Mengupas Saham “Sampah” yang Bikin Jiwasraya Sekarat

BERDASARKAN temuan Badan Pemeriksa Keuangan dan Kejaksaan Agung yang diumumkan pada Rabu, 9 Januari 2020, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dilaporkan mengalami kondisi gagal bayar dan merugikan negara sebesar Rp13,7 triilun.

Mengutip pemberitaan sejumlah media massa, Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko menyatakan manajemen lama “dengan sengaja” memindahkan aset keuangan dari obligasi pemerintah ke produk-produk reksadana dan saham berkualitas rendah.

Hal itu dilakukan oleh perusahaan dalam kurun waktu tahun 2014, 2015, dan 2017 tanpa menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penempatan dananya. Penempatan dana ke sejumlah saham itulah yang mengakibatkan salah satu perusahaan asuransi tertua di Indonesia ini mengalami masalah kesehatan keuangan.

Berdasarkan berita yang dirilis oleh portal Detik.com dan CNBC Indonesia pada akhir Desember 2019, Jiwasraya diketahui membeli sejumlah saham seperti TRAM, POOL, LCGP. 

Seperti diketahui, saham sebuah perusahaan mencerminkan kinerja perusahaan tersebut. Bagaimana kinerja perusahaan-perusahaan yang sahamnya dibeli oleh perusahaan asuransi yang sudah ada sejak zaman Belanda tersebut?

PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM): Rugi Terus 2014-2017

TRAM awalnya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang angkutan pelayaran laut. Melalui berbagai akuisisi, perusahaan ini kemudian mengubah model usahanya menjadi perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan batu bara.

Dilihat dari pendapatan perusahaan, pencapaian TRAM tidak bisa dikatakan baik. Pendapatan perusahaan berfluktuasi dari 2013 hingga 2017. Perusahaan baru mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan pada 2018.

Grafik Kinerja Pendapatan TRAM 2013-2018

Perlu dicatat, tidak sekalipun TRAM mampu menghasilkan laba bersih tahun berjalan selama periode 2014 hingga 2017. TRAM baru mampu menghasilkan laba pada 2018 sebagai dampak dari transformasi core business yang mulai berjalan dengan baik.

Grafik: Kinerja Laba Bersih TRAM

Berdasarkan arus kas operasional, TRAM masih mampu menghasilkan arus kas positif setiap tahun. Arus kas operasional yang positif menandakan bahwa perusahaan mampu menghasilkan cash flow yang positif melalui model bisnis perusahaan setiap tahunnya. 

Namun, arus kas itu sempat menurun tajam di 2017 dan meningkat signifikan pada 2018.

Grafik: Kinerja Arus Kas TRAM

 

TRAM merupakan satu dari sekian banyak “saham gocap” yang ada di pasar saham. Saham gocap adalah istilah bagi saham perusahaan yang harga berada di level harga terendah sebesar Rp50. 

Kenapa saham bisa mencapai level terendah? Saham suatu perusahaan dapat menjadi saham gocap karena pergerakan harga saham yang terus menurun atau jarang ditransaksikan di pasar. 

Penurunan harga ini biasanya disebabkan oleh kinerja keuangan perusahaan yang tidak memuaskan. Dalam waktu 5 tahun terakhir, pergerakan harga TRAM terus merosot. Harga saham perusahaan sudah terkoreksi dari harga tertingginya sebesar Rp482 per lembar saham.

PT Pool Advista Indonesia Tbk. (POOL): Pendapatan 2016 Minus

POOL adalah perusahaan pembiayaan yang didirikan sejak 1958 yang awalnya bergerak di bidang asuransi kerugian. Kegiatan bisnis perusahaan saat ini sebagian besar berasal dari bidang jasa konsultasi, pengembangan investasi. 

POOL memiliki berbagai anak usaha yang bergerak di bidang pembiayaan multiguna, sekuritas, dan manajemen aset.

Dilihat dari tren pendapatan setiap tahun, pertumbuhan pendapatan POOL dari tahun ke tahun memang relatif terbatas. Pada 2016, pendapatan POOL minus sebesar Rp13 miliar.

Pada 2017 pendapatan perusahaan tumbuh cukup signifikan karena didukung oleh kinerja investasi nasional yang positif. Tidak bertahan lama, pendapatan POOL justru hancur lebur di tahun 2018.

