Perang Kredit Bank Digital

Fauzan Ahmad

Sepanjang semester pertama di tahun Kerbau Logam, saham emiten perbankan digital menggila dan beberapa kali menarik atensi investor. Nama-nama seperti PT Bank Jago Tbk. (ARTO), PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) hingga PT Bank Harda Internasional Tbk. (BBHI) menjadi kuda hitam baru di lantai bursa, dan hal tersebut bukan tanpa alasan. Tingginya ekspektasi investor publik dan masyarakat umum terhadap potensi bisnis bank digital menjadi pemicunya. Tak ayal beberapa bank BUKU II mulai melakukan transformasi menjadi bank digital. 

Yang kemudian jadi soal, jika mau jujur-jujuran, kita juga mesti berani mengakui bahwa tak semua bank dengan gembar-gembor layanan digital punya jaminan sukses. 

Di Cina, dari puluhan bank yang telah meluncurkan layanan digital, setidaknya hanya ada dua nama yang cenderung menampakkan pertumbuhan kinerja bottom line secara konsisten. Keduanya adalah WeBank dan MyBank. Sementara bila berkaca dari situasi di Korea Selatan, kendati penetrasi pengguna sebagian besar bank digital cukup pesat, pada akhirnya hanya satu bank yakni Kakao Bank yang membukukan kinerja paling dominan ketimbang para kompetitor.

Namun, bukan perkara mudah untuk memprediksi siapa yang akan menjadi penguasa bank digital di Indonesia. Pasalnya, kebanyakan calon bank digital di dalam negeri masih berada pada tahap persiapan dan penyesuaian regulasi. Kinerja bottom line yang ada sekarang cenderung belum merepresentasikan potensi masing-masing. Dari rilis kinerja kuartal I/2021 saja misal, sebagian besar bank mini dengan layanan digital cenderung mengalami kontraksi kinerja. Sebagian diantaranya bahkan masih merugi.

Lantas, jika bukan berpijak pada rapor bottom line, bagaimana cara lain untuk mengukur prospek bank-bank digital tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita bisa mundur dan mengingat lagi pernyataan yang pernah dilontarkan CEO Tonik Bank Greg Krasnov. Dalam sebuah wawancara dengan Tech Wire Asia awal tahun lalu, Krasnov menawarkan metode lumayan menarik untuk menilai prospek bank digital. Yaitu melihat tren pertumbuhan kreditnya.

“Ada dua model dasar [bank digital]. Pertama adalah bank menawarkan akses yang lebih simpel, mudah, dan modern untuk transaksi konsumen. Model kedua adalah bank digital yang berfokus mengikat nasabah untuk jangka panjang, terutama dengan menawarkan layanan pinjaman [kredit],” buka Krasnov dalam keterangannya. 

Model pertama, akan cenderung kesulitan menorehkan pertumbuhan laba signifikan. Pasalnya, sebanyak apapun nasabah pengguna layanan tabungan, pengaruhnya akan cenderung minim bila pendapatan yang diperoleh perusahaan cuma bersumber dari biaya bulanan dan administrasi yang tak seberapa. Di sisi lain, meski bukan yang paling besar, suatu bank yang mampu mendigitalisasi layanan pinjaman mereka dinilai Krasnov akan punya sumber pemasukan lebih besar.

“Contoh dari model kedua ini adalah NuBank di Brazil atau Tinkoff di Rusia. Tinkoff tahun lalu mencapai return on equity di atas 70 persen, mengalahkan sebagian besar kompetitor dalam negeri karena agresivitas penyaluran kreditnya,” imbuh Krasnov. Seperti diwartakan Bisnis sekitar tiga pekan lalu, Otoritas Jasa Keuangan sempat membocorkan bahwa sejauh ini sudah ada 12 bank yang bakal jadi pionir bank digital di Indonesia. 

