Nasib Seniman Ondel-ondel: Dihajar Pandemi, Dipukul Regulasi

Date:

[Waktu baca: 8 menit]

Cuaca Jakarta sedang sangat menyenangkan saat saya menghampiri Reza (23), seorang pegiat kesenian Betawi di kediamannya di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dengan matahari sore yang tidak seberapa menyengat kulit, Reza yang mengendarai motor matik mengajak saya untuk membuntutinya, menyusuri gang sempit di mana terdapat beberapa anak muda usia sekolah di ujung gang tengah nongkrong, yang belakangan saya ketahui adalah rekan-rekan Reza dalam berkesenian.

Lewat pintu belakang rumah, ia mengajak saya masuk ke ruang tamu. Dengan dialek Betawi yang begitu kental dan khas ia banyak bercerita tentang kehidupannya sebagai pegiat seni Betawi, sekaligus kisahnya menghidupi sanggar seni Betawi yang ia inisiasi, Sanggar Betawi Mustika Air Pancur.

Tidak Lahir dari Motif Ekonomi

Mendirikan sanggar seni Betawi bukanlah sesuatu yang berasal dari hasil pikir satu-dua malam. Ada proses panjang sampai akhirnya Reza memberanikan untuk memulai sanggar seni yang kelak dinamai Sanggar Betawi Mustika Air Pancur. Kegelisahan akan kondisi kampung tempatnya lahir, terlebih hasil amatannya terhadap perilaku anak muda di sekitar jadi permulaan kontemplasi dan diskursus dengan dirinya sendiri.

“Mungkin gak cuma di sini, tapi di tempat lain sama halnya. Kalo anak muda, pasti larinya ke hal negatif. Entah dalam bentuk apa, nih,” kata Reza menceritakan kegelisahannya.

“Saya bergaul ke kampung sono, saya bergaul ke daerah sono, tetep sama. Yang namanya [hal] negatif itu gak bakal hilang,” tambahnya lagi.

Melihat kondisi kampungnya, Reza memutar otak untuk menginisiasi kegiatan alternatif bagi pemuda kampung yang menurutnya lebih positif.

“Nah, saya berpikir nih. Kenapa kok di kampung sini gak ada orang yang mau ngorbanin diri [untuk menginisiasi suatu hal positif]. Akhirnya ya udah saya beraniin diri,” terangnya.

Tidak langsung mendirikan sanggar seni, Reza memulainya dari gerakan kerohanian. Selama tiga tahun, ia bergerak dari satu rumah ke rumah lain bak seorang sales kejar setoran yang menjajakan panci ataupun kompor paling mutakhir ke ibu-ibu setempat. Namun, lain sales lain pula Reza. Alih-alih kejar target penjualan, Reza keliling door to door tidak lain untuk mengajak kawan-kawannya ikut mengaji di masjid kampung.

“Cuma, ya, namanya [mengajak orang melakukan] hal positif. Emang susah diajaknya,” keluh Reza dengan logat Betawi yang sangat kentara diikuti tawa.

Setelah tiga tahun bersusah payah, rasa putus asa lantas menggelayuti alam pikiran Reza. Namun, sebagai warga totok kampung tersebut ia merasa memiliki tanggung jawab lebih untuk meninggalkan sesuatu ke lingkungan sekitar seiring dengan darah Betawi Kebayoran Lama yang mengalir di tubuhnya.

Singkat cerita, barulah setelah itu ia memutuskan untuk beralih dari gerakan kerohanian semata menjadi gerakan kebudayaan dengan Sanggar Betawi Mustika Air Pancur yang ia pilih atas celetukan mendiang ayahnya.

Reza, inisiator sekaligus penanggung jawab Sanggar Betawi Mustika Air Pancur sedang memainkan tehyan (Foto: Rizqona Faqihul Ilma)

Tanpa Motif Ekonomi Bukan Berarti Tidak Butuh Dana

Sebelum benar-benar berdiri, nama “Sanggar Betawi Mustika Air Pancur” terlontar begitu saja dari selorohan mendiang ayah Reza. Saat itu, Reza dan kawan-kawan tengah bersiap bermain lenong di acara tujuh belasan kampung.

Ketimbang bingung saat mempersilakan para pemain lenong yang dibentuk dadakan itu untuk naik pentas, ujug-ujug mendiang ayah Reza menitipkan pesan pada Reza untuk disampaikan kepada MC yang kurang lebih berbunyi seperti ini, “Bilangin ke MC-nya, Ja. Nanti kalau pas dipanggil, bilang aja dari ‘Sanggar Betawi Mustika Air Pancur.’”

Ia mengiyakan pesan mendiang ayahnya. Sembari di saat yang sama, ia merasa ingin benar-benar menjadikan “nama gelap” sanggar tadi menjadi nyata.

“Akhirnya kejadian, tapi dia [bapak] udah kaga ada [ketika sanggar sudah terbentuk],” cerita Reza dengan mata berkaca-kaca.

Ia menginsyafi bahwa mustahil rasanya untuk memulai suatu gerakan tanpa uang barang sepeserpun. Apalagi, dengan anggota sanggar yang ia ajak kebanyakan seorang pelajar, rasa-rasanya sangat tidak mungkin memungut iuran dari tiap kepala anggota sanggar untuk membeli alat segala rupa.

“Saya cicil, bener-bener saya cicil,” tutur Reza. “Gendang segala macem saya cicil, dikit-dikit lah ya namanya pengen bikin sama-sama gitu lah. Ibarat kata, saya mau ngajak, saya harus modal lah ya,” pungkasnya.

Gendang, jadi satu dari sekian banyak alat musik yang digunakan sebagai pengiring ondel-ondel (Foto: Rizqona Faqihul Ilma)

Sebagai sebuah sanggar seni Betawi, Reza meyakini bahwa menjalankan aktivitas seninya dengan peralatan lengkap ialah hal mutlak. Termasuk dalam memainkan ondel-ondel sebagai bagian dari kesenian Betawi. “Harus mengikuti pakem,” kalau saya meminjam perkataan Reza.

“Ada tuh pakemnya. Yang dimaksud pakemnya itu, kita menggunakan alat musik hidup dan barongan sepasang, laki-perempuan dengan tampilan rapi,” Reza menjelaskan pada saya cukup detail.

Mulai dari gong, keneng, kempul, gendang, kongahyan atau tehyan, kecrek, hingga gambang satu demi satu ia kumpulkan untuk melengkapi kebutuhannya berkesenian.

“Terus buat operasional sanggar biasanya dari mana uangnya tuh, Bang?” tanya saya di tengah percakapan yang kian seru.

Secara spesifik, jelas Reza, pemasukan untuk operasional sanggar biasanya mereka dapatkan dari gelaran hajatan. Biasanya para pemilik hajat menggunakan jasa arakan ondel-ondel untuk arak-arakan nikah ataupun arak-arakan sunat.

Namun, sebagaimana banyak bidang kehidupan lain yang juga tertampar pandemi, sanggar Reza juga tidak ketinggalan terkena getahnya. Dengan banyak dilarangnya kegiatan yang mengumpulkan banyak orang –termasuk kegiatan hajatan nikah dan sunat– praktis pintu-pintu untuk mengumpulkan pundi-pundi; jangankan untuk mereka pribadi sebagai uang lelah, sekadar memenuhi operasional sanggar dan perawatan alat pun terasa makin sulit. Mau tidak mau, mereka memilih untuk ngarak ondel-ondel di jalanan yang belakangan menuai beragam pro dan kontra.

“Turun ke jalan sih awalnya kita juga liat-liat orang dulu. ‘Oh ada yang ngarak nih di jalanan’ kita ngikut gitu,” cerita Reza.

Warga sekitar sanggar menonton ondel-ondel yang sedang dimainkan (Foto: Rizqona Faqihul Ilma)

Dihajar Pandemi, Dipukul Regulasi

Reza bukannya lupa dengan niat awalnya membentuk sanggar setelah hampir tiga tahun berdiri –untuk memberi opsi kegiatan positif dan selingan bagi anggotanya yang kebanyakan masih usia sekolah menengah. Namun, lagi-lagi pandemi menjadi penyebab opsi ngarak di jalanan ia pilih.

Rasanya sudah jadi pengetahuan umum jika pandemi tidak cuma menggilas satu-dua pihak semata. Ada banyak pihak yang terkena imbas; mulai dari kehilangan orang yang dicinta, sampai bisnisnya gulung tikar ataupun harus tergusur dari tempat kerja. Termasuk, beberapa orang tua dari anggota Sanggar Betawi Air Mancur yang harus terkena PHK dari tempat mereka bekerja.

“Mungkin temen-temen juga kalo gak ngarak, ya dia nyari uang juga lah [setidaknya] untuk dia jajan kan, atau buat beli kuota tambahan sekolah online,” papar Reza.

Padahal, yang didapatkan dari ngarak sudahlah tak menentu, bisa dibilang juga tidak terlampau banyak. Sekali keliling, kata Reza, satu rombongan pengarak ondel-ondel yang biasanya terdiri dari 12 orang mendapatkan sekitar Rp600 ribu. Dengan Rp80 ribu yang selalu mereka sisihkan untuk keperluan sanggar, praktis tiap anak hanya mendapatkan ‘uang lelah’ sekitar Rp40 ribu rupiah dengan durasi empat sampai lima jam sekali keliling.

“Kita tuh jadwal jalan seminggu dua kali bang. Itu juga kadang seminggu sekali yang satunya kaga jadi jalan,” jelas Reza.

Baca juga: Setelah Setahun Pandemi: Ekonomi Membaik atau Tidak?

Razia Pemerintah

“Bang, ini [teman-teman] pada mau jalan [ngarak],” cerita Reza menirukan salah seorang anggota sanggar yang sedang bersiap pergi ngarak. Tak berselang lama setelah menyetujui ide mereka, Reza buru-buru mencabut kembali keputusan yang sudah dengan bulat dibuat setelah mengetahui bahwa Satpol PP Jakarta Selatan sedang melakukan razia di waktu yang bersamaan. Dan ondel-ondel jadi salah satu sasaran razia dengan 62 orang pengamen ondel-ondel ikut digelandang Satpol PP pada hari itu.

