Prospek di Balik Rekor Transaksi Saham ANTM

Berkah Rio

[Waktu baca: 8 menit]

Transaksi saham PT Aneka Tambang Tbk. meningkat pesat di pasar akhir-akhir ini. Pada perdagangan Kamis (21 Januari 2021), emiten dengan kode saham ANTM ini menjadi emiten yang paling likuid atau paling banyak ditransaksikan di bursa dalam sehari.

Frekuensi transaksinya mencapai 189.391 kali, sedangkan total saham yang ditransaksikan mencapai 1,27 miliar saham. Total nilai transaksinya dalam sehari itu mencapai Rp4,04 triliun, tertinggi dibandingkan saham-saham lainnya, tetapi harga sahamnya justru turun 3,1% dalam sehari itu.

Sebagai pembanding, di urutan kedua ada saham PT Bank BRISyariah Tbk. (kode saham: BRIS) dengan nilai transaksi Rp913 miliar dan frekuensi transaksi hingga 81.020 kali. Di urutan ketiga ada saham induknya, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (kode saham: BBRI) yang ditransaksikan 53.701 kali dengan nilai Rp892 miliar. Nilai transaksi keduanya bahkan tidak mencapai Rp1 triliun.

Pada hari sebelumnya, Rabu (20 Januari 2021), saham ANTM bahkan ditransaksikan lebih tinggi lagi, mencapai Rp5,7 triliun dalam sehari. Saat itu, sahamnya meningkat 17,71% dalam sehari dan menempatkan saham ANTM di rekor harga tertingginya sejak 2008, yakni di level Rp3.190.

Dengan penurunan harga pada perdagangan Kamis (21 Januari 2021), saham ANTM terhitung sudah meningkat 59,7% year to date (ytd). Sementara itu, kapitalisasi pasar atau market cap ANTM naik Rp73 triliun secara ytd.

Saham ANTM yang beredar di pasar dan dimiliki oleh investor publik mencapai 8,41 miliar saham atau setara dengan 35% dari total sahamnya. Selebihnya, 15,6 juta atau 65% saham ANTM dimiliki oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero), yakni induk holding BUMN tambang. Sementara itu, pemerintah hanya memegang 1 saham ANTM.

Tingginya transaksi harian hingga menembus triliunan rupiah seperti yang terjadi di saham ANTM bukanlah hal yang sering terjadi di pasar. Tidak jarang, transaksi-transaksi jumbo seperti itu sebenarnya merupakan transaksi di pasar negosiasi antara beberapa pemegang saham besar suatu emiten.

Akan tetapi, jika melihat frekuensi transaksi ANTM yang juga sangat tinggi, jauh melebihi BRIS dan BBRI, bisa jadi transaksi ini merupakan transaksi harian reguler yang dilakukan oleh banyak pelaku pasar di bursa.

Lantas, apa saja sentimen yang mewarnai saham ANTM akhir-akhir ini sehingga memicu naiknya transaksinya di bursa?

ANTM Sedang Digugat

Hal yang menarik, laju saham ANTM sepanjang tahun ini seperti tidak mempedulikan gugutan yang sedang dilayangkan oleh sejumlah pihak kepada perusahaan ini terkait jual beli emas. Sahamnya memang sempat turun merespon berita tentang gugatan tersebut, tetapi setelahnya naik lagi.

Pada Jumat (15 Januari 2021) Pengadilan Negeri Surabaya mengabulkan gugatan pengusaha asal Surabaya, Budi Said, dengan nomor perkara 158/Pdt.G/2020/ PN Sby. ANTM dinyatakan terbukti telah berbuat melawan hukum atas hilangnya 1.136 kilogram atau 1,1 ton emas yang dibeli Budi Said setara Rp817,4 miliar.

Baca Juga: Nasib Investasi Emas di Tahun Kerbau Logam

Atas perkara dengan Budi Said, manajemen ANTM menyatakan akan mengajukan banding. Saham ANTM terkoreksi 1,89% pada hari tersebut. Selanjutnya, pada pekan ini saham ANTM turun lebih dalam, masing-masing 6,73% pada Senin (18 Januari 2021) dan 6,87% pada Selasa (19 Januari 2021).

Setelah berita itu, pada Rabu (20 Januari 2021) muncul lagi berita berikutnya tentang adanya gugatan lain di Surabaya, yakni dari Robin Sujoyo dan Troy Haryanto.

Keduanya menggugat ANTM untuk memberikan emas batangan logam mulia seberat 25,22 kilogram. ANTM juga dituntut mengembalikan dana Rp1,42 miliar secara tunai dan mengganti kerugian materiil maupun immateriil yang dirinci mencapai Rp24,8 miliar.

Gugatan itu terdaftar dengan perkara 951/Pdt.G/2020/PN Niaga Surabaya. Gugatan didaftarkan ke PN Surabaya pada 2 Oktober 2020. Bersama ANTM, turut digugat pula sejumlah pihak terkait, yakni beberapa pegawai butik emas Antam di Surabaya.

“Menghukum Para Tergugat berkewajiban untuk memberikan emas batangan seberat Rp25,22 kg yang dibeli penggugat, dan atau diganti uang senilai Rp24,13 miliar, dan atau dinilai dengan harga logam mulia terakhir sebagai perhitungan harga per gram saat pembayaran,” demikian bunyi salah satu petitum, atau tuntutan yang diminta Robin dan Troy.

Namun, merespons gugatan ini, saham ANTM justru berbalik menguat hingga 17,71% pada Rabu (20 Januari 2021) dan mencetak rekor harga tertinggi sejak 2008 yakni Rp3.190 per saham, dengan nilai transaksi harian fantastis hingga Rp5,7 triliun.