Dari 12 bank tersebut, lima di antaranya sudah pasti mendapat izin dan telah mulai memutar layanan digitalnya. Mereka adalah PT Bank BTPN Tbk. (BTPN) dengan layanan Jenius, PT Bank Woori Saudara Tbk. (SDRA) dengan layanan Wokee, hingga PT Bank DBS Indonesia dengan platform Digibank.

Kemudian, ada pula PT Bank UOB Indonesia dengan platform TMRW serta PT Bank Jago Tbk. (ARTO) dengan platform Jago. Kelima bank, sayangnya, tidak merinci berapa penyaluran kredit secara digital dalam laporan bulanannya. Namun, setidaknya hingga akhir Mei lalu, ada kondisi menarik di mana bank-bank yang sudah punya pangsa pasar digital besar seperti BTPN dan DBS cenderung membukukan kontraksi.

Per akhir Mei, BTPN termasuk dengan platform digital Jenius menyalurkan kredit Rp122,06 triliun. Angka tersebut adalah yang terbesar ketimbang empat kompetitor lain, tetapi menyusut 2,98 persen dibandingkan posisi akhir Januari lalu.

Ini merupakan penurunan lanjutan setelah sepanjang 2020 hal serupa juga terjadi, di mana penyaluran kredit BTPN susut 4 persen. DBS dengan Digibank di saat yang sama, membukukan penyaluran kredit Rp47,59 triliun alias susut 3,73 persen secara akumulatif bila dibandingkan rapor akhir Januari.

Baik pihak BTPN maupun DBS mengatakan bahwa penurunan terjadi seiring mitigasi risiko. Di tengah pandemi, kedua bank mengklaim semakin selektif dalam menyalurkan kredit ke nasabah. Tujuannya adalah untuk menghindari risiko kredit bermasalah.

“Kami memitigasi dampak dan risiko [pandemi] dengan cara memberikan pinjaman secara selektif, melakukan restrukturisasi dan manajemen biaya kredit, secara proaktif mengelola NPL,” kata Direktur Utama BTPN Ongki Wanadjati Dana seperti diwartakan IDX Channel.

Namun, menariknya, hal-hal serupa tidak terjadi di bank-bank yang lebih kecil seperti Bank Jago dan Bank Woori Saudara. Kendati diselimuti ketidakpastian ekonomi dan makin selektif memilih kreditur, kedua bank ini secara cemerlang konsisten membukukan pertumbuhan kredit dari awal tahun hingga akhir Mei.

Satu nama lain, yakni Bank UOB, sempat mengalami kontraksi penyaluran kredit di bulan Februari meski kini trennya telah membaik. Bila dirinci, Bank Jago membukukan penyaluran Rp1,44 triliun per akhir Mei atau naik 35,5 persen dibandingkan posisi awal Januari. Sementara Bank Woori Saudara mencatatkan pertumbuhan kredit 4,02 persen dari akhir Januari menuju Mei.

Faktor inilah agaknya yang menjelaskan mengapa saham Bank Jago terus jadi buruan kendati kinerja bottom line mereka belum menunjukkan keuntungan. Apalagi, prospek penyaluran kredit tersebut banyak diramal akan terus meningkat seiring adanya dukungan ekosistem dari PT Dompet Anak Bangsa alias Gopay, salah satu pemegang saham perseroan.

“Integrasi produk antara Jago dan Gojek telah berada di tahap lanjut,” kata Dirut Bank Jago Kharim Indra Gupta awal kuartal II kemarin. Dibandingkan empat kompetitor lain, Bank Jago memang menjadi yang paling menonjol dalam hal kolaborasi. Bukan saja dengan ekosistem terafiliasi, tapi juga dengan berbagai platform teknologi finansial (fintech) kenamaan.

