Awal Tahun yang Menyedihkan Bagi Bisnis Ritel

Bulan-bulan pertama 2020 bukan awal tahun yang menggembirakan bagi penjualan ritel. Berbagai data menunjukkan penurunan penjualan eceran pada kuartal I/2020.

Data Survei Penjualan Eceran (SPE) Januari 2020 yang dirilis oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa Indeks Penjualan Riil turun sebesar 0,3% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.. 

Penurunan itu disebabkan oleh penurunan penjualan sub-kelompok sandang dan perlambatan pertumbuhan penjualan kelompok suku cadang dan aksesoris. 

Di samping itu, penurunan itu sesuai dengan pola musiman pada awal tahun setelah perayaan Natal dan Tahun Baru di Desember 2019. Kendati demikian, penurunan itu lebih kecil daripada prediksi sebesar 3,1%.

Sementara itu, SPE Februari 2020 yang dirilis oleh bank sentral menunjukkan bahwa Indeks Penjualan Riil turun sebesar 0,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Bank Indonesia juga memperkirakan penjualan eceran turun lebih dalam pada Maret 2020 sebesar 5,4% yang tercermin dari perkiraan pertumbuhan IPR Maret 2020

Kontraksi penjualan terjadi pada seluruh kelompok komoditas yang disurvei, terutama pada sub-kelompok komoditas sandang sebesar 45,9%, lebih dalam dari penurunan 40,4% pada Februari 2020.

Dampak Covid-19

Salah satu penyebab utama penurunan penjualan ritel yang lebih dalam pada Maret 2020 tidak lain adalah virus corona yang mewabah di berbagai daerah di Indonesia. Virus ini menginfeksi lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan puluhan ribu orang.

Penyebaran wabah itu kemudian diikuti dengan pembuatan sejumlah kebijakan oleh pemerintah dan swasta. Berbagai kebijakan disiapkan untuk mencegah meluasnya wabah yang sangat mematikan ini.

Seperti diketahui, pemerintah pertama kali mengumumkan pasien positif corona di Indonesia pada 2 Maret 2020. Seteah itu, jumlah pasien positif corona dan jumlah korban meninggal akibat corona terus bertambah setiap harinya.

Mewabahnya virus corona itu diikuti oleh himbauan dari pemerintah supaya masyarakat bekerja dari rumah, belajar (bersekolah) dari rumah dan beribadah di rumah. Himbauan itu diikuti oleh perusahaan dengan membuat kebijakan Work From Home (WFH) bagi karyawannya.

Setelah himbauan itu dikeluarkan, masyarakat kemudian mengurangi aktivitasnya di luar rumah, termasuk berbelanja di gerai ritel. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing) yang dipercaya dapat menekan potensi penyebaran corona.

Akibatnya, kunjungan masyarakat ke gerai ritel menurun drastis. Belum lama ini, perusahaan teknologi Google merilis data bertajuk Mobility Report yang merekam pergerakan masyarakat selama penyebaran virus corona di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Menurut data Google, tren mobilitas masyarakat Indonesia ke tempat seperti restoran, kafe, pusat perbelanjaan dan sebagainya turun sebesar 47% dari tingkat normalnya. Google menggunakan aplikasi peta miliknya, Google Maps, untuk merekam data tersebut.

Sumber: Google Mobility Report

Sebaliknya, tren mobilitas ke tempat tinggal (residences) meningkat hingga 15% dibandingkan dengan tingkat normalnya. Google juga merekam data tren mobilitas ke kantor, taman, stasiun transit, tempat grosir dan sebagainya yang juga mengalami penurunan.

Menghadapi situasi itu, berbagai perusahaan ritel seperti PT Matahari Department Store Tbk., PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. atau PT Ace Hardware Indonesia Tbk. mengambil sejumlah kebijakan.

Ace Hardware, misalnya, memutuskan menutup sejumlah gerai dalam kurun waktu yang bervariasi, mulai dari pertengahan hingga akhir April 2020. Setali tiga uang, Matahari Department Store menutup seluruh gerai di Indonesia sampai pertengahan April 2020.

Sementara itu, Ramayana mengambil langkah yang lebih ekstrim dengan melakukan PHK karyawannya. Media massa memberitakan Ramayana memberhentikan 87 karyawan yang bekerja di salah satu cabang Ramayana di Depok, Jawa Barat.

Saham Ritel

Berbagai kondisi itu tentu saja berpengaruh terhadap pergerakan saham ritel. Kinerja saham berbagai perusahaan ritel mengalami penurunan dalam kurun waktu tertentu seperti 1 bulan, year to date (sejak akhir tahun) atau 1 tahun.

Kinerja Sejumlah Saham Ritel 

Saham

1 Bulan

Year to Date

1 Tahun

3 Tahun

5 Tahun

LPPF

-52,33%

-70,78%

-70,36%

-91,74%

-91,96%

RALS

-29,11%

-47,42%

-68,09%

-55,42%

-30,19%

MAPI

-26,39%

-49,76%

-51,38%

1,92%

-7,42%

ACES

-18,09%

-22,74%

-37,40%

54,36%

44,38%

Sumber: RTI (data diakses pukul 10.00 WIB, 9 April 2020)

Dari berbagai saham ritel yang ada, tidak semuanya mampu membukukan keuntungan dalam jangka panjang.

Matahari Department Store, misalnya, yang harga sahamnya turun lebih dari 90% dalam 5 tahun terakhir. Begitu pula dengan pesaingnya, Ramayana, yang harga sahamnya telah turun lebih dari 60% dalam 1 tahun terakhir.

Kendati demikian, harga saham ritel sesekali ikut melesat dalam jangka waktu sangat pendek (harian) mengikuti reli IHSG. Saham LPPF, misalnya, yang melesat 16% pada Senin, 6 April 2020, seiring peningkatan IHSG sebesar 4% pada hari tersebut.

Investor saham yang berminat untuk berinvestasi di saham ritel tampaknya perlu mencermati berbagai data yang telah dipaparkan di atas sebelum mengambil keputusan investasi jangka panjang. 
 

PS: PO e-book Q4 2019 sudah dibuka, anda bisa mendapatkannya di sini.

 

 

Leave a Comment

You need to sign in before leave a comment. Fields marked with an * are required.

Sign in

Subscribe To Big Alpha

Subscribe now and get exclusive news, advisory and more.