Menengok Kinerja Saham Indeks "BUMN yang Syariah"

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 6 menit]

Pekan ini, bertepatan dengan momentum Nuzulul Quran di hari ke-17 Ramadan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya meluncurkan indeks tematik IDXMES BUMN 17. Indeks yang merupakan buah kerja sama BEI dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini berisikan 17 saham BUMN dan afiliasinya yang dinilai telah menjalankan usahanya dengan prinsip syariah.

Selain aspek prinsip syariah, kriteria lain yang ditetapkan untuk menyeleksi penghuni indeks tersebut adalah likuiditas yang baik, kapitalisasi pasar besar dan fundamental perusahaan yang baik.

Ketua Umum MES sekaligus Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan indeks ini merupakan bagian dari peta jalan pemerintah untuk membuat ekosistem investasi syariah di Indonesia semakin solid.

“Harapannya juga supaya MES punya alternatif investasi syariah, selain di awal tahun kami bangun BSI [merger Bank Syariah Indonesia/BRIS] sebagai fundamental bank Himbara yang fokus di ekonomi syariah,” kata Erick saat hari peluncuran Kamis (29/4).

Pada hari peluncurannya, IDX-MES BUMN 17 langsung menyuguhkan grafik hijau. Indeks ditutup menguat 1,46 menuju posisi 102,72. Penguatan pada Kamis kemarin mengungguli pergerakan indeks-indeks syariah lain seperti Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), Jakarta Islamic Index 70 (JII70) dan Jakarta Islamic Index (JII) yang bergerak dengan penguatan pada kisaran 0,42 hingga 0,72 persen.

Meski demikian, pada hari kedua perdagangan Jumat (30/4) IDXMESBUMN 17 melemah, dan tampak lebih lesu ketimbang 3 indeks syariah lain.

Pergerakan Indeks Syariah Sejak Peluncuran IDXMESBUMN

Mengingat penghuni IDXMESBUMN 17 murni merupakan emiten-emiten BUMN, pergerakan indeks tersebut memang cenderung lebih rentan terpengaruh fluktuasi saham-saham pelat merah dibandingkan ketiga indeks syariah lain.

Itulah alasan mengapa bila dihitung secara tahun berjalan (year to date/ytd), pergerakan IDXMESBUMN juga lebih merah dibandingkan ketiga indeks syariah lain. Sebab, nyatanya sejauh ini kinerja emiten-emiten BUMN memang sedang mengecewakan, yang salah satunya tergambar dari gerak merah indeks BUMN lain yakni IDXBUMN20.

Bila dibedah, dari 17 emiten penghuni IDXMESBUMN, per akhir pekan ini hanya ada 3 emiten yang cenderung bergerak dalam tren positif. Masing-masing adalah PT Aneka Tambang alias ANTM dengan kenaikan ytd di kisaran 13 persen, disusul PT Timah Tbk (TINS) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS).

Sisa 14 saham lain cenderung mengalami kemereosotan, dengan yang paling besar adalah duet emiten farmasi pelat merah PT Indofarma Tbk. (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) sekitar 44 persen dan 35 persen. Kemudian menyusul dengan penurunan harga relatif tinggi adalah emiten-emiten konstruksi seperti PT Pembangunan Perumahan Tbk. (PTPP), Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP), PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA) dan Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) sebagaimana tergambar berikut:

Pergerakan Harga Saham-saham IDXMESBUMN 17

Menariknya, bila disandingkan kinerjanya fluktuasi harga di atas cenderung sejalan dengan rilis laporan keuangan tahunan masing-masing. Emiten-emiten di dalam indeks yang mengalami kenaikan harga merupakan emiten dengan perbaikan kinerja paling menonjol sepanjang 2020.

ANTM misal, yang harganya naik 13 persen lebih, membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp1,14 triliun. Nominal tersebut menguat 447,99 persen dibandingkan kinerja 2019.

Hal serupa dialami BRIS dan TINS, dua emiten lain yang sahamnya relatif berkinerja positif sepanjang kuartal pertama. BRIS mengalami kenaikan laba bersih perseroan 239,72 persen, sedangkan TINS—meskipun masih minus—mencatatkan penurunan kerugian bersih di kisaran 44,28 persen.

Dari 17 emiten, hanya ada 2 emiten yang laporan keuangannya positif namun sahamnya justru merosot, yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) dan PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR).

Sebaliknya, emiten-emiten yang mengalami penurunan harga signifikan juga berstatus emiten dengan kinerja buruk sepanjang 2020. INAF misal, yang harganya turun paling telak, mengalami penurunan laba bersih perseroan 99,66 persen sepanjang 2020. Sedangkan emiten-emiten konstruksi seperti PTPP, WSBP, WIKA, WTON seluruhnya mengalami penurunan kinerja di atas 75 persen.

Dari 17 emiten, hanya ada 2 emiten yang mengalami perbaikan kinerja namun sahamnya tertekan, yakni TLKM dan KAEF.

Kinerja Laporan Keuangan Emiten IDXMESBUMN 17 (dalam jutaan kecuali dinyatakan dalam satuan/keterangan lain):

Keterangan: *: dalam satuan dolar AS (US$), **: dalam satuan miliar rupiah

Dari  rentetan data tersebut, dapat disimpulkan pergerakan kinerja saham-saham IDXMESBUMN 17 punya ketergantungan kuat pada kinerja keuangan masing-masing emiten.

Pertanyaannya, akankah emiten-emiten penghuni indeks tersebut—yang pada tahun lalu banyak menuai rapor merah—bisa menampakkan perbaikan kinerja?

Jawabannya tentu tak bisa dipukul rata.