Fundamental ANTM Masih Kuat

Secara umum, kondisi keuangan ANTM masih cukup kuat, meskipun dampak pandemi memang cukup memukul bisnisnya. Tentu saja, jika upaya banding ANTM gagal dan ANTM harus membayar ganti rugi Rp817,4 miliar kepada Budi Said, pengaruhnya cukup signifikan bagi ANTM.

Sebagai gambaran, laba bersih ANTM per September 2020 tercatat senilai Rp835,77 miliar. Artinya, nilai gugatan tersebut sudah hampir menyamai capaian laba 9 bulan ANTM. Namun, ANTM masih memiliki kekuatan modal yang cukup besar, dengan ekuitas sebesar Rp18,93 triliun. Kasnya masih sekitar Rp3,7 triliun. Ini menjadi bantalan yang cukup tebal untuk menjamin bisnis ANTM tetap aman.

Berikut ini laporan posisi keuangan atau neraca ANTM per 30 September 2020 (dalam Rp miliar):

Sementara itu, berikut ini kinerja laporan pendapatan dan laba/rugi ANTM pada periode yang sama (dalam Rp miliar) :

Dari data tersebut, terlihat bahwa kinerja ANTM memang tertekan tahun 2020 lalu. Namun, ANTM tetap mampu membukukan kenaikan laba berkat strategi efisiensinya untuk menekan berbagai beban keuangannya.

Baca Juga: Kilau Emas dan Emiten Penambang Emas 2021

Selain itu, baru-baru ini ANTM juga merilis laporan hasil produksinya untuk setahun penuh 2020. Hasilnya, kinerja produksi ANTM turun di semua lini produksi. Namun, penurunan tersebut tidak sampai menekan bisnis ANTM terlalu dalam. Berikut ini laporan kinerjanya :

Dari data hasil produksi tersebut, terlihat bahwa kinerja produksi emas dan bijih nikel ANTM tahun 2020 melemah, bahkan jika dibandingkan dengan kondisi 2017. Namun, pelemahan tersebut terimbangi oleh kenaikan harga emas yang cukup tinggi di pasar selama pandemi. Sementara itu, produksi feronikel ANTM justru masih meningkat ketimbang 2019.

Rilis hasil produksi yang masih cukup memuaskan ini tampaknya memberikan investor rasa optimistis bahwa kinerja ANTM masih akan terus membaik. Apalagi, prospek mobil listrik global di masa depan makin menjanjikan, sehingga permintaan terhadap nikel sebagai komponen penting baterainya akan sangat tinggi.

Secara umum, saham ANTM masih terapresiasi karena sentimen mobil listrik ini. Apalagi, realisasi pendirian pabrik baterai di Indonesia makin mendekati kenyataan. ANTM akan bergabung dalam Indonesia Battery Holding (IBH) dan berkonsorsium dengan perusahaan asing yang hendak berinvestasi di pabrik baterai dalam negeri.

Salah satu perusahaan asing yang sudah serius dengan komitmen investasi senilai US$9,8 miliar yakni perusahaan asal Korea Selatan, LG Energy Solution.

Prospek bisnis ANTM juga akan diperkuat oleh strategi manajemennya yang berencana menekan biaya tunai (cash cost) pada produksi feronikel. Pada 2020 lalu, cash cost ini nilainya US$3,34 per pon, sudah turun 15% ketimbang biaya tunai tahun 2019 yang sebesar US$3,95 per pon.

Manajemen ANTM juga mengaku masih akan fokus pada ekspansi pengolahan mineral yang bersifat hilir, sambil tetap memperluas basis cadangan dan sumber daya. Apresiasi harga komoditas akhir-akhir ini masih akan sangat menguntungkan bisnis ANTM tahun ini.

Masih Direkomendasikan, Tapi Kemahalan

Mayoritas analis di pasar modal masih sangat menjagokan saham ANTM, terlepas dari gugatan hukum yang sedang dihadapi perusahaan. Berdasarkan data Bloomberg, ada 18 sekuritas yang masih memberikan penilaian terhadap saham ANTM.

Hasilnya, sebanyak 15 sekuritas atau 83,3% memberikan rekomendasi beli atas saham ANTM dengan variasi target harga, sedangkan yang merekomendasikan jual hanya satu sekuritas dan yang merekomendasikan tahan ada dua sekuritas.

Akan tetapi, target harga rata-rata yang diberikan oleh 18 sekuritas tersebut untuk saham ANTM hanya di level Rp2.135 per saham. Artinya, harga saham ANTM yang sudah mencapai Rp3.090 per saham sudah jauh di atas proyeksi harga wajar dari kalangan analis.

Maklum saja, tingkat kenaikan harga saham ANTM yang mencapai 59,7% sepanjang bulan Januari 2021 ini sudah cukup tak wajar.

Sekuritas yang masih mematok tinggi harga saham ANTM yakni Ciptadana Sekuritas dengan target harga wajar Rp3.250 per saham, serta BNI

Sekuritas dengan target harga paling tinggi yakni Rp4.500. Selebihnya, mayoritas sekuritas belum memperbaharui target harga mereka untuk ANTM dan masih memberikan target harga di bawah Rp2.000 per saham.

Jika mengacu pada data RTI, valuasi terkini saham ANTM mencerminkan tingkat price to earning ratio (PER) di level yang sangat tinggi, yakni 63,97 kali. Sementara itu, price to book value (PBV) ANTM di level 3,72 kali, juga tergolong tinggi.

Dengan kondisi ini, saham ANTM tampaknya tetap perlu diwaspadai, sebab koreksi harga sangat mungkin terjadi setelah kenaikan yang tinggi ini. Bagaimana dengan kamu, masih berminat membeli saham ANTM?

 
 

Investasi