Untuk menyalurkan kredit, sejak akhir tahun lalu perusahaan telah melakukan kerja sama dengan perusahaan pembiayaan baik yang bersifat konsumtif maupun produktif. Mulai dari Modal Rakyat, Akseleran, AdaKami hingga Akulaku. Strategi ciamik Bank Jago menggandeng perusahaan fintech untuk menyalurkan kredit memang patut diacungi jempol. Namun, bukan berarti perusahaan ini tidak akan punya kompetitor berat. Kendati secara persentase pertumbuhan kredit berhasil mengalahkan empat kompetitornya, geliat Bank Jago berpotensi masih akan ditantang oleh tujuh bank lain yang telah masuk dalam daftar antrian izin digital OJK.

Dan yang tidak kalah menarik, dari ketujuh calon kompetitor tersebut, beberapa di antaranya mengadopsi taktik yang menyerupai Bank Jago. Satu yang paling agresif adalah PT Bank BRI Agroniaga Tbk. (AGRO) alias BRI Agro. Bank yang berencana mengubah segmen dari bank perkebunan menjadi bank digital tersebut agresif menggaet fintech dalam beberapa bulan terakhir.

Tak tanggung-tanggung, entitas anak PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) tersebut berencana mendapuk diri sebagai house of fintech. Manajemen menargetkan kolaborasi dengan fintech, terutama fintech pembiayaan terus dilakukan dalam beberapa bulan ke depan sehingga imbasnya penyaluran kredit perseroan akan membaik untuk jangka panjang.

“Tujuan kami sebagai house of fintech dan home for gig economy. Caranya adalah dengan kolaborasi dengan fintech,” kata Direktur Ritel Agri dan Pendanaan BRI Agro Sigit Murtiyoso seperti dilansir Tempo belum lama ini. 

Konon, hingga artikel ini rilis, BRI Agro telah meneken kerjasama penyaluran pembiayaan dengan 14 fintech yang akan mulai dieksekusi secara konsisten hingga akhir tahun. Tujuannya, sudah pasti, adalah untuk memperbaiki portofolio penyalurannya.

Sejak awal tahun, stagnasi penyaluran kredit memang jadi kendala utama BRI Agro. Hingga akhir Mei misal, perusahaan tercatat menyalurkan kredit Rp18,01 triliun alias terkoreksi 3,59 persen dibandingkan rapor akhir Januari. Jangankan bersaing dengan bank-bank yang sudah mendeklarasikan diri sebagai bank digital seperti Jenius dan Digibank, pertumbuhan kredit mereka sepanjang tahun ini masih lebih redup dibandingkan nama-nama calon bank digital lain seperti PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) alias BNC yang konsisten membukukan pertumbuhan kredit dibandingkan awal tahun.

Hingga akhir Mei, Bank Neo Commerce telah menyalurkan kredit Rp3,84 triliun alias tumbuh 6,08 persen dari perolehan per akhir Januari.

Seperti dalam kasus Bank Jago, moncernya rapor BNC tidak lepas dari strategi kolaborasinya. Sejauh ini, kerja sama fintech BNC telah berjalan dengan tiga perusahaan dan ditargetkan bisa menyentuh angka 20 kerja sama sebelum akhir tahun. “Sehingga, sampai akhir tahun, BNC menargetkan menyalurkan kredit [via fintech] sebesar Rp500 miliar,” kata perusahaan lewat keterbukaan informasi akhir kuartal I lalu

Patut digarisbawahi pula bahwa ke depan, kompetisi tidak mentok pada narasi di atas. Bank digital yang sudah dibahas juga masih akan menemui lawan-lawan baru. Salah satunya adalah anak usaha PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), yakni BCA Digital yang pada paruh pertama belum beroperasi meski telah mengajukan izin untuk menjadi bank digital.

Lewat aplikasi bernama Blu, BCA Digital baru mulai beroperasi Jumat (2/7/2021) kemarin. Dengan dukungan langsung dari emiten berkapitalisasi pasar terbesar di bursa sekaligus investor yang menyandang status orang terkaya di negeri ini, kiprah BCA Digital juga tidak kalah menarik untuk dinanti.

Bisnis