Pecah Kongsi dengan PepsiCo! Ini Dampaknya ke Bisnis Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP)

Date:

[Waktu baca: 6 menit]

Setelah melakukan akuisisi atas seluruh saham Pinehill Company Limited (PCL) tahun lalu, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) kembali melakukan akuisisi pada awal tahun ini. Namun, kali ini ICBP tidak mengakuisisi perusahaan asing, melainkan saham pihak lain dalam anak usaha yang sudah dimiliki ICBP.

Anak usaha tersebut yakni PT Indofood Fritolay Makmur (IFL). Anak usaha ini didirikan pada 1990 oleh ICBP dan PepsiCo. Sejak awal, ICBP menggenggam 51% saham IFL, sedangkan PepsiCo melalui Fritolay Netherlands Holding B.V. memiliki 49%. IFL bergerak di bisnis snack atau makanan ringan.

Pada Februari 2021, kemitraan tersebut akhirnya resmi berakhir. Pasalnya, ICBP  memutuskan untuk membeli seluruh saham IFL yang dimiliki oleh PepsiCo. Transaksi sudah terjadi pada Rabu, 17 Februari 2021 lalu. ICBP merogoh kocek Rp494 miliar untuk akuisisi itu.

Transaksi ini tentu memiliki pengaruh terhadap bisnis ICBP. Namun, seberapa besar? Positifkah atau justru negatif?

Baca juga: Prospek ICBP Setelah Akuisisi Pinehill

Siapa itu PepsiCo?

PepsiCo Inc. merupakan salah satu perusahaan multinasional dengan merek dagang terkenal di industri makanan dan minuman. Produk yang terasosiasikan langsung dengan merek ini tidak lain adalah minuman bersoda, Pepsi.

Namun, Pepsi bukanlah satu-satunya produk yang dijual PepsiCo. PepsiCo juga menjual makanan ringan dan berbagai merek minuman lainnya. Beberapa merek makanan ringan yang cukup populer antara lain Lay’s, Doritos, dan Cheetos. Ketiga merek makanan ringan ini dipasarkan juga di Indonesia melalui IFL.

Selain itu, PepsiCo juga pemilik merek Quaker Oats, Mirinda, 7up, Walkers, Tostitos, Aquafina, Tropicana, dll.

PepsiCo didirikan tahun 1965 oleh CEO Pepsi-Cola yakni Donald Kendall dan CEO Frito-Lay yakni Herman Lay. Saat ini, produk mereka sudah dipasarkan di lebih dari 200 negara di seluruh dunia. PepsiCo secara total memiliki 23 merek yang masing-masing menghasilkan penjualan ritel lebih dari US$1 miliar per tahun.

Perusahaan ini kini memiliki tujuh divisi, masing-masing dengan sejarah dan cara berbisnis yang unik. Ketujuhnya yakni PepsiCo Beverages Amerika Utara; Frito-Lay Amerika Utara; Quaker Foods Amerika Utara; Amerika Latin; Eropa; Afrika, Timur Tengah dan Asia Selatan; dan Asia Pasifik, Australia / Selandia Baru dan Cina.

Di Indonesia, kehadiran PepsiCo sangat erat berhubungan dengan Grup Indofood. Namun, tampaknya setelah melepas sahamnya pada IFL, PepsiCo harus berjuang sendiri untuk bertahan di pasar Indonesia.

Namun, kalaupun PepsiCo berencana untuk terus berbisnis makanan ringan di Indonesia, mereka harus menunggu setidaknya tiga tahun ke depan. Hal itu menjadi bagian dari perjanjian jual beli saham IFL.

Adapun, dengan pecahnya kongsi antara ICBP dan PepsiCo, IFL akan mengakhiri perjanjian lisensi dengan PepsiCo. Artinya, IFL tidak akan lagi menjual produk makanan ringan dengan merek-merek milik PepsiCo, seperti Lay’s, Doritos, dan Cheetos.

Proses penyelesaian penghentian produksi dan penjualan merek-merek ini ditargetkan rampung dalam 6 bulan masa transisi atau hingga Agustus 2021. Setelah itu, tidak ada lagi merek-merek makanan ringan itu di Indonesia. PepsiCo sendiri juga dilarang untuk memasarkan produk-produk itu di Indonesia, setidaknya selama 3 tahun ke depan sejak Agustus 2021.

