27 Saham LQ-45 Ini Masih Minus YTD, Tertarik?

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 5 menit]

Kembali sejenak ke awal 2020. 

Pada Januari dan Februari 2020, saat belum ada kasus virus corona diumumkan di Indonesia, IHSG sudah mulai gelisah seiring penurunan indeks saham di bursa global.

Pergerakan IHSG:

  • Januari 2020: turun 3,6%
  • Februari 2020: turun 7%

Penurunan drastis terjadi pada Maret 2020 saat IHSG menyentuh level 3.937,63 pada 24 Maret 2020. Pada bulan ketiga tersebut, IHSG turun 15%.

Harga hampir semua saham, tidak terkecuali saham bluechips atau big caps, rontok. Banyak saham yang mengalami ARB berhari-hari. Mengingatkan peristiwa 1998 dan 2008, pasar saham kembali terguncang cukup signifikan.

Namun, dalam kurun waktu tujuh bulan, IHSG kembali berada dalam tren naik dipicu berbagai sentimen:

  • Perkembangan vaksin corona
  • Kemenangan Joe Biden di Pemilihan Presiden Amerika Serikat
  • Kenaikan harga-harga komoditas (sawit, batubara, nikel)
  • Perbaikan data ekonomi makro (inflasi, Purchasing Manager Index)

Efeknya, harga sebagian saham kembali melesat dan perlahan kembali bahkan melewati level sebelum pandemi. 

Namun, tidak sedikit pula saham indeks LQ45 yang harganya belum kembali ke level sebelum virus corona ditemukan di berbagai negara. Kasus corona pertama ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019.

Berikut datanya, menggunakan data 2 Januari 2020 (year to date) hingga 7 Desember 2020 sebagai acuan:

Nomor Saham 2 Januari   7 Desember   YTD
1 AKRA 3900 3400 -12.82%
2 ASII 6875 5850 -14.91%
3 BBCA 33450 32600 -2.54%
4 BBNI 7775 6650 -14.47%
5 BBTN 2130 1735 -18.54%
6 BMRI 7750 6700 -13.55%
7 BSDE 1270 1075 -15.35%
8 CPIN 6575 6300 -4.18%
9 CTRA 1025 920 -10.24%
10 EXCL 3210 2520 -21.50%
11 GGRM 53350 45475 -14.76%
12 HMSP 2090 1680 -19.62%
13 ICBP 11150 9950 -10.76%
14 INDF 7975 7100 -10.97%
15 INTP 18525 14875 -19.70%
16 JSMR 5175 4490 -13.24%
17 KLBF 1615 1485 -8.05%
18 MNCN 1625 1090 -32.92%
19 PGAS 2140 1465 -31.54%
20 PWON 570 525 -7.89%
21 SMGR 12200 11750 -3.69%
22 SMRA 1000 800 -20.00%
23 SRIL 258 246 -4.65%
24 TKIM 10075 9925 -1.49%
25 TLKM 3910 3330 -14.83%
26 UNVR 8550 7675 -10.23%
27 WIKA 2020 1855 -8.17%


Dari data di atas tampak sebagian besar atau 60% saham indeks LQ-45 belum kembali ke harga pasar sebelum pandemi. Sebagian kecil saham sudah mendekati ke level sebelum pandemi seperti BBCA yang minus 2%.

Berbagai saham tersebut, terutama yang telah IPO pada dekade 2000an, terbukti mampu bangkit setelah terjungkalnya pasar saham pada 2008. Sebagian lagi terbukti mampu memantul setelah anjloknya pasar saham pada 1998.

Ambil contoh BBCA. Seiring krisis keuangan global yang dipicu krisis KPR subprima di Amerika Serikat pada 2008, harga saham BBCA terjun bebas hingga Rp2.000 pada Oktober 2008. 

Katakanlah awal krisis 2008 bermula sebelum Februari 2008 dimana The Fed memangkas bunga acuan dari 3,5% menjadi 3% pada Januari. Pada saat itu, kebetulan BBCA baru saja stock split hingga harga sahamnya menjadi Rp3.600. Seiring rentetan peristiwa yang terjadi pada 2008, harga BBCA bergerak fluktuatif hingga turun mencapai Rp2.000.

Bagaimana nasib BBCA selanjutnya? BBCA memantul hingga Rp5.200 pada Oktober 2009. Apa artinya? Pada saat itu, harga BBCA bisa kembali bahkan melewati harga pra-krisis 2008. Dalam perkembangannya, seiring kinerja keuangan yang solid, harga BBCA tembus hingga level 30.000an pada 10 tahun kemudian (2019).

Dalam konteks yang lebih luas, berdasarkan sejarah pasca krisis 1998 dan 2008, IHSG mampu bangkit dan naik hingga lebih dari 100% pada 12 bulan setelah mencapai titik terendahnya pada saat terjadi krisis.

Apakah harga 27 saham indeks LQ-45 dalam tabel atas akan kembali atau bahkan melewati harga pra-pandemi? Tentu saja, dengan segala kemungkinan beserta risikonya, apa yang terjadi di masa lalu tidak menjadi jaminan akan terulang kembali di masa depan. 

Namun, pengalaman masa lalu adalah pelajaran berharga di masa depan.

Tags:

Investasi