Saham Nikel: Dari Sentimen Mobil Listrik Hingga Kerusuhan di Kaledonia Baru (Seri 2 dari 3 Tulisan)

Yodie Hardiyan

Artikel ini adalah bagian kedua dari tiga artikel yang membahas perkembangan komoditas nikel pada awal 2021. Simak bagian pertama dari laporan berseri ini dengan mengklik tautan berikut: Prospek Nikel Indonesia di Tengah Sorotan Global.

[Waktu baca: 6 menit]

Nikel adalah salah satu komoditas yang banyak dibahas oleh sejumlah pihak karena peningkatan harganya sepanjang 2020 di saat perekonomian global tengah terpuruk akibat pandemi virus corona. 

Sepanjang 2020, harga nikel melesat lebih dari 18% dari level US$14.000 per ton pada akhir 2019 menjadi lebih dari US$16.000 per ton pada akhir 2020. Dihitung dari Maret 2020 ketika harga nikel longsor akibat kepanikan global terhadap virus corona, harga nikel melesat hingga 50% pada akhir 2020.

Mengapa harga nikel naik pada 2020? Bagaimana dengan perkembangan harga nikel ini pada awal 2021? Bagaimana pergerakan harga itu menjadi sentimen bagi saham-saham perusahaan yang memiliki tambang nikel di Indonesia? 

Harga komoditas ini dipengaruhi oleh dua sisi yang saling berkaitan: permintaan dan penawaran. Mari kita kupas satu per satu.

Sisi Penawaran 

Dari sisi penawaran, sejumlah peristiwa global berdampak terhadap pergerakan harga nikel. Setiap peristiwa memiliki efek yang berbeda-beda terhadap pergerakan harga nikel: ada yang mengerek naik, ada yang mengulur turun.

Salah satu peristiwa tersebut adalah aksi protes di Kaledonia Baru (New Caledonia) yang menentang penjualan tambang kobalt dan nikel yang dimiliki oleh Vale kepada konsorsium yang dipimpin korporasi Singapura, Trafigura. Pemrotes menentang penjualan tambang itu kepada pihak di luar Kaledonia Baru.

Aksi protes yang dijalankan oleh kelompok pro-kemerdekaan Kaledonia Baru dari Perancis pada Desember 2020 itu menginginkan tambang nikel bermama Tambang Goro itu dimiliki oleh warga Kaledonia Baru, bukan investor asing. Aksi ini semacam bentuk "nasionalisme ekonomi" di kawasan Pasifik Selatan.

Salah satu bentuk protes itu adalah memblokade Tambang Goro tersebut. Blokade tambang berarti menutup akses kegiatan di lokasi tersebut mengakibatkan situasi yang tidak kondusif di Kaledonia Baru. Belum lagi kerusuhan di jalan-jalan di Kaledonia Baru.

Kaledonia Baru adalah produsen nikel terbesar keempat terbesar di dunia setelah Indonesia, Filipina dan Rusia. Pada 2019, tambang Kaledonia Baru memproduksi 220.000 ton nikel atau sekitar 8%-9% nikel yang diproduksi secara global.

Situasi mulai kondusif pada awal Maret 2021 dibandingkan dengan Desember 2020. Namun, seperti gejolak kemerdekaan di berbagai wilayah lainnya, masalah di Kaledonia Baru ini bisa pecah lagi sewaktu-waktu. 

Jika operasional tambang tersebut terganggu, stok nikel global dapat terdampak yang kemudian dapat mengerek naik harga nikel karena kurangnya pasokan. Perkembangan di Kaledonia Baru ini merupakan salah satu situasi yang perlu dicermati dalam mengamati pergerakan harga nikel.

Selain itu, salah satu peristiwa terbaru yang berdampak terhadap harga nikel dari sisi penawaran adalah pelarangan tambang nikel di Pulau Tumbagan, Languyan, Filipina oleh Presiden Rodrigo Duterte karena masalah dampak lingkungan.

Filipina adalah salah satu eksportir nikel terbesar di dunia setelah Indonesia melarang ekspor nikel pada awal 2020. Dua perusahaan nikel terbesar di Filipina adalah Global Ferronickel Holdings Inc dan Nickel Asia Corp.

Seperti telah disebutkan di atas, Filipina adalah salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia. Pelarangan produksi nikel dapat berdampak terhadap pasokan nikel di pasar global.

Baca juga: Sektor Saham Jawara 2020: Tambang!