Menanggapi hal ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria berdalih bahwa pelarangan ondel-ondel sebagai sarana mengamen di jalanan ialah sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya Betawi. Ondel-ondel, menurutnya, harus ditempatkan di tempat yang tinggi dan tidak digunakan untuk mengamen.

Reza mensyukuri kesigapannya kala itu. “Coba kalo kita jalan. Udah di sono, di kantor kecamatan kita,” katanya. Apalagi, salah satu titik razia yang dilakukan Satpol PP Jakarta Selatan saat itu tepat di jalanan tempat mereka terbiasa berkeliling jalanan Jakarta.

“Sebenernya ya, Bang. Kata ‘ngamen’ tuh nongolnya tahun berapa gitu, Bang?” tanya Reza retoris memprotes penggunaan kata “ngamen” yang disematkan pada ondel-ondel. Ia lebih setuju dengan penggunaan kata “ngarak” dibandingkan “ngamen” yang meninggalkan kesan lebih negatif.

Mengutip sejarawan JJ Rizal, Reza merasa pelarangan ondel-ondel untuk diarak keliling kampung kurang pas. Karena baginya ondel-ondel sedari dulu memang begitu, diarak keluar-masuk kampung.

“Karena kita menggunakan alat musik lengkap, barongannya juga sepasang,” protes Reza. Ia merasa yang dilakukannya dan kawan-kawan merupakan bagian dari menyemarakkan budaya Betawi.

“Bedanya mungkin,” tambahnya “Kalo orang dulu nih, keliling kampung, disawer. Kalo sekarang, mah kita yang jemput bola, gitu. Mungkin kalo kita gak jemput bola, gak ada seorang pun yang ngasih, cuman nontonin aja,” ujar Reza. "Nanti kelar ngarak bocah-bocah bingung, capek mau minum gak ada minuman," celotehnya.

Tak berbeda dengan Reza, pegiat ondel-ondel lain pun tampak tidak sepakat dengan aturan pelarangan ini. Renggo, pengrajin ondel-ondel di Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, menolak kebijakan ini. Ia sudah sepuluh tahun menjadi pengrajin ondel-ondel dengan menjual ataupun menyewakan ondel-ondel kepada siapa saja, termasuk untuk mengamen.

Ia biasa mematok tarif seharga Rp50 ribu untuk biaya sewa. Tak jarang juga ia mengikhlaskan jika pihak penyewa tidak memungkinkan untuk membayar biaya tersebut karena hasil mengamen yang terlampau sedikit.

"Kalau misalnya dapatnya cuma Rp 35 ribu, yaudah buat lu pada aja dah," kata Renggo kepada Tempo. Ia menolak adanya pelarangan sampai Pemprov DKI menyediakan wadah yang jelas untuk para pengamen ondel-ondel.

“Entar jatuhnya balik ke dunia kriminal untuk cari duit," ujar dia.

Yadi, pengrajin ondel-ondel lainnya di Kramat Pulo, menyayangkan pelarangan dari Pemprov DKI terkait hal ini. Ia menyebut, ia tidak bisa menafkahi keluarga jika peraturan ini diterapkan.

"Selama pandemi saya enggak ada pemasukan. Yang ada berantem mulu sama bini karena keuangannya. Iyalah, kita wajar kalau bini begini-begini. Karena kita enggak ada pemasukan," cerita Yadi kepada VOI.

Para anggota Sanggar Betawi Mustika Air Pancur (Foto: Dokumentasi Sanggar Mustika Air Pancur)

Tidak Menggantungkan Hidup dari Sanggar

Di tengah usia sanggar yang terbilang belia, juga di tengah kesulitan yang membelit, Reza ingin tidak ada satu pun anggota sanggar yang menggantungkan hidupnya pada sanggar hingga putus sekolah.

“‘Entar lulus SMA lu ngampus dah’, gua bilang gitu. ‘Lu semuanya lu ngampus dah kalo bisa. Lu kalo lu udah pada ngampus, udah pada gawe, enak lu,’” pesan Reza kepada para anggota sanggar. Selain agar kehidupan seluruh anggota sanggar lebih aman dan terjamin, kemapanan ekonomi tiap anggota tentunya juga akan berimbas positif pada keberlangsungan sanggar.

“[Kalo udah pada sukses], sanggar udah kaga [perlu] nyari-nyari [duit] lagi. Siapa tau lu jadi donaturnya. Semua anak-anak bisa jadi donatur. Kita gedein nih sanggar. Kalo kita donatur semua, selon,” pesan Reza menggebu-gebu.

“Emang udah tugasnya kita nih ngelestariin ondel-ondel [dan kebudayaan Betawi lainnya]. Nanti biar adek-adek generasi di bawah lu juga ngerasain, nih,” pungkas Reza.
 

Tags: