Sejarah Astra International, Raksasa dengan Bisnis Otomotif Hingga Perkebunan

Dika Aksara

[Waktu baca: 4 menit]

Astra International adalah salah satu perusahaan raksasa di Indonesia. Pada awal Juni 2021, kapitalisasi pasar Astra International (ASII) di Bursa Efek Indonesia mencapai lebih dari Rp200 triliun atau merupakan salah satu yang terbesar di pasar saham Indonesia.

Perusahaan ini belakangan ini getol menanamkan investasi di sejumlah perusahaan rintisan atau startup yang valuasinya kian besar. Setelah menyuntik dana US$250 juta ke Gojek, decacorn pertama Indonesia, Astra International juga mendukung pendanaan untuk startup lain pada 2021 ini. 

Misalnya, perusahaan rintisan yang bergerak di bidang pesan antar produk sayur dan buah, Sayurbox, yang disuntik US$5 juta oleh ASII. Lalu ada Halodoc, startup di bidang telemedicine, yang juga mendapat pendanaan US$35 juta. 

Astra International memang gencar melirik industri ekonomi digital di Indonesia. Astra International terus mengembangkan lini bisnisnya, tak hanya sebatas pada sektor otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi, energi, agribisnis, atau properti saja. 

Lantas seperti apa sejarah Astra International? Big Alpha merangkumnya untuk kamu.

1. Bermula dari Sebuah Toko di Jalan Sabang

Siapa sangka, jalan panjang Astra International bermula dari sebuah toko di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Perusahaan ini didirikan oleh Tjia Kian Liong (William Soeryadjaya), Tjian Kin Joe (Benyamin), dan Liem Peng Hong pada medio 1950-an. Ketiganya lantas mendaftarkan perusahaan Astra, yang diambil dari bahasa Latin yang berarti bintang, ke notaris dengan modal Rp2,5 juta saat itu. 

Pada 1957, Astra mulai beroperasi sebagai perusahaan dagang. Sejumlah produk yang diperdagangkan Astra adalah limun, pasta gigi, sampai minyak goreng. Hingga rentang tahun 1960-an, perusahaan Astra mengalami dinamika usaha, terutama pada periode 1965. 

2. Bisnis Terus Berkembang, Fokus di Otomotif

Tahun 1969, Astra menjadi distributor kendaraan Toyota di Indonesia. Astra, melalui PT Gaya Motor saat itu menjadi agen tunggal Toyota. 

Kemudian tahun 1970, Astra ditunjuk sebagai distributor tunggal sepeda motor Honda di Indonesia. Astra juga berhasil jadi distributor tunggal mesin perkantoran Xerox di Indonesia. 

Tahun 1971, Astra mendirikan PT Federal Motor yang kini menjadi PT Astra Honda Motor sebagai pabrik perakitan sepeda motor Honda. Astra juga mendirikan PT Toyota Astra Motor (TAM) sebagai agen tunggal Toyota. Pada tahun yang sama, diluncurkan produk sepeda motor Honda 90 Z (90cc). 

Tahun 1972, Astra lantas masuk ke industri alat berat dengan mendirikan PT United Tractors. Astra pun menjadi agen tunggal pemasaran produk Daihatsu pada 1973. Pada tahun yang sama, manajemen memutuskan PT Multi Agro Corporation untuk ambil alih divisi agribisnis Astra. 

Pada 1978, Astra mendirikan PT Daihatsu Indonesa. Berlanjut pada 1981, Astra mendirikan ventura dengan Toyota Motor Corp di Jepang, berupa PT Toyota Astra Motor dan meluncurkan Toyota Kijang sebagai perintis mobil keluarga di Indonesia. 

Tahun 1983, Astra mendirikan PT Astra Agro Niaga, sebagai cikal bakal PT Astra Agro Lestari. Beranjak ke tahun 1988, Astra menerbitkan obligasi berjangka 5 tahun senilai Rp 60 miliar dan tercatat di Bursa Efek Surabaya.

Perlu diingat, pendirian Astra Group tidak lepas juga atas peran Mochamad Thohir alias Teddy Thohir. Thohir, yang juga ayah Garibaldi Thohir (Adaro) dan Erick Thohir (Mahaka Group), bergabung bersama William Soerjadjaja untuk membangun Astra Group sejak awal. 

3. IPO Tahun 1990

Tahun 1990, Astra melakukan penawaran umum perdana (IPO) atas 30 juta lembar sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya (kini Bursa Efek Indonesia). Nama perusahaan pun berubah dari Astra International Inc menjadi Astra International Tbk dengan kode emiten ASII. 

Saat IPO, harga saham ASII tercatat Rp14.850 per lembar saham. Dalam perjalanannya, ASII sempat melakukan pemecahan harga saham alias stock split, right issue, dan penerbitan saham bonus. 

Sehingga kalau disesuaikan dengan nilai perdagangan saat ini, harga saham ASII saat IPO senilai Rp104,35 per saham. Angka ini tentu jauh di atas harga saham ASII saat ini. Pada awal 2021 misalnya, harga ASII sempat tembus Rp6.700 per lembarnya.

Beranjak ke tahun 2004, Astra International pun mengambil alih 31,5 persen kepemilikan PT Bank Permata Tbk. Lantas pada 2005, Astra merambah industri jalan tol dengan mengakuisisi 34 persen saham PT Marga Mandala Sakti. 

4. Investasi ke Gojek

Pada 2018 lalu, ASII melakukan investasi sebesar US$150 juta atau setara Rp2 triliun untuk mengambilalih bagian saham baru yang diterbitkan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (GOJEK). Pada 2019, nilai investasi ini pun bertambah hingga US$250 juta. 

Bentuk kerja sama antara Astra International dan Gojek dituangkan dalam joint venture bernama Gofleet. Perusahaan ini bergerak di bidang pengadaan dan penyewaan mobil. 

Adanya merger antara Gojek dan Tokopedia pada 2021 ini, dipastikan tidak akan mempengaruhi porsi kepemilikan Astra International di dalam Gojek. Mengapa perusahaan besar seperti Astra dan juga perusahaan-perusahaan lain terpikat berinvestasi di perusahaan teknologi? Simak ulasannya dalam artikel berikut ini: Ketika Big Caps Jatuh Hati ke Perusahaan Digital

 

Bisnis