Sisi Permintaan

Dari sisi permintaan, salah satu kondisi yang berdampak terhadap harga nikel adalah perbaikan ekonomi China setelah terpukul akibat pandemi corona pada kuartal I/2020. China merupakan konsumen nikel terbesar di dunia, selain Amerika Serikat, Jepang dan sebagainya.

Indikator yang menunjukkan kondisi tersebut adalah perbaikan Purchasing Manager's Index (PMI) China yang berada di atas 50 yang menandai adanya ekspansi dalam kegiatan usaha manufaktur. Pada Januari 2021, PMI China sebesar 51,3 setelah sempat terperosok dalam menjadi 35,7 pada Februari 2020.

Nikel adalah salah satu bahan baku baja nirkarat (stainless steel) yang banyak digunakan oleh industri manufaktur di seluruh dunia. China mengimpor nikel senilai US$5,5 miliar pada 2019 atau terbesar di dunia.

Selain itu, perbaikan ekonomi global yang sempat dan masih terpukul akibat pandemi corona juga diharapkan berdampak terhadap peningkatan permintaan nikel. Berbagai negara yang mengalami kontraksi ekonomi pada kuartal I/2020 atau kuartal II/2020 perlahan mengalami pemulihan pada kuartal III/2020 dan kuartal IV/2020.

Di samping itu, harga nikel juga dipengaruhi oleh peningkatan permintaan (dan ekspektasi peningkatan) di masa depan untuk produksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Kendaraan listrik membutuhkan baterai dimana salah satu bahan bakunya adalah nikel. 

Kendaraan listrik, seperti mobil listrik, menjadi suatu produk yang relatif baru dalam jagat otomotif dalam satu dekade belakangan. Mobil jenis ini digadang-gadang akan menjadi mobil masa depan di dunia, menggantikan mobil berbahan bakar energi fosil seperti bensin yang dianggap tidak lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Prospek di Balik Rekor Transaksi Saham ANTM

Saham Perusahaan Nikel "Ketiban Rejeki", Sampai Kapan?

Di Indonesia, perusahaan terbuka yang memiliki tambang nikel antara lain Antam (ANTM) dan Vale Indonesia (INCO). Antam memiliki tambang nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara dan Halmahera Timur, Maluku Utara, sedangkan Vale memiliki tambang nikel di Sorowako, Sulawesi Barat.

Nikel menjadi kontributor utama terhadap pendapatan Vale, sedangkan menjadi kontributor terbesar kedua terhadap pendapatan Antam setelah emas. Bagaimana dengan kinerja perusahaan pemilik tambang nikel di Indonesia seperti Antam dan Vale Indonesia? 

Berdasarkan laporan keuangan terakhir yang dipublikasikan pada kuartal III/2020, secara operasional, penjualan Antam sebenarnya turun lebih dari 26% menjadi Rp18,03 triliun dibandingkan dengan Rp24,55 triliun pada kuartal III/2019. Nikel adalah kontributor terbesar kedua terhadap pendapatan Antam.

Kendati penjualannya turun, laba Antam naik 30% menjadi Rp835,77 miliar pada kuartal III/2020 dibandingkan dengan Rp641,51 miliar pada kuartal III/2019. Peningkatan laba itu dapat terjadi karena Antam mampu menjaga laba usaha yang positif pada kuartal III/2020.

Perusahaan yang tergabung dalam holding BUMN tambang MIND ID ini mengklaim diri sebagai produsen feronikel dengan biaya rendah dunia sebesar US$3,95 per pon pada 2019. Rata-rata biaya tunai secara global sebesar US$5,13 per pon. Pada saat ini, nikel menjadi kontributor terbesar kedua setelah emas terhadap pendapatan Antam. 

Pada 2021, Antam menargetkan peningkatan produksi bijih nikel sebesar 77% dimana hasil produksi itu akan digunakan sebagai bahab baku pabrik feronikel Antam dan penjualan kepada pelanggan domestik. Dari hasil produksi itu, Antam menargetkan peningkatan penjualan sebesar 104% seiring peningkatan pertumbuhan industri pengolahan nikel dalam negeri.

Sementara itu, hampir sama seperti ANTM, INCO juga mengalami penurunan penjualan namun mengalami peningkatan laba pada 2020. Laba INCO naik sebesar 2% menjadi menjadi US$764,7 juta pada 2020 dibandingkan dengan US%782 juta pada 2019. 

Pada 2020,  