Simak! Ini Alasan Bursa Ingin Hapus Informasi Kode Broker 

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 3 menit]

Bursa Efek Indonesia mengungkapkan tujuh alasannya dalam rencana penghapusan informasi mengenai kode broker di sistem perdagangan saham (running trade). Intinya, BEI ingin melindungi investor dengan penghapusan informasi tersebut.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengungkapkan alasan tersebut dalam suatu acara webinar yang diselenggarakan oleh BEI yang diikuti oleh sejumlah komunitas saham pada Rabu (17/3/2021).

Menurut Laksono, rencana penghapusan kode broker itu merupakan bagian dari upaya BEI mengikuti best practice atau praktek-praktek yang dilakukan oleh bursa di negara-negara maju. Menurutnya, bursa di negara maju tidak menyediakan informasi mengenai kode broker.

"Ini adalah best practice dimana-dimana," kata Laksono yang mengambil salah satu contoh praktek di bursa Thailand yang memiliki basis investor ritel yang cukup besar.

Baca juga: Jejak Mafia IPO dan Efektivitas IPO Online

Alasan keduanya adalah supaya investor mengambil keputusan transaksi berdasarkan penilaian yang benar, bukan berdasarkan aspek emosional atau ikut-ikutan. Laksono mengatakan tidak jarang terjadi investor mengambil keputusan investasi berdasarkan transaksi yang dilakukan oleh broker.

Alasan ketiganya adalah mengurangi potensi herding serta meningkatkan kewajaran dalam pembentukan harga saham. Secara sederhana, herding behavior adalah perilaku ikut-ikutan investor lain.

Alasan keempat mengurangi berbagai kemungkinan seperti front running, piggybacking dan information leakage. Secara sederhana, front running merupakan tindakan "mencuri start" dengan memanfaatkan informasi untuk keuntungan pribadi.

Alasan kelima adalah meningkatkan insentif bagi broker untuk melakukan riset. Alasan keenam adalah meningkatkan likuiditas dan menurunkan spread. Laksono memaparkan terdapat sejumlah penelitian yang menyatakan bahwa penutupan kode broker meningkatkan likuiditas di pasar saham.

Alasan terakhir adalah mencegah aktivitas panic selling akibat penjualan efek secara masif oleh investor. "Ini biasa terjadi ketika market lagi bergejolak, entah gejolak dari dalam negeri atau luar negeri," kata Widodo.

Seperti diketahui, BEI ingin menghapus informasi mengenai kode broker dan tipe investor (asing atau domestik) dalam running trade. Informasi itu kini ditampilkan sebagai informasi post trade ke publik setelah terjadinya transaksi di BEI.

Penghapusan informasi itu rencananya akan dilakukan secara bertahap. BEI akan menghapus informasi kode broker tersebut pada Juli 2021 dan menghapus informasi tipe investor asing atau domestik pada kuartal I/2022. 

Kendati demikian, BEI menyatakan pihaknya tetap akan mendistribusikan data olahan yang berbentuk resume dan data pada akhir hari atau setelah pasar tutup. 

Dalam kesempatan tersebut, praktisi pasar modal Hans Kwee menyatakan informasi mengenai kode broker itu tidak relevan dalam analisa investasi, baik analisa fundamental atau teknikal. Menurutnya, berdasarkan sejarah analisis teknikal, informasi mengenai kode broker bukan merupakan aspek penting dalam analisa. Dia berharap investor lebih rasional dalam pengambilan keputusan.

Tags:

Investasi