Setelah Setahun Pandemi: Ekonomi Membaik atau Tidak? (Bagian 2 dari 3 Tulisan)

Yodie Hardiyan

Artikel ini adalah bagian kedua dari tiga artikel yang membahas perkembangan pasar modal dan ekonomi setelah satu tahun pandemi corona di Indonesia pada awal 2021. Simak bagian pertama dalam artikel berikut: Setelah Setahun Pandemi, Siapkah Pasar Saham Bangkit Lagi?

[Waktu baca: 6 menit]

Jika tinggal di Jabodetabek, apakah kamu pernah mengunjungi pusat perbelanjaan (mall modern atau pasar tradisional) pada kuartal I/2021 ini? Bagaimana situasinya di tengah pandemi yang belum reda ini?

Secara kasat mata, tempat keramaian seperti mall atau pasar tradisional kini lebih ramai dibandingkan dengan kuartal II/2020 saat pandemi virus corona mulai menyebar secara ganas di berbagai wilayah Indonesia.

Pada saat ini, berbagai tempat usaha seperti restoran, bioskop, toko dan sebagainya, mulai banyak dikunjungi oleh konsumen, walaupun belum seramai dibandingkan dengan masa pra-pandemi. Berbagai pembatasan, misalnya, seperti kegiatan operasional bioskop telah dilonggarkan.

Mari kita segarkan ingatan tentang apa yang terjadi pada 2020. Pada awal kuartal II/2020, kami merilis artikel: "Awal Tahun yang Menyedihkan Bagi Bisnis Ritel" yang memotret perkembangan bisnis ritel pada masa awal pandemi.

Dalam artikel itu, kami mengutip data Google Mobility Report yang menyatakan bahwa tren mobilitas masyarakat Indonesia ke tempat seperti restoran, kafe, pusat perbelanjaan dan sebagainya turun sebesar 47% dari tingkat normalnya. 

Hampir 12 bulan kemudian atau Maret 2021, mobilitas masyarakat ke tempat-tempat itu masih turun dari tingkat normalnya, namun tingkat penurunan tidak sebesar pada saat itu yaitu hanya 16%.

Data terbaru itu mengafirmasi bahwa berbagai aktivitas ekonomi mulai menggeliat walaupun belum pulih sepenuhnya seperti pra-Januari atau Februari 2021. Situasi normal baru mulai terbentuk dalam berbagai bentuk: masyarakat menggunakan masker, mengantongi cairan pembersih tangan sebagai salah satu benda wajib saat berpergian hingga menjaga jarak dengan manusia lainnya.

Mengapa banyak orang kini "berani" keluar rumah untuk mengunjungi berbagai tempat ritel dan rekresiasi seperti yang disebutkan di atas? Sejumlah faktor barangkali mempengaruhi kondisi tersebut:

(1) Faktor psikologis dimana masyarakat mulai "jenuh" berada di dalam rumah terus-terusan sebagai bagian dari upaya mengantisipasi virus. 
(2) Proses vaksinasi yang dimulai sejak Januari 2021 "menyuntikkan" kepercayaan diri masyarakat bahwa situasi mulai berangsur membaik. 
(3) Masyarakat yang terpaksa keluar rumah karena kebijakan bekerja dari kantor yang kini mulai banyak diterapkan perusahaan.

Berbagai situasi itu secara simultan berdampak terhadap perbaikan sejumlah sektor ekonomi Indonesia yang terkontraksi sepanjang 2020.

Baca juga: Memotret Bisnis Paling Terdampak Pandemi: Hotel

Perlahan Membaik, Berlanjut 2021?

Mari kita perhatikan data ekonomi makro. Simak grafik garis berikut:

Pertumbuhan ekonomi tampak perlahan turun pada kuartal I/2020 sebagai imbas penurunan ekonomi secara global yang mulai terinfeksi virus corona. Pada saat itu, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 2,97%. Satu kuartal berikutnya pada kuartal II/2020, PDB Indonesia terkontraksi sebesar 5,3% atau penurunan paling dalam sepanjang 2020.

Kuartal II seperti menjadi ujung palung dalam penurunan PDB saat ekonomi terkontraksi akibat corona. Namun, penurunan yang lebih dalam tidak terjadi pada dua kuartal berikutnya. PDB masih turun secara year-on-year, tapi tidak sedalam kuartal II/2020.

Situasi ini menandakan kondisi ekonomi mulai menunjukkan perbaikan walaupun masih terbatas atau belum kembali ke level sebelum pandemi. Berbagai komponen PDB dalam perhitungan dengan pendekatan pengeluaran juga mulai menunjukkan perbaikan pada Februari 2021. 

Salah satunya adalah ekspor. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor tumbuh 8,56% pada Februari 2021 dibandingkan dengan Februari 2020. Pertumbuhan ekspor di awal 2021 ini merupakan kelanjutan sejak November 2020. 

