Profil Hartono Bersaudara, Orang Terkaya Indonesia Pemilik Djarum dan BCA

Dika Aksara

[Waktu baca: 5 menit]

Pernah mendengar kisah tentang seorang triliuner yang mendapat medali perunggu di gelaran Asian Games 2018 lalu? Dia adalah Michael Bambang Hartono, yang tahun 2021 ini menginjak usia 81 tahun.

Atlet bridge ini berhasil meraih medali perunggu pada Asian Games di Jakarta pada 2018. Ia pun berhak mendapat bonus tanpa potong pajak sebesar Rp250 juta yang diberikan pemerintah.

Terus untuk apa uang itu? Tentu saja bukan untuk dirinya. Bambang menyumbangkan seluruh bonusnya untuk pembinaan olahraga bridge nasional. Bagi seorang Bambang Hartono yang merupakan pemilik perusahaan rokok raksasa Indonesia, Djarum sekaligus pemilik bank swasta terbesar di Tanah Air, Bank Central Asia, bermain bridge barangkali hanya untuk menyalurkan kegemaran. Bukan untuk mencari tambahan pemasukan!

Bambang bersama adiknya, Robert Budi Hartono, kembali masuk dalam daftar 100 orang terkaya di dunia tahun 2021. Budi menempati urutan ke-86 orang terkaya dunia, sementara Bambang duduk di peringkat ke-89. Keduanya pun mengukuhkan diri sebagai orang terkaya di Indonesia, peringkat yang dihuninya selama beberapa tahun belakangan. 

Lantas seperti apa profil Hartono Bersaudara? Bagaimana kisah hidup mereka hingga mencapai kekayaan yang melimpah seperti sekarang? Simak artikel Big Alpha berikut ini. 

1. Menggeluti Bisnis Sejak Muda

Michael Bambang Hartono, bernama asli Oei Hwie Siang, lahir di Semarang pada 1939. Sementara sang adik, Robert Budi Hartono, bernama asli Oei Hwie Tjhong lahir pada 1941 di Kudus, Jawa Tengah. 

Dua bersaudara ini telah menggeluti dunia bisnis sejak usia muda. Perjalanan bisnis Hartono bersaudara bermula tahun 1951, saat ayah mereka Oei Wie Gwan membeli perusahaan rokok NV Murup yang dilanda masalah keuangan. 

NV Murup memproduksi rokok dengan merek dagang 'Djarum Gramofon'. Oleh Oei Wie Gwan, manajemen perusahaan dibenahi dan merek dagang rokok pun diubah menjadi 'Djarum' saja. 

Seiring berjalannya waktu, rokok Djarum pun berkembang pesat. Kapasitas produksi pada 1962 tercatat 329 juta batang per tahun. Namun setahun berselang, perusahaan Djarum mengalami musibah. Pabrik rokok Djarum terbakar habis, menyisakan pabrik di kawasan Kliwon, Kudus, Jawa Tengah. 

Tak lama setelahnya, Oei Wie Gwan meninggal dunia. Bisnis pun diturunkan kepada dua anaknya, Bambang dan Budi Hartono. Duo Bambang-Budi Hartono yang usianya masih relatif muda saat itu langsung ambil alih kendali perusahaan. Mereka tak ingin musibah kebakaran dan wafatnya sang ayah justru memperburuk kondisi perusahaan. 

Bambang dan Budi Hartono melakukan berbagai pembenahan, termasuk dengan mendatangkan peralatan produksi dan pengolahan tembakau dari Inggris dan Jerman Barat. Dalam waktu beberapa tahun saja, usaha rokok Djarum berhasil bangkit. 

Sepanjang 1965 sampai 1968, produksi rokok Djarum berhasil mencapai 3 miliar batang. Hartono bersaudara terbukti punya visi bisnis yang cukup jeli. Pada 1973, Djarum memperluas pasar ke Amerika Serikat, Arab Saudi, Jepang, dan negara-negara lain. Kapasitas produksi di Indonesia sendiri mencapai 48 miliar batang per tahun, 20 persen dari total produksi rokok nasional saat itu. 

2. Melebarkan Lini Bisnis

Duet Bambang dan Budi Hartono tak berpuas diri dengan segala pencapaiannya di perusahaan rokok Djarum. Pada 1975, mereka mendirikan PT Indonesia Electronic & Engineering yang kemudian pada 1976 berubah menjadi PT Hartono Istana Electronic. 

Setelah merger, namanya kembali berganti jadi PT Hartono Istana Teknologi. Perusahaan ini memproduksi berbagai alat elektronik dengan merek dagang Polytron. Polytron dikenal sebagai perusahaan yang memproduksi televisi, kulkas, pengeras suara dan sebagainya.

3. Ambil Alih BCA

Bambang dan Budi Hartono cukup jeli dengan melakukan diversifikasi usaha. Setelah mengembangkan bisnis di sektor rokok, Hartono bersaudara mengepakkan sayap ke sektor perbankan. Ndilalah, krisis moneter pada 1997-1998 memberi kesempatan bagi Hartono nersaudara untuk masuk ke sektor ini. 

Hartono bersaudara mengambil alih kepemilikan Bank Central Asia (BCA), bank swasta terbesar Indonesia pada saat ini, dari keluarga Salim yang saat itu kehilangan kontrol akibat krisis ekonomi yang menghantam Indonesia. 

Pengambilalihan saham ilakukan melalui konsorsium FarIndo Investments (Mauritius) Ltd dan Farallon Capital Management LLC. Saat itu, 51,15 persen saham BCA berhasil dikuasai. Investasi di BCA inilah yang membuat kekayaan Hartono Bersaudara terus melambung. Hingga akhir tahun 2020 lalu, aset BCA tembus Rp1.000 triliun. 

4. Lirik E-Commerce

Grup Djarum di bawah kepemilikan Hartono bersaudara ternyata tak henti mengembangkan bisnis. Djarum merambah ke bisnis properti dengan mengelola sejumlah gedung perkantoran dan hotel di lokasi-lokasi sentral ibu kota. 

Grand Indonesia, Hotel Kempinski, Menara BCA, dan gedung-gedung di kawasan lain adalah sebagian dari portofolio properti dari Hartono bersaudara. 

Djarum juga semakin tertarik menyuntikkan modalnya ke startup dan sejumlah e-commerce melalui PT Global Digital Prima (GDP) Venture. Anak usaha Djarum ini menaungi e-commerce Blibli, Kaskus, MindTalk, LintasME, Crazymarket, hingga DailySocial. 

Selain itu, GDP Venture juga tercatat pernah menyuntikkan modal ke Gojek, Tiketcom, hingga Halodoc. Djarum juga menggelontorkan dana ke berbagai media online yang terbilang baru, seperti Kumparan, Historia, Kincir, Narasi, Lokadata, Opini, Cermati, dan IDN Media. 

Di samping itu, grup Djarum juga merambah aplikasi perjalanan seperti Tiket.com. Tiket.com dibeli oleh Blibli pada 2017. Beberapa tahun setelah akuisisi itu, Tiket.com berencana melakukan penawaran umum perdana saham (IPO). Simak ulasannya mengenai rencana IPO salah satu perusahaan teknologi itu dalam artikel berikut: Layakkah Menanti Unicorn Melakukan IPO?

5. Kekayaan Ratusan Triliun

Seperti yang sudah dibahas secara singkat di atas, Bambang dan Budi Hartono masuk dalam daftar 100 orang terkaya dunia versi Majalah Forbes. Budi duduk di peringkat lebih atas, yakni urutan ke-86 dengan nilai kekayaan US$20,5 dolar atau setara dengan Rp287 trilun (kurs Rp14.000).

Sementara Bambang Hartono berada di urutan ke-89 orang terkaya dunia dengan nilai kekayaan US$19,7 miliar atau setara Rp275,8 triliun. Budi dan Bambang berada di peringkat pertama dan kedua orang terkaya di Indonesia. Sejauh ini, belum ada orang yang sanggup "mengalahkan" jumlah harta mereka di Tanah Air.

Sumber kekayaan utama Hartono bersaudara berasal dari Djarum dan BCA. Bambang dan Budi Hartono memiliki mayoritas saham BCA, yakni 54,94 persen lewat perusahaan afiliasi PT Dwimuria Investama Andalan. Djarum merupakan salah satu perusahaan rokok raksasa Indonesia, sementara BCA menjadi bank swasta terbesar di Indonesia. 
 

Tags:

Bisnis