Membedah Investasi Saham Asabri di Perusahaan Rugi

SETELAH kasus gagal bayar Jiwasraya mencuat, media massa memberitakan dugaan masalah keuangan yang dialami oleh perusahaan asuransi prajurit TNI/Polri yaitu PT Asabri (Persero) pada awal Januari 2020.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD. (Foto dari Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan)

Publik membicarakan kasus ini setelah sejumlah pejabat pemerintah pusat berkomentar mengenai dugaan korupsi di perusahaan yang berkantor pusat di Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta ini.

Salah satu yang dikutip media adalah komentar Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD yang menyatakan terdapat potensi korupsi dengan nilai triliunan Rupiah.

Mahfud MD menyatakan kasus Asabri tidak kalah “fantastis” dibandingkan dengan kasus perusahaan asuransi milik negara lainnya, Jiwasraya, yang sedang menghadapi masalah likuiditas.

Seiring dengan mencuatnya kasus Asabri, sejumlah media massa menyoroti portofolio saham atau saham-saham apa saja yang dibeli oleh Asabri pada 2019. Kinerja sebagian saham itu turun cukup drastis sepanjang 2019.

14 Saham Asabri

Berdasarkan data kepemilikan efek yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia pada awal Januari 2020, Asabri tercatat menjadi pemegang saham dengan kepemilikan lebih dari 5% di 14 perusahaan. 

Perusahaan yang dimiliki oleh Asabri dengan porsi kepemilikan di atas 5% antara lain:

Perusahaan itu bergerak dari berbagai sektor, mulai dari perbankan, properti, tambang, keuangan dan sebagainya. Asabri memegang saham paling besar di Prima Cakrawala Abadi, sebuah perusahaan pengolah hasil perikanan yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah., dengan porsi sekitar 25%.

Asabri menginvestasikan dana kelolaannya yaitu Dana Pensiun TNI dan Dana Pensiun Polri di sejumlah saham tersebut. Seperti perusahaan asuransi pada umumnya, Asabri menginvestasikan dananya ke berbagai instrumen investasi seperti saham, reksadana, obligasi hingga properti.

Dana itu diinvestasikan dengan harapan supaya perusahaan asuransi memiliki uang yang lebih besar di masa depan sehingga dapat membayar kewajibannya kepada peserta di masa depan.

Dari 14 saham yang dimiliki oleh Asabri dengan porsi lebih dari 5%, sebagian besar mengalami penurunan harga sepanjang 2019. Penurunan paling besar terjadi di saham POOL (PT Pool Advista Indonesia Tbk.) sebesar 96%.

Pada akhir Desember 2018, Asabri memiliki 7,89% saham POOL. Namun, berdasarkan data awal Januari 2020, kepemilikan perusahaan asuransi sosial di POOL telah berkurang menjadi 7,43%.

Grafik saham POOL dalam 2 tahun terakhir. (Sumber grafik dari Yahoo Finance)

Beberapa tahun lalu, saham yang dimiliki oleh Asabri memang memiliki kinerja yang mengejutkan. Tidak main-main, harga sahamnya melonjak drastis jauh meninggalkan kinerja saham lainnya di bursa.

 Asabri tercatat telah menempatkan dananya di saham INAF pada 2016. Sepanjang tahun itu, saham INAF pernah meningkat hingga lebih dari 2.600% menjadi Rp4.680 dibandingkan dengan Rp168 pada akhir Desember 2015

Harga dari saham yang dimiliki Asabri lainnya, NIKL, juga pernah mencapai hingga Rp2.250 pada pada hari terakhir perdagangan BEI pada 2016 atau meroket 4.400% dibandingkan dengan Rp50 pada akhir Desember 2015.

Namun, setelah beberapa tahun, saham INAF dan NIKL belum sanggup menanjak lebih tinggi lagi. Pada awal 2020, saham INAF berada di level Rp1.000 per lembar dan saham NIKL berada di level Rp720 per lembar. Di saat harga saham tersebut telah turun drastis, Asabri masih menjadi salah satu pemegang sahamnya.