 

Grafik: Kinerja Pendapatan POOL

Jika dilihat dari kinerja laba tahunan, tren laba bersih POOL dalam 6 tahun terakhir relatif stagnan. Meskipun sempat tumbuh tinggi di tahun 2017, tetapi POOL justru mengalami kerugian yang cukup dalam pada tahun 2018.

 

Grafik: Kinerja Laba Bersih POOL

Dari aspek kinerja arus kas operasional, tren kinerja arus kas POOL bisa dibilang bikin kita “geleng-geleng” kepala. Dalam 6 tahun terakhir, perusahaan bahkan hanya mencatat arus kas positif pada 2014 dan 2017.

Nilai arus kas operasional yang negatif ini menandakan bahwa perusahaan tidak mampu menghasilkan cash flow dari model bisnisnya setiap tahun.

Grafik: Kinerja Arus Kas Operasional POOL

 

Menariknya, jika dilihat dari struktur pemegang saham perseroan, salah satu pemegang saham PT Pool Advista Indonesia Tbk. juga merupakan salah satu pemegang saham PT Trada Alam Minera Tbk. Orang tersebut merupakan salah satu dari sepuluh orang yang dicegah untuk berpergian ke luar negeri karena terkait dengan kasus Jiwasraya.

 

PT Eureka Prima Jakarta Tbk. (LCGP): Pendapatan Turun Terus

LCGP adalah perusahaan yang bergerak di bidang real estat dan konstruksi. Perusahaan yang awalnya bernama PT Laguna Cipta Griya ini mulai menjalankan kegiatan operasionalnya pada tahun 2004. 

LCGP berperan dalam pembangunan perumahan Puri Krakatau Hijau dan Puri Cilegon Hijau yang berlokasi di Cilegon, Banten.  Secara kasat mata, pertumbuhan pendapatan LCGP sedang mengalami tren penurunan. 

Sejak 2014 pendapatan perusahaan terus menurun secara konsisten hingga 2018. Melambatnya sektor properti nasional menjadi salah satu alasan mengapa pertumbuhan pendapatan perusahaan anjlok cukup dalam.

Grafik: Kinerja Pendapatan LCGP

 

Senada dengan pendapatan, laba bersih LCGP juga relatif tumbuh negatif setiap tahunnya. LCGP hanya mampu mencatatkan laba positif pada 2014 dan 2016 sedangkan sisanya LCGP justru mengalami kerugian. 

Meskipun perusahaan terus berusaha untuk melakukan efisiensi dengan menurunkan beban pokok penjualan dan biaya operasional, tapi pendapatan yang terus menurun membuat LCGP selalu kesulitan untuk menghasilkan laba.

Grafik: Kinerja Laba Bersih LCGP

 

Dalam kinerja arus kas operasional, LCGP hanya mampu menghasilkan arus kas positif pada 2014 dan 2016. Tren arus kas yang negatif ini menunjukkan ketidakmampuan perusahaan dalam menghasilkan cash flow melalui model bisnisnya dalam 6 tahun terakhir. 

Grafik: Kinerja Arus Kas LCGP

 

Bikin Geleng-geleng Kepala

Berdasarkan data keuangan historis yang telah dijabarkan, rasanya sulit untuk menemukan satu alasan kuat untuk menempatkan dana pada saham-saham seperti ini.

Di samping kinerja pendapatan, laba, dan arus kas operasional, ketiga saham ini juga memiliki kinerja rasio keuangan yang relatif buruk jika dibandingkan dengan rata-rata kompetitornya.

Selain ketiga saham tersebut, Jiwasraya juga dilaporkan menempatkan dananya pada saham saham lain seperti SMRU, FIRE, MYRX, SMBR, PPRO dan berbagai saham lain melalui produk reksadana saham berkualitas rendah.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apabila kamu berada di posisi yang sama dengan Jiwasraya, apakah kamu memutuskan untuk membeli saham yang sama?

Apa yang menjadi pertimbangan manajer investasi Jiwasraya dalam membeli saham itu? Apakah standar seleksi saham yang digunakan oleh Jiwasraya memang terlampau rendah? 

Apakah kualitas manajer investasi Jiwasraya berada di bawah rata-rata sehingga tidak bisa membedakan saham yang berkualitas dengan saham sampah? Atau justru ada unsur kesengajaan soal penempatan dana nasabah yang membuat negara merugi?

 

4 Replies to “Mengupas Saham “Sampah” yang Bikin Jiwasraya Sekarat”
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *