Menguji Daya Tahan Bank Mandiri 

Berkah Rio

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. telah merebut status sebagai bank nasional dengan aset terbesar, setelah pada awal tahun ini aset PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) dikonsolidasikan ke dalam Bank Mandiri.

Status tersebut dilebur dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang akhirnya melepas konsolidasi atas PT BRISyariah Tbk. setelah bank syariah itu dimerger dengan PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah menjadi BSI.

Konsolidasi BSI ke dalam Bank Mandiri telah mendongkrak kinerja keuangan bank pelat merah ini pada paruh pertama tahun ini. Namun, di luar itu, kondisi ekonomi yang mulai bergeliat lagi pada awal tahun ini turut mendongkrak pemulihan bisnis Bank Mandiri.

Meskipun demikian, menimbang pandemi belum mereda, bahkan cenderung memburuk pada paruh kedua tahun ini, kesinambungan kinerja Bank Mandiri pun masih berada dalam tanda tanya. Sebab, pembatasan mobilitas saat ini berpotensi kembali meningkatkan permintaan restrukturisasi kredit.

 

Profit Tebal Bank Mandiri

Bank Mandiri menutup paruh pertama 2021 dengan capaian laba bersih senilai Rp12,5 triliun, melonjak 21,5% year on year (yoy). Capaian ini cukup mengesankan, mengingat pada kuartal I/2021 lalu Bank Mandiri masih menderita penurunan laba bersih sebesar 25,2% yoy dari Rp7,9 triliun menjadi Rp5,9 triliun.

Koreksi laba pada kuartal I/2021 lalu terjadi akibat tingginya beban pencadangan perusahaan, seiring dengan naiknya rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL). Lagi pula, pembanding dari kinerja kuartal I/2021 adalah kuartal I/2020 yang mana belum terpengaruh oleh pandemi.

Memasuki kuartal II/2020 lalu, pandemi sudah memukul kinerja ekonomi Indonesia lantaran berlakukan pembatasan mobilitas ketat yang dikenal dengan PSBB. Alhasil, ketika pada kuartal II tahun ini kondisi ekonomi membaik, tingkat pertumbuhan pun terlihat sangat tinggi sebab pembandingnya adalah kondisi kuartal II/2020 yang sangat tertekan.

Secara lebih perinci kinerja kredit Bank Mandiri tumbuh pesat 16,4% yoy di saat kredit industri perbankan secara umum masih minus. Dana pihak ketiga (DPK) perusahaan bahkan tumbuh lebih tinggi lagi, yakni 19,7% yoy.

Berikut ini kinerja keuangan Bank Mandiri:

Bank Mandiri berhasil meningkatkan pendapatannya, baik dari lini pendapatan bunga maupun non-bunga. Keduanya berhasil tumbuh dua digit pada semester I/2021. Namun, pada saat yang sama beban operasionalnya juga meningkat cukup tinggi.

Sementara itu, NPL perseroan berhasil ditekan turun 20 bps sehingga kini berada di level 3,08%. Kondisi itu menyebabkan beban pencadangan perseroan pun dapat lebih terjaga. Nilai pencadangan hanya naik 6,9% yoy. Dengan demikian, laba bersih masih dapat tumbuh 21,5% yoy menjadi Rp12,5 triliun.

Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa kendati laba bersihnya terlihat tumbuh sangat tinggi, kinerja Bank Mandiri sejatinya belum kembali seperti kondisi sebelum pandemi. Pada semester I/2019, laba bersih Bank Mandiri mencapai Rp13,53 triliun.

Hanya saja, perlu diingat pula bahwa pada 2019, ketentuan baru PSAK 71 yang mengatur tentang cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) belum berlaku, sehingga kebijakan pencadangan bank masih mengikuti ketentuan lama PSAK 55.

Pada intinya, PSAK 71 mewajibkan bank menyisihkan CKPN yang lebih besar ketimbang yang diatur dalam PSAK 55. Alhasil, laba bank umumnya tergerus cukup dalam pada 2020 akibat penyesuaian ini.