Baca juga: Prospek di Balik Rekor Transaksi Saham ANTM

Emiten seperti ANTM, yang tahun lalu mengalami kenaikan kinerja signifikan, tahun ini berpotensi "digoyang" oleh harga emas yang pergerakannya cenderung landai. Namun, perusahaan ini digadang-gadang bakal diuntungkan oleh terbentuknya holding mobil listrik yang akan membuat permintaan komoditas nikel meningkat.

Di tahun-tahun sebelumnya, ketergantungan ANTM memang lebih condong ke kinerja komoditas emas. Namun, jika melihat laporan keuangannya, tampak jelas bahwa penjualan nikel menghasilkan margin laba yang lebih menguntungkan perusahaan. Untuk itu, asalkan produksi dan penjualan nikel naik, bisa jadi emiten ini masih akan menunjukkan kinerja bagus.

Hal tidak beda jauh dialami TINS, yang berpotensi digoyang ketersediaan pasokan. Namun, perseroan telah menyatakan bahwa mereka bakal melakukan mitigasi dengan peningkatan kontribusi tambang laut agar bisa menyumbang 40 persen produksi total produksi perseroan.

Sebagai informasi, tahun lalu kontribusi tambang laut TINS baru 28,65 persen dari total produksi. Jika mitigasi ini berhasil, bukan hal yang mengejutkan bila kerugian bersih emiten ini bisa menurun lagi pada 2021.

Emiten-emiten konstruksi seperti PTPP, WIKA, WSBP, hingga WTON tentunya akan sangat bergantung pada pemulihan ekonomi dan keberlangsungan proyek-proyek pemerintah.

Selama ini emiten-emiten tersebut gencar dikabarkan media bakal kecipratan untung akibat terbentuknya lembaga pengelola investasi Indonesia, yakni Indonesia Investment Authority (INA). Namun, seperti yang bisa dilihat dari perkembangan baru-baru ini, belum ada bukti bahwa dampaknya kehadiran INA bakal langsung menguntungkan emiten-emiten di atas dalam waktu dekat.

Dalam paparan terakhirnya, INA sejauh ini baru memprioritaskan divestasi aset emiten karya pelat merah ke pengelolaan tol, yang cenderung lebih banyak menguntungkan BUMN pengelola tol seperti PT Waskita Karya Tbk. (WSKT). Padahal, seperti kita ketahui pula, WSKT belum masuk ke dalam indeks IDXMESBUMN 17, sehingga naik turunnya saham emiten ini tak akan mempengaruhi indeks.

Satu perkara lain yang tidak kalah penting untuk dicermati adalah bagaimana pergerakan saham TLKM dan SMGR.

Baca juga: Menakar Langkah Investasi TLKM di Gojek 

Sebagaimana dirangkum dalam catatan sebelumnya, kedua emiten ini mengalami tren pelemahan harga saham sejak awal tahun. Padahal, baik TLKM maupun SMGR sama-sama membukukan pertumbuhan laba sepanjang 2020.

Jika saham kedua emiten ini bisa mengalami rebound dan berbalik menguat sebagaimana kinerja keuangannya, dampak yang akan dirasakan indeks juga akan cenderung besar. Apalagi, jumlah saham beredar dan kapitalisasi pasar emiten ini cenderung besar.

Dari 17 emiten anggota indeks, SMGR yang saat ini nilai kapitalisasinya berkisar Rp61 trilliun berada di urutan ketiga terbesar, tepat di belakang BRIS yang punya kapitalisasi pasar di kisaran Rp92 triliun. Sedangkan TLKM, yang memiliki kapitalisasi pasar Rp317,00 triliun, dominan berada di deret teratas.

Bila ditotal-total, kapitalisasi pasar TLKM bahkan setara 47,5 persen total kapitalisasi pasar yang dihasilkan ke-17 emiten.

Estimasi Kapitalisasi Pasar Terkini (dalam triliun):

Dengan kondisi tersebut, pergerakan saham TLKM dan SMGR tentunya akan berpengaruh besar terhadap kinerja IDXMESBUMN 17.

TLKM sendiri baru merilis laporan keuangan mereka pada pekan ini. Sehingga, masih terlalu awal untuk menyimpulkan apakah rapor positif emiten ini tidak akan punya dampak signifikan terhadap pergerakan sahamnya.

Selain laporan keuangannya, pergerakan saham emiten telekomunikasi tersebut juga bakal terpengaruh oleh sentimen-sentimen lain seperti lelang frekuensi 2,3GHz dan pengembangan infrastruktur 5G di Indonesia.

Saham TLKM juga berpotensi terkerek sewaktu-waktu bila ada perkembangan terkait persiapan IPO salah satu anak usahanya, PT Dayamitra Telekomunikasi alias Mitratel.

Mitratel merupakan salah satu perusahaan yang sejak tahun lalu didorong oleh kementerian BUMN untuk melantai di bursa. Belakangan Menteri BUMN Erick Thohir bahkan menambah daftar panjang BUMN dan entitas anak yang dproyeksikan bakal melantai di bursa. Dan, menariknya, dari daftar panjang tersebut terselip beberapa entitas yang terafiliasi dengan emiten-emiten penghuni IDXMESBUMN 17.

Mulai dari 5 anak usaha Pertamina yang sebagian masih punya “hubungan darah” dengan ELSA, PT Bio Farma yang erat kaitannya dengan bisnis INAF dan KAEF, hingga PT Telkom Data Center yang—sama seperti Mitratel—juga berada di bawah naungan TLKM. 

Memang, tidak ada jaminan jika IPO perusahaan-perusahaan tersebut bakal berdampak besar terhadap pergerakan saham emiten-emiten terafiliasi yang masuk dalam indeks. Namun, tidak ada salahnya jika berharap IDXMESBUMN 17 bakal kecipratan berkah.
 

Tags:

Investasi