“Fritolay, PepsiCo dan/atau pihak afiliasi lainnya tidak boleh memproduksi, mengemas, menjual, memasarkan atau mendistribusikan produk makanan ringan apapun di Indonesia yang bersaing dengan produk IFL selama 3 tahun dari sejak berakhirnya masa transisi,” demikian keterangan ICBP dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.

Dalam keterangan resmi terpisah, PepsiCo mengungkapkan persetujuannya atas klausul tersebut. Namun, perusahaan akan tetap menawarkan produk Quaker Oat di Indonesia. Perseroan juga mengungkapkan rencana untuk kembali ke pasar Indonesia dengan merek-merek makanan ringan mereka.

"Untuk periode tiga tahun sejak Agustus 2021, PepsiCo dan afiliasinya telah sepakat untuk tidak memproduksi, mengemas, menjual, memasarkan, atau mendistribusikan produk makanan ringan yang bersaing dengan produk IFL di Indonesia," ungkap manajemen dalam siaran pers.

Baca juga: Kenapa Saham INDF dan ICBP Terkapar?

Dampak Transaksi

Pada dasarnya, transaksi ini tidak bersifat material, sebab tidak mencapai 25% dari total ekuitas ICBP yang mencapai Rp47,7 triliun per September 2020. Transaksi ini juga sejatinya tidak akan berpengaruh signifikan pada kinerja keuangan ICBP secara umum.

Hilangnya merek-merek PepsiCo dari daftar penjualan ICBP tentu akan berpengaruh terhadap penjualan di segmen makanan ringan. Ketiga merek makanan ringan milik PepsiCo tersebut boleh jadi sudah memiliki penggemar setia selama ini.

Hilangnya produk-produk itu dari pasar tentu akan mengurangi pangsa pasar ICBP. Konsumen produk-produk tersebut pun belum tentu akan beralih ke produk makanan ringan ICBP lainnya, sebab persaingan di bisnis makanan ringan cukup ketat.

Adapun, beberapa merek makanan ringan ICBP yang sudah cukup dikenal antara lain Chitato, Qtela, Jetz, dan Chiki.

Namun, seberapa besar dampaknya pada kinerja keuangan ICBP?

Jika mengacu pada laporan kinerja per September 2020, kontribusi segmen makanan ringan pada total pendapatan ICBP hanya 6%. Nilainya mencapai Rp2,13 triliun. Kendati demikian, segmen ini masih bertumbuh 2,9% year on year tahun lalu di tengah tekanan pandemi.

Berikut ini kinerja pendapatan ICBP berdasarkan segmen usahanya (dalam Rp miliar):

Kontributor utama terhadap pendapatan ICBP adalah mi instan, yakni 68%. Segmen ini pun tumbuh cukup tinggi pada tahun lalu, yakni 5,7% yoy. Produk minuman susu ICBP juga tumbuh cukup baik tahun lalu. Bahkan, penjualan di segmen penyedap makanan melesat hingga 21,5% yoy menjadi Rp2,3 triliun.

Kontribusi segmen penyedap makanan pun meningkat paling tinggi, yakni naik 100 bps dari 6% menjadi 7%. Hal ini tampaknya disebabkan karena adanya pembatasan sosial dan kekhawatiran masyarakat untuk makan di restoran menyebabkan lebih banyak masyarakat memasak sendiri makanannya di rumah.

Selain itu, IFL sejak semula sudah menjadi anak usaha ICBP dengan kepemilikan saham mayoritas. Artinya, kinerja keuangan IFL sejak awal sudah dikonsolidasikan ke dalam pendapatan ICBP. Dengan demikian, pertambahan kepemilikan ICBP pada IFL hingga 100% tidak berdampak terhadap kenaikan pembukuan pendapatan ICBP.

Perbedaan pada pembukuan laporan keuangan ICBP hanya akan terlihat pada pos laba, yang mana laba bersih yang diatribusikan pada pemilik entitas induk akan sedikit meningkat, sebab bagian laba yang dibukukan untuk PepsiCo kini sepenuhnya milik ICBP.

Dengan demikian, aksi transaksi ini memiliki dampak campuran bagi ICBP. Di satu sisi, hal ini menyebabkan pangsa pasar ICBP berpotensi berkurang karena hilangnya sejumlah merek makanan ringan. Di sisi lain, bagian laba yang dibukukan ICBP sedikit meningkat.

Namun, dalam jangka pendek keputusan transaksi ini berpengaruh pada posisi kas ICBP, sebab transaksi ini menggunakan kas internal perusahaan. ICBP mengucurkan dana Rp494 miliar untuk membeli saham IFL, padahal laba usaha yang dibukukan dari segmen makanan ringan hanya Rp214 miliar per September 2020.

