Maju Mundur Negosiasi Indonesia dan Produsen Baterai Mobil Listrik (Seri 3 dari 3 Tulisan)

Fauzan Ahmad

 

Artikel ini adalah bagian ketiga dari tiga artikel yang membahas perkembangan komoditas nikel pada awal 2021. Simak bagian kedua dari laporan berseri ini dengan mengklik tautan berikut: Saham Nikel: Dari Sentimen Mobil Listrik Hingga Kerusuhan di Kaledonia Baru

[Waktu baca: 6 menit]

Empat sehat lima sempurna. Lima tak mungkin kurang, tapi empat selalu lebih dari cukup. Itulah sebabnya ketika Kepala BKPM Bahlil Lahadalia berkata ada empat perusahaan asing yang tengah bernegosiasi dengan pemerintah untuk mendirikan pabrik baterai mobil listrik di Indonesia, publik menyambut dengan antusiasme tinggi.

Harga saham-saham emiten nikel sempat beterbangan, kolom situs pencarian daring penuh dengan banjir kata kunci “mobil listrik,” dan media adu cepat mengangkat pemberitaan soal progress negosiasi-negosiasi yang ada.

"Kalau empat [perusahaan] ini sudah jalan, maka dunia akan mulai merasakan kehadiran Indonesia dalam rangka kontribusi terhadap industri terbarukan, khususnya mobil listrik," kata Bahlil dalam konferensi pers 26 Januari 2021, seolah merangsang orang agar makin tak sabar.

Keempat pabrik yang dimaksud Bahlil antara lain Contemporary Amperex Technology (CAT) asal China, LG Energy Solution dari Korea, Badische Anilin-und Soda-Fabrik (BASF) asal Jerman, serta terakhir—sekaligus yang paling kondang—berasal dari Amerika Serikat. Siapa lagi kalau bukan Tesla Inc.

Per hari ini dua perusahaan sudah menentukan sikap dan nilai investasi. Adalah CAT yang pertama menjalin kata sepakat dengan nilai investasi US$5,2 miliar. Menyusul kemudian LG Energy Solution yang meneken nilai tak kalah fantastis, tepatnya US$9,8 miliar.

Sementara dua perusahaan lain, yakni BASF dan Tesla masih gamang. Dalam kasus BASF, belum tersegelnya kesepakatan barangkali tak banyak menyita atensi lantaran valuasi perusahaan yang lebih rendah dibanding tiga lainnya. Sementara itu, Tesla adalah perusahaan raksasa yang kini menyita perhatian sebagian publik Indonesia.

Sebelumnya perusahaan yang berkantor di Palo Alto tersebut sudah sempat menepikan Indonesia dalam pertimbangan pembangunan pabrik mobil mereka di Asia. Pada akhirnya perusahaan tersebut belakangan lebih mendekat ke India karena, salah satunya, faktor pajak.

Kawasan Bengaluru, Karnataka yang dirumorkan dipilih Tesla sebagai lokasi calon pabrik di Asia memiliki aturan pembebasan bea materai 100 persen untuk penggantian biaya konvensi tanah dan subsidi promosi investasi.

Bandingkan, misalnya, dengan Indonesia atau Jakarta. Kendati telah menempuh kebijakan pemotongan pajak hingga insentif lain untuk pembelian mobil listrik, arah aturan-aturan tersebut lebih mengarah ke keuntungan konsumen. Belum ada regulasi yang benar-benar memanjakan pabrik mobil listrik.

Selain itu, faktor sumber daya manusia juga jadi pemicu. Di India, khususnya di kawasan Karnataka, Tesla akan lebih dimudahkan mencari tenaga terampil di sektor teknologi termasuk otomotif. Ini lantaran kawasan tersebut juga merupakan daerah riset unttuk pabrikan otomotif besar seperti Mercedez Benz, General Motors hingga Volvo.

Kembali ke konteks investasi baterai mobil listrik. Dengan pertimbangan kejadian tersebut, akankah nasib negosiasi pabrik baterai listrik juga akan berujung sama?

Jawabannya belum tentu. Kalah bersaingnya Indonesia sebagai calon lokasi pembangunan pabrik mobil listrik tidak akan serta merta mencoret Indonesia jadi lokasi potensial produsen baterai. Ini lantaran bagaimanapun Indonesia punya keunggulan dalam hal kemampuan produksi nikel. Angka produksi Indonesia bahkan cenderung sukar diimbangi oleh negara lain.

Kendati turun akibat faktor pandemi, produksi nikel Indonesia pada 2020 lalu diproyeksi ada pada kisaran 760.000 dalam metrik ton. Rapor ini jauh mengungguli Filipina yang berada di urutan dua dengan produksi 320.000 nikel dalam metrik ton.

Kemampuan Produksi Nikel Negara-negara di Dunia (dalam metrik ton)

(sumber: Statista)

Itu baru dari segi  produksi, belum bicara soal cadangan dan potensi jangka panjang yang juga menempatkan Indonesia dalam posisi menguntungkan.

Yang artinya, bagi Tesla, melepaskan Indonesia sebenarnya merupakan "kerugian" besar karena mereka bakal kehilangan peluang mendapat pundi-pundi tambahan dari produksi baterai.

Langsung menyimpulkan Tesla tidak jadi berinvestasi baterai hanya berdasarkan pada buntunya pembangunan pabrik mobil listrik juga berlebihan bila mempertimbangkan rentang waktu.

Ini lantaran hasrat Tesla membangun pabrik baterai di Indonesia baru mencuat pada Oktober 2020 alias 5 bulan lalu. Bila didasarkan pada tanggal pengajuan proposal  pada Februari, proses pembicaraan serius bahkan praktis baru sekitar 1 bulan. Itu adalah waktu yang belum menggambarkan lansekap keseluruhan. 

Sebagai informasi, dalam kasus LG misal, pabrikan asal Korsel tersebut baru menyegel kesepakatan investasi di Indonesia pada Oktober 2020. Padahal, ketertarikan sudah muncul dan jadi rahasia umum sejak pertengahan 2019. Ini artinya butuh sekitar setahun untuk mengerucutkan hasil negosiasi. Situasi tersebut tidak beda jauh dengan kasus CATL.

Padahal sejak awal pemerintah pun juga telah mewanti-wanti bahwa negosiasi dengan Tesla bisa jadi akan lebih memakan waktu ketimbang pembicaraan yang pernah dilakukan dengan CATL dan LG. Selain karena tertahan pandemi yang bikin perusahaan tersebut terkendala dalam survei, faktor perbedaan teknologi pengembangan baterai yang digunakan Tesla juga membuat pembicaraan akan lebih rumit.

“Proposal Tesla berbeda dari CATL dan LG Chem secara konsep. Ini karena jenis teknologi dasar yang dipakai untuk pengolahan Tesla berbeda,” tutur Staf Khusus Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Septian Hario Seto bulan lalu.

Dari pihak Tesla, di sisi lain, belum ada banyak perkembangan berarti.

Satu hal patut digarisbawahi adalah meski masih bergantung pada nikel, Tesla juga tengah mengembangkan mobil ramah lingkungan yang bahan bakarnya tidak membutuhkan nikel. Fakta ini diboborkan Elon Musk belum lama ini.

“Nikel adalah kekhawatiran utama kami untuk meningkatkan produksi baterai lithium ion. Karena itu kami berencana mengubah [komponen utama baterai] ke katoda besi,” cuit Elon Musk Jumat (26 Februari 2021), misalnya.

Pernyataan tersebut agaknya juga menjadi tanda bahwa kendati akan lebih berbelit, bukan berarti Indonesia bisa bersikap santai menanggapi proposal yang telah diajukan Tesla. Sebab, bila kesepakatan tak kunjung dihasilkan hingga Tesla merampungkan teknologi yang dimaksud Elon, bukan mustahil jika akhirnya ketertarikan investasi pabrikan tersebut justru akan lenyap.

Tags:

Investasi