Pilihan Investasi Risiko Rendah di Tengah Tren Suku Bunga Rendah

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 4 menit]

Bank Indonesia kembali menurunkan tingkat suku bunga acuan menjadi 3,5% pada akhir Februari 2021. Tingkat suku bunga itu merupakan yang terendah sejak krisis moneter 1998.

Penurunan itu dilakukan sebagai respon bank sentral terhadap kondisi perekonomian yang terkontraksi akibat pandemi virus corona. Penurunan ini diharapkan dapat menggairahkan perekonomian Indonesia.

Penurunan BI 7-Days Reverse Repo Rate itu akan diikuti dengan penurunan tingkat suku bunga simpanan di produk simpanan perbankan seperti deposito atau tabungan. Sebelum pandemi, bunga deposito sejumlah bank besar mencapai 5%-5,5%. 

Saat pandemi dan setelah suku bunga acuan diturunkan, bunga deposito sejumlah bank besar tersebut diturunkan menjadi sekitar 3%. Deposito (dan tabungan) adalah produk yang disukai para pemilik dana dengan profil risiko konservatif atau investor dengan tingkat toleransi risiko yang rendah.

Apakah ada produk investasi dengan risiko rendah namun memberikan imbal hasil yang lebih tinggi daripada deposito? Ada, salah satunya adalah reksa dana pasar uang. Kami pernah mengulas dampak penurunan suku bunga acuan tersebut terhadap reksa dana dalam artikel berikut: BI 7DRR Turun Lagi, Bagaimana Efeknya ke Reksa Dana?

Reksa Dana Pasar Uang

Pada dasarnya, reksa dana pasar uang adalah reksa dana yang isinya instrumen deposito, Sertifikat Bank Indonesia hingga obligasi dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun. Intinya, 100% dana yang dikelola dalam reksa dana tersebut ditempatkan di pasar uang.

Kinerja reksa dana pasar uang ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya perubahan suku bunga acuan. Pada saat suku bunga acuan turun, potensi keuntungan reksa dana pasar uang juga memiliki kemungkinan untuk turun mengingat salah satu portofolionya adalah deposito. 

Kendati demikian, mengapa reksa dana pasar uang memiliki potensi imbal hasil yang lebih tinggi daripada deposito? Seperti diketahui, reksa dana dikelola oleh manajer investasi yang biasanya bernaung dalam suatu perusahaan manajemen aset.

Dalam mengelola dana tersebut, manajer investasi menginvestasikan dana kelolaan reksa dana pasar uang ke sejumlah instrumen yang sudah disebutkan di atas seperti deposito atau obligasi jatuh tempo kurang dari setahun.

Tentu saja, dana kelolaan yang akan dialokasikan bukan hanya Rp10 juta atau Rp25 juta, melainkan puluhan/ratusan miliar bahkan hingga triliunan. Dengan jumlah dana yang lebih besar, manajer investasi biasanya akan mendapatkan penawaran bunga deposito lebih tinggi dari bank daripada nasabah biasa. Hal ini merupakan bargaining position dari pengelola dana besar.

Di samping itu, reksa dana pasar uang juga berisi surat utang dengan jatuh tempo kurang dari 12 bulan. Berdasarkan prakteknya, imbal hasil deposito biasanya lebih rendah daripada obligasi. Dengan kombinasi deposito dan obligasi tersebut, potensi imbal hasil reksa dana pasar uang bisa lebih tinggi daripada deposito biasa.

Baca juga: Ide Cuan: Cara Memilih Reksa Dana 2021

Memeriksa Produk Reksa Dana Pasar Uang

Apakah semua reksa dana pasar uang mengungguli deposito dalam hal imbal hasil? Belum tentu. Untuk memastikannya, calon investor dapat memeriksanya sendiri.

Bagi para calon investor yang berminat terhadap reksa dana pasar uang dapat memeriksa perbandingan kinerja reksa dana pasar uang tersebut dengan imbal hasil deposito. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah melalui laporan berkala bernama fund fact sheet (FFS) reksa dana yang biasanya dapat diunduh di situs manajer investasi atau aplikasi reksa dana.

Dalam FFS, deposito sering disebut sebagai benchmark (tolok ukur). Dengan demikian, tinggi atau rendahnya kinerja reksa dana pasar uang memiliki perbandingan yang jelas yaitu bunga deposito.

Dalam FFS itu, calon investor dapat melihat grafik garis yang menunjukkan perbandingan kinerja dua instrumen investasi itu. Jika kinerja reksa dana itu dapat mengungguli tolok ukurnya secara berkelanjutan maka produk itu layak dipertimbangkan untuk dikoleksi, begitupula sebaliknya. Tertarik dengan reksa dana pasar uang?

 


 

Investasi