Meskipun demikian, penyesuaian ini menjadikan industri perbankan kini lebih stabil sebab bantalan cadangan kerugian menjadi lebih tebal.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kinerja Bank Mandiri pada paruh pertama tahun ini sudah jauh lebih baik, sebab kinerjanya bertumbuh di saat bantalan pencadangan juga cukup tebal. Bank Mandiri memang diuntungkan oleh konsolidasi BSI, tetapi pada dasarnya kinerjanya memang membaik.

Kinerja apik Bank Mandiri juga ditopang oleh implementasi teknologi digital dan kondisi pandemi yang memaksa adopsi digital masyarakat menjadi lebih cepat. Bank Mandiri juga melakukan rebranding atas aplikasi mobile banking perseroan menjadi Livin’ by Mandiri.

Pengguna aplikasi Livin’ by Mandiri pada Januari-Juni 2021 mencapai 7,8 juta nasabah dengan nilai transaksi finansial mencapai Rp728,9 triliun. Nilai ini tumbuh 59% yoy. Frekuensi transaksi mencapai 434,9 juta transaksi, tumbuh 65% yoy.

Tahun ini, Bank Mandiri pun menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure hingga Rp2 triliun untuk pengembangan lanjutan teknologi perbankan digital mereka. Perseroan bakal meluncurkan superapp Livin’ by Mandiri 2.0 menjelang akhir tahun ini.

Perseroan pun memiliki sejumlah inisiatif untuk berkolaborasi dengan ekosistem digital yang lebih luas, seperti dengan e-commerce dan teknologi finansial. Langkah kolaborasi ini bakal makin memanjakan nasabah Bank Mandiri, sehingga diharapkan bakal lebih banyak nasabah baru yang berminat dengan layanan Bank Mandiri.

 

Pembuktian Kinerja BSI

Sorotan terhadap kinerja Bank Mandiri tentu bakal terasa kurang lengkap tanpa menyertakan BSI. Bank yang kini menjadi bank syariah terbesar Tanah Air ini memulai debutnya pada awal tahun ini, di tengah kondisi pandemi yang masih bergolak.

Meskipun BSI berasal dari merger tiga bank yang sudah malang melintang di industri perbankan syariah, sebagai entitas merger BSI tetap harus melewati proses adaptasi yang tentu tidak mudah. Namun, perseroan membuktikan cukup mampu menghasilkan kinerja yang kuat pada paruh pertama tahun ini.

Bahkan, kinerja positif BSI pun menjadi penopang bagi kinerja Bank Mandiri secara konsolidasi.

BSI melaporkan pertumbuhan laba bersih yang mengesankan, yakni 34,29% yoy menjadi Rp1,48 triliun. Capaian ini terjadi seiring dengan pertumbuhan pembiayaan sebesar 11,73% yoy menjadi Rp161,5 triliun serta kenaikan pengguna mobile banking perseroan yang tembus 2,5 juta pengguna.

Perusahaan berhasil menekan biaya dana sehingga keuntungan bisnis dapat dioptimalkan. Pendapatan margin dan bagi hasilnya tercatat tumbuh 12,71% yoy, sedangkan ROE perseroan tercatat mencapai 13,84%, naik dari sebelumnya 11,69%.

Rasio dana murah BSI berupa tabungan dan giro telah mencapai 54,81% dari total DPK. Seiring dengan itu, biaya dana atau cost of fund pun turun dari 2,78% menjadi 2,14%. Selain itu, nonperforming financing (NPF) BSI juga turun dari 3,23% menjadi 3,11%, sehingga beban pencadangan lebih ringan.

Manajemen BSI mengaku bakal terus menjaga pertumbuhan dengan meningkatkan kemampuan digital mereka. Transaksi kanal digital BSI sudah mencapai Rp95,13 triliun, naik 83,56% yoy. Dari jumlah itu, transaksi di BSI Mobile tercatat sebesar Rp41,99 triliun, naik 109,82% yoy.

Dengan kinerja BSI yang unggul ini, masuknya BSI ke dalam Bank Mandiri menjadi keuntungan besar bagi Bank Mandiri. BSI kini tengah berupaya membangun reputasinya untuk mewujudkan ambisi menjadi bagian dalam 10 besar bank syariah terbesar dunia.

 

Menghadapi Tantangan Paruh Kedua 2021

Bank Mandiri dan BSI memang berhasil menorehkan kinerja yang sangat menggembirakan pada paruh pertama tahun ini. Namun, sayangnya tantangan pandemi belum berakhir, bahkan justru makin memburuk.

Pemburukan kondisi pandemi di Indonesia pada paruh kedua tahun ini seperti memupuskan harapan pemulihan bisnis yang sempat tumbuh di kalangan pelaku usaha Tanah Air. Dengan kembali berlakunya pembatasan mobilitas, tampaknya sulit bagi dunia usaha untuk dapat segera bangkit.

Pembatasan mobilitas meningkatkan ongkos operasional sembari memangkas output. Alhasil, dunia usaha merugi. Butuh usaha ekstra dalam beberapa bulan lagi untuk menutupi kerugian yang disebabkan oleh pembatasan mobilitas sepanjang Juli 2021.

Di sisi lain, pemerintah masih kembali memperpanjang PPKM Level 4 yang praktis akan makin memperlambat proses pemulihan ekonomi ini. Bank sebagai jantung perekonomian tentu saja akan terimbas dampaknya.

Bank Mandiri saat ini tengah melakukan penilaian terhadap dampak PPKM Darurat terhadap kinerja para debitur. Ada kemungkinan permintaan restrukturisasi kredit bakal kembali meningkat. Jika itu terjadi, arus pendapatan Bank Mandiri akan tersendat, sedangkan NPL berpotensi naik lagi.

Bank Mandiri sebenarnya sudah mencatat adanya penurunan restrukturisasi kredit pada paruh pertama tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu. Pelaku usaha sudah mulai menemukan irama bisnis yang baru, sedangkan pembatasan mobilitas pun mulai melonggar pada awal tahun ini.

Per Juni 2021, Bank Mandiri mencatat memberikan persetujuan restrukturisasi mencapai Rp126,5 triliun kepada 548.000 debitur. Namun, total outstanding kredit yang masih direstrukturisasi kini tinggal Rp96,5 triliun, yang mana 62% di antaranya adalah UMKM.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga sudah memberikan sinyal bakal kembali memperpanjang kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit. Sebelumnya, OJK telah memperpanjang insentif itu dari semula hanya sampai Maret 2021 menjadi hingga Maret 2022.

Adanya sinyal perpanjangan itu menandakan bahwa OJK telah memantau adanya potensi pemburukan kinerja kredit di industri perbankan. Oleh karena itu, besar peluang kinerja perbankan bakal kembali melemah pada paruh kedua tahun ini.

Meskipun demikian, kinerja positif Bank Mandiri pada paruh pertama tahun ini, bahkan pada 2020 lalu, telah membuktikan bahwa perseroan memiliki ketahanan yang cukup kuat terhadap kondisi pandemi. Artinya, pemburukan pandemi pada paruh kedua tahun ini hampir pasti dapat tertangani dengan baik.

Lagi pula, perseroan sudah memiliki lebih banyak pengalaman dalam menghadapi kondisi krisis akibat pandemi ini. Proses mitigasi pun tentu telah dilakukan. Secara umum, sebagai bank nasional dengan aset terbesar, Bank Mandiri memiliki fundamental bisnis yang sangat kuat untuk dapat tetap bertahan dalam kondisi terburuk perekonomian.

Risiko bagi Bank Mandiri adalah posisinya sebagai bank BUMN yang kadang-kadang dituntut untuk mendukung program pembangunan pemerintah, termasuk mendukung kinerja beberapa korporasi BUMN yang memiliki risiko tinggi.

Perseroan pun tidak terlalu muluk dalam mematok target pertumbuhan kredit. Meskipun kinerjanya kreditnya pada semester I/2021 tercatat telah tumbuh 16,4% yoy, Bank Mandiri masih mempertahankan target pertumbuhan kredit hanya 6% yoy hingga akhir tahun nanti.

Satu bulan pertama semester II/2021 telah berakhir dan kini memasuki bulan kedua. Jeritan banyak pelaku usaha sudah jamak terdengar. Tampaknya tidak sulit untuk meramal bahwa kinerja kuartal III/2021 tidak akan begitu menggembirakan.

Dalam situasi ini, sebagai bank terbesar nasional, Bank Mandiri perlu membuktikan diri terkait ketahanan bisnisnya. Mampukah perseroan tetap mencetak pertumbuhan laba yang mengesankan? Semoga saja.  

Bisnis