Ide Cuan: Cara Memilih Reksa Dana 2021

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 5 menit]

Jumlah reksa dana terus bertambah dari waktu ke waktu. Pada 2016, jumlah reksa dana hanya 1.425, kini mencapai 2.231 per Januari 2021. Artinya, ada peningkatan lebih dari 50% dalam waktu empat tahun.

Bagi calon investor reksa dana, banyaknya produk ini seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, calon investor jadi memiliki banyak pilihan. Di sisi lain, calon investor menjadi kebingungan memilih satu atau lebih dari banyaknya pilihan!

Bagaimana cara memilih reksa dana di antara banyaknya pilihan itu? Apakah hanya melihat semata-mata potensi keuntungan yang ditawarkan? Apakah hanya melihat manajer investasinya? 

Tidak mudah memang memilih reksa dana di antaranya banyaknya pilihan. Bagi investor yang sudah lama berinvestasi reksa dana pun terkadang menghadapi berbagai dilema dalam mengambil keputusan. 

Namun, sejumlah aspek berikut setidaknya dapat menjadi pertimbangan dasar dalam memilih reksa dana. Apa saja itu? Simak tipsnya berikut ini!

1. Mengenal Diri Sendiri

Sebelum mengenal produk reksa dana yang akan dibeli, tidak ada salahnya calon investor mengenal diri sendiri terlebih dulu. Apa maksudnya? Maksudnya, calon investor dapat mengenal profil risiko diri sendiri.

Pada dasarnya, profil risiko menggambarkan sejauh mana seseorang dapat mentoleransi risiko yang melekat dari suatu produk investasi. Seperti diketahui, produk investasi ada yang berisiko tinggi, sedang dan rendah.

Nah, mengenal profil risiko berarti mengenal seberapa besar risiko yang bisa dihadapi. Apakah aku sanggup menghadapi risiko tinggi? Apakah aku sanggup melihat "angka merah" atau penurunan yang besar dari suatu harga reksa dana? Apakau aku cukup puas dengan potensi keuntungan yang relatif rendah tapi stabil?

Berbagai pertanyaan itu setidaknya perlu dijawab sebelum mengambil keputusan investasi. Untuk memudahkan proses tersebut, calon investor dapat memasukkan dirinya dalam salah satu kategori profil risiko investasi berikut ini: konservatif, moderat atau agresif.

Konservatif biasanya tidak cocok dengan produk investasi berisiko tinggi, moderat biasanya cocok dengan produk investasi berisiko tinggi yang dikombinasikan dengan produk investasi berisiko sedang atau menengah dan agresif biasanya cocok dengan produk investasi berisiko tinggi.

Nah, apakah kamu sudah tahu memiliki profil risiko seperti apa?

2. Mengenal Jenis Reksa Dana

Seperti disinggung di awal artikel, ada banyak sekali produk reksa dana. Jumlahnya mencapai lebih dari 2.000 reksa dana. Wah, banyak sekali ya! Bagaimana memilih satu atau dua produk saja dari 2.000 pilihan itu?

Untuk memudahkan proses seleksi, ada baiknya mengenal empat jenis reksa dana secara umum yaitu reksa dana pasar uang, reksa dana saham, reksa dana campuran dan reksa dana pendapatan tetap. 

Keempat jenis reksa dana itu berbeda-beda. Perbedaannya diulas secara sederhana dalam artikel ini: Mengenal 4 Jenis Reksa Dana Paling Populer.

Pada dasarnya, pemilihan produk reksa dana dapat disesuaikan dengan profil risiko yang ditentukan. Misalnya, setelah mengenali bahwa profil risikomu adalah konservatif, kamu bisa memilih produk reksa dana pasar uang yang memang diperuntukkan bagi investor konservatif.

Reksa dana pasar uang adalah produk reksa dana yang paling rendah risikonya dengan potensi keuntungan yang lebih tinggi daripada instrumen lain seperti deposito. Sebaliknya, profil risiko agresif bisa memilih reksa dana saham dengan potensi keuntungan yang lebih tinggi dengan risiko yang tinggi pula.

3. Menyeleksi Produk

Setelah menyaring jenis reksa dana, calon investor bisa mulai memilih produk reksa dana apa yang akan dipilih. Dilihat di permukaan, produk reksa dana itu hampir mirip-mirip satu sama lain sehingga terkesan sulit dibedakan.