Sebagai perbandingan, ekspor hanya tumbuh 2% pada Februari 2020 dibandingkan dengan Februari 2019. Dengan demikian, kinerja ekspor perlahan mulai pulih di tengah masalah pandemi yang belum sepenuhnya selesai di Indonesia.

Secara umum, hampir semua sektor mengalami kontraksi dengan berbagai tingkatan pada 2020. Kontraksi paling dalam dialami oleh sektor transportasi dan pergudangan serta akomodasi dan makan minum.

Bisa ditebak, sektor transportasi mengalami kontraksi paling dalam akibat berbagai kebijakan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diterapkan oleh pemerintah daerah di sejumlah provinsi serta kesadaran masyarakat yang mengurangi aktivitas berpergian.

Dipengaruhi dua faktor itu, permintaan terhadap jasa transportasi (pesawat, bus, kereta api, taksi dan sebagainya) menurun drastis pada 2020.  Dari tiga jenis transportasi (darat, laut dan udara), kontraksi paling besar dialami oleh sektor angkutan udara (pesawat).

Namun, PDB dari sektor ini juga menunjukkan perbaikan. Pada kuartal II/2020, PDB sektor angkutan udara turun lebih dari 80%. Penurunan masih terjadi pada kuartal berikutnya, namun dengan persentase yang jauh lebih kecil yaitu 63,9% (kuartal III/2020) dan 53,81% (kuartal IV/2020).

Berbagai tren mendukung pemulihan sektor transportasi ini, misalnya, tren workation (bekerja sambil berlibur) di sejumlah daerah wisata. Tren ini dilakukan oleh para pekerja dari Jakarta yang memilih untuk bekerja sambil berlibur di daerah wisata seperti Bali.

Kendati demikian, pemulihan ini masih terbatas dan belum kembali ke level pra-pandemi. Salah satu contohnya, wisatawan asing yang membawa "banyak dollar" ke Indonesia belum dapat memasuki berbagai daerah tujuan wisata di Indonesia karena ada restriksi, di samping kesadaran para warga global untuk tidak berpergian selama pandemi.

Kabar terbaru, pemerintah berencana membuka pintu bagi para wisatawan mancanegara untuk memasuki wilayah Indonesia pada Juni atau Juli 2021 jika kondisi pandemi mulai menunjukkan penurunan. 

Jika kebijakan itu jadi diterapkan, bukan tidak mungkin sektor transportasi (dan juga sektor akomodasi dan makan minum) bakal kembali terkerek setelah terpelanting pada 2020. Begitupula dengan berbagai kebijakan di sektor lain yang akan diambil pemerintah untuk memulihkan keadaan.

2021, Tahun Pemulihan

Sejumlah lembaga yang otoritatif memprediksi ekonomi Indonesia dapat tumbuh pada 2021 setelah terjungkal pada 2020. Salah satu laporan terbaru lembaga pemeringkat Fitch, misalnya yang memperkirakan PDB Indonesia akan tumbuh 5,3% pada 2021 dan 6% pada 2020. 

Angka 5,3% bukanlah angka yang kecil mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 sebesar 4,9%. Menurut Fitch, pemulihan ekonomi Indonesia akan didukung oleh pengeluaran stimulus pemerintah dan ekspor bersih, termasuk yang ditopang oleh berbagai peningkatan harga komoditas.

Di samping itu, dalam jangka menengah, Fitch memperkirakan pertumbuhan ditopang oleh implementasi Undang-undang Cipta Kerja yang dibuat untuk memangkas hambatan serta birokrasi dalam investasi. Pada saat ini, pemerintah mulai menyiapkan sejumlah aturan turunan undang-undang tersebut.

Sementara itu, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 4,3%-5,3%. Proyeksi itu lebih rendah dari proyeksi sebelumnya dimana Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,8%-5,8%. 

Dalam suatu kesempatan, Gubernur Bank Indonesia Perry Wajiyo menuturkan revisi pertumbuhan ekonomi itu sejalan dengan lebih rendahnya realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2020. 

Di sisi lain, pemerintah sendiri memperkirakan ekonomi Indonesia masih terkontraksi pada kuartal I/2021 dengan persentase penurunan 0,1%-1%. Buruk? Tidak juga. Dibandingkan dengan kuartal IV/2020, persentase penurunan itu semakin mengecil. 

Perlahan, tren pertumbuhan ekonomi dari kuartal ke kuartal mulai membentuk huruf V (V-shaped). Tentu saja, kesuksesan penanganan pandemi oleh pemerintah, termasuk program vaksinasi, akan sangat berperan penting dalam pemulihan ekonomi. Vaksin menjadi salah satu faktor kunci dalam memompa kembali aktivitas ekonomi.

Peran masyarakat, termasuk kita dalam menerapkan protokol kesehatan serta keikutsertaan dalam program vaksinasi, sedikit banyak akan turut mempengaruhi pemulihan ekonomi ini. Jangan sampai perjalanan pemulihan ekonomi Indonesia malah berbentuk W.
 

Ekonomi