong pola pikir inovatif. Ketika ada indikasi gelembung ekonomi bisa terjadi di suatu sektor, mereka acap membimbing dan mendorong pelaku pasar untuk melakukan diversifikasi dengan produk di sektor sama.

“Gelembung ekonomi yang diarahkan menjadi produktivitas baru akan menghasilkan inovasi,” demikian tulis peneliti Departemen Pengembangan Strategi Ekonomi Regional China (DRC), Zhuo Xian dalam sebuah naskah akademis yang rilis 2015 silam.

AS, di sisi lain, masih kukuh dengan kebijakan lama yang mereka tempuh sejak era 1970an. Pada 1971 Negeri Paman Sam sempat berhasil mengerem efek pecahnya gelembung ekonomi komoditas emas yang muncul sejak 1970 lewat kebijakan moneter. Saat itu Bank Sentral AS, The Fed melakukan ekspansi moneter dengan mengutak-atik suku bunga hingga 1974. Sampai sekarang, The Fed pun masih jadi tulang punggung mereka untuk mengerem potensi terjadinya gelembung-gelembung serupa dalam skala besar.

Profesor Ekonomi asal New York University (NYU) Lawrence J. White dalam sebuah riset berjudul Preventing Bubbles: What Role for Financial Regulation?, menyimpulkan mampu atau tidaknya suatu negara mengatasi gelembung ekonomi tergantung pada pemerintahan yang aktif menjabat. Tidak semua gelembung bisa diatasi lewat kebijakan finansial. Beberapa, kata White, sebenarnya lebih efektif dicegah sebelum gelembung tersebut “benar-benar meletus.”

Fakta bahwa efek gelembung batu akik dan louhan bahkan masih terasa hingga sekarang, mengindikasikan bahwa Indonesia masih punya pekerjaan rumah besar. Alih-alih melakukan glorifikasi, menarik untuk menanti seberapa mampu pemerintah melakukan mitigasi agar dampak gelembung ekonomi tanaman hias tak separah gelembung ikan louhan dan batu akik.

Ekonomi