Bahkan, pada September 2019, segmen ini justru menyumbang kerugian usaha senilai Rp64,5 miliar.

Kinerja Saham ICBP

Tampaknya, hal inilah yang menyebabkan pasar kurang mengapresiasi keputusan ICBP ini. Apalagi, kondisi pandemi saat ini belum sepenuhnya berakhir, sehingga aksi korporasi yang menggerus kas secara signifikan seperti ini menjadi cukup sensitif.

Mengacu pada data RTI, saham ICBP selama sepekan terakhir terus memerah, melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sepanjang tahun ini. Pada hari transaksi saham IFL terjadi, yakni Rabu (17 Februari 2021), saham ICBP ditutup tidak berubah dibanding hari sebelumnya, yakni di level Rp8.825.

Sehari setelahnya, pada Kamis (18 Februari 2021) saham ICBP justru turun 0,85% ke level Rp8.750. Pada Jumat (19 Februari 2021), saham ICBP kembali turun setidaknya mencapai 1,43% ke level Rp8.600 hingga pukul 11.00 WIB.

Pasar tampaknya mempertanyakan urgensi keputusan ICBP membeli IFL saat ini. Keputusan itu dinilai tidak mendesak dan tidak memiliki dampak strategis pada bisnis perseroan, sebaliknya malah menggerus cadangan kas.

Namun, terlepas dari itu, prospek bisnis ICBP masih positif, apalagi selama pandemi belum berakhir, masyarakat masih akan cenderung menghindari makan di restoran. Alhasil, permintaan terhadap produk makanan kering dan bumbu penyedap relatif akan tetap tinggi, demikian pula dengan produk makanan dan minuman lainnya dari ICBP.

Selain itu, tahun lalu perseroan sudah merampungkan transaksi yang lebih strategis, yakni pembelian saham Pinehill. Transaksi ini jauh lebih material ketimbang transaksi saham IFL, sebab nilainya mencapai US$2,99 miliar atau sekitar Rp42,2 triliun dengan kurs Rp14.100 per dolar AS.

Untuk melakukan transaksi itu, ICBP menambah utang hingga US$2,05 miliar dengan tenor 5 tahun. Para pemberi pinjaman yakni Bank of China (Hong Kong) Limited, BNP Paribas, Mizuho Bank Ltd – Singapore Branch, Natixis – Hong Kong Branch, Oversea-Chinese Banking Corporation Limited, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation – Singapore Branch.

Tahun ini, konsolidasi kinerja Pinehill ke dalam ICBP akan lebih terlihat. Aksi akuisisi ini strategis, sebab Pinehill merupakan mitra lama ICBP dan menguasai pangsa pasar mi instan yang cukup besar di dunia.

Pinehill merupakan grup usaha yang bergerak di bidang industri pembuatan mie instan di Arab Saudi, Nigeria, Turki, Mesir, Kenya, Maroko, Serbia dan Ghana. Grup ini sudah menggunakan merek Indomie untuk pemasaran produk mereka berdasarkan perjanjian lisensi dengan induk ICBP, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

Adapun, dalam keterangan resmi yang pernah dirilis ICBP, manajemen perusahaan mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis inkremental, perseroan dapat meningkatkan pendapatan maupun laba bersih hingga rata-rata sekitar 20% per tahun dengan akuisisi ini dibandingkan dengan jika ICBP tidak mengakuisisi Pinehill.

Tampaknya, ICBP kini tengah berusaha memperkuat posisinya di pasar melalui aksi korporasi anorganik. Keputusan bisnis ini tentu sudah diperhitungkan dampaknya dalam jangka panjang. Meskipun saat ini sahamnya cenderung terus terkoreksi, tetapi secara prospek ICBP secara jangka panjang masih menarik.

Kinerja keuangannya pun sepanjang 2020 lalu masih cukup solid. Berikut ini laporan pendapatan dan labanya (dalam Rp triliun):

Lagi pula, koreksi saham ICBP saat ini tampaknya cukup wajar terjadi, menimbang valuasinya sudah cukup tinggi. Jika mengacu pada data RTI, price to earning ratio (PER) ICBP ada di level 18,98 kali. Bandingkan dengan saham induknya, INDF, yang PER-nya masih di level 10,62 kali. Price to book value (PBV) ICBP juga cukup tinggi, di level 3,72 kali, sedangkan INDF masih di level 1,34 kali.