Untungnya kini terdapat berbagai marketplace reksa dana yang memudahkan calon investor untuk memilih produk yang juga biasa disebut mutual fund ini. Dalam marketplace tersebut, calon investor biasanya sudah disodorkan berbagai produk dengan kriteria tertentu, misalnya imbal hasil tertinggi dalam periode tertentu.

Dari berbagai produk yang disodorkan itu, calon investor bisa memilih beberapa (3 atau 4 produk) untuk diteliti lebih jauh. Salah satu cara sederhana untuk meneliti tersebut adalah membaca laporan bulanan yang biasa disebut sebagai fund fact sheet (FFS).

Baca juga: Mengenal Fund Fact Sheet Dalam Investasi Reksa Dana

4.  Membuat Kriteria dari FFS

Dalam FFS itu, calon investor bisa mengetahui berbagai informasi mengenai Nilai Aktiva Bersih (NAB), NAB per Unit Penyertaan (harga reksa dana), portofolio efek (investasi apa saja yang dipilih oleh reksa dana tersebut), kinerja, profil risiko hingga biaya transaksi.

Berdasarkan FFS, calon investor bisa mencocokkan profil risiko diri sendiri dan produk yang akan dibeli hingga memeriksa apakah kinerja reksa dana tersebut mampu mengungguli tolok ukurnya (benchmark) secara konsisten dan berkelanjutan.

Dari berbagai informasi itu, calon investor dapat membuat sejumlah kriteria mengenai "reksa dana idaman". Kriteria itu bisa ditempatkan dalam tabel dengan kolom "ya" dan "tidak" yang bisa diisi centang (check list) seperti ini:

Misalnya, Sisca adalah seorang calon investor yang menganggap dirinya memiliki profil risiko konservatif. Oleh karena itu, dia mencari produk reksa dana yang sesuai dengan profil risiko tersebut. Jika FFS suatu produk reksa dana menyatakan bahwa profil risikonya adalah konservatif maka dia bisa mengisi centang di kolom "ya".

Lalu dalam hal kinerja. Sebagai seorang investor dengan profil risiko konservatif, Sisca akan memilih reksa dana pendapatan uang. Oleh karena itu, Sisca perlu membandingkan kinerja reksa dana pendapatan uang  dengan tolok ukurnya yaitu bunga deposito bank besar.

FFS yang baik biasanya mencantumkan grafik garis untuk membandingkan dua produk investasi itu. Jika reksa dana yang diperiksa FFS-nya itu lebih unggul daripada deposito secara berkelanjutan dari waktu ke waktu, calon investor dapat membeli reksa dana tersebut.

Sebagai contoh, bunga deposito rata-rata dalam suatu waktu tertentu mencapai 4% per tahun. Jika reksa dana pendapatan uang itu menghasilkan keuntungan  6% per tahun maka reksa dana tersebut mengungguli tolok ukurnya. Dalam baris kinerja di tabel, Sisca bisa mengisi centang di kolom "ya".

Dalam hal NAB atau  jumlah dana masyarakat yang ditempatkan di suatu reksa dana, Sisca bisa melihat besaran NAB tersebut dan dibandingkan dengan produk sejenis. Semakin besar NAB tersebut maka semakin besar pula kepercayaan masyarakat (investor individu/institusi) terhadap manajer investasi tersebut karena bersedia "menyerahkan" dananya untuk dikelola. 

Misalnya, ada empat pilihan produk reksa dana pendapatan uang. Produk 1 memiliki NAB Rp100 miliar, produk 2 NAB Rp1 triliun, produk 3 NAB Rp900 miliar dan produk 4 NAB Rp950 miliar. Sisca bisa memilih reksa dana dengan NAB terbesar atau kedua terbesar. 

Terakhir, calon investor bisa memeriksa rekam jejak manajer investasi dengan menelusuri berbagai berita di internet. Jika manajer investasi itu ternyata jarang atau tidak pernah diberitakan negatif oleh media massa, calon investor bisa mempercayakan dananya untuk dikelola manajer investasi tersebut. Selamat berinvestasi!

 

Tags:

Investasi