Sejumlah Perusahaan Rugi

Berdasarkan laporan keuangan 14 perusahaan yang sahamnya dibeli oleh Asabri dalam jumlah lebih dari 5%, sejumlah perusahaan menunjukkan kinerja yang tidak selalu menguntungkan dalam kurun waktu 2016 sampai kuartal 3/2019 (lihat tabel).

Hanya sejumlah perusahaan yang tercatat selalu menguntungkan dari tahun ke tahun yaitu PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), PT Island Concept Indonesia Tbk. (ICON), dan PT PP Properti Tbk. (PPRO).

Selebihnya, Asabri menempatkan dananya di perusahaan-perusahaan yang kinerja keuangannya tidak selalu menguntungkan dalam beberapa tahun terakhir seperti PT Inti Agri Resources Tbk. (IIKP), PT Indofarma (Persero) Tbk. (INAF), PT Pool Advista Indonesia Tbk. (POLA) dan sebagainya.

Salah satu perbedaan antara berinvestasi di perusahaan rugi dan perusahaan untung adalah dividen atau keuntungan yang dibagi kepada pemegang saham. Apabila berinvestasi di perusahaan untung, pemegang saham akan mendapatkan dividen.

Selain dividen, pemegang saham berpotensi mendapatkan selisih antara harga jual dan harga beli. Apabila harga jual lebih tinggi maka pemegang saham akan mendapat keuntungan (capital gain). Sebaliknya, apabila harga beli lebih tinggi maka akan mendapatkan kerugian (capital loss).

Selain itu, belum dapat diketahui secara persis saham apa saja yang dimiliki oleh Asabri dengan porsi kepemilikan di bawah 5%. Namun, berdasarkan Laporan Tahunan Asabri 2017, Asabri diketahui berinvestasi di sejumlah saham BUMN.

Saham itu antara lain seperti PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. (PTPP), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS).

Dengan kata lain, selain berinvestasi di saham-saham dengan kapitalisasi pasar yang relatif lebih kecil, Asabri juga berinvestasi di saham-saham yang sebagian dikategorikan sebagai saham bluechip dan masuk indeks LQ-45.

Berbagai perusahaan tersebut juga memberikan dividen kepada pemegang saham setiap tahun. Bank Mandiri, misalnya, yang selalu memberikan dividen kepada pemegang saham setiap tahunnya.

Dalam Laporan Tahunan 2017 yang dipublikasikan pada 2018, Direktur Utama Asabri Sonny Widjaja menyatakan salah satu kebijakan terkait investasi saham adalah perusahaan melakukan balancing dari saham yang tidak perform ke saham-saham yang lebih menguntungkan.

Dalam laporan yang sama, Komisaris Utama Asabri Agus Sutomo menyatakan salah satu saran bagi perusahaan adalah melakukan optimalisasi investasi dengan mengurangi risiko yang berlebihan dan tetap berpedoman pada prinsip kehati-hatian agar terhindar dari kemungkinan kerugian

Pada saat ini, publik masih menunggu kelanjutan permasalahan yang dihadapi oleh Asabri ini. Menurut keterangan tertulis yang dirilis setelah isu ini mencuat, Asabri menyatakan terdapat beberapa penurunan nilai investasi Asabri yang sifatnya sementara karena kondisi pasar modal Indonesia.

Manajemen Asabri menyatakan perusahaan memiliki mitigasi untuk memulihkan (recovery) penurunan tersebut. Kita tunggu saja perkembangan isu yang dihadapi oleh Asabri ini.

Related Posts

Saham Jasa Marga (JSMR) di Tengah Larangan Mudik
Efek Corona ke IHSG
Jiwasraya Sekarat, Salah Siapa?

Leave a Comment

You need to sign in before leave a comment. Fields marked with an * are required.

Sign in

Subscribe To Big Alpha

Subscribe now and get exclusive news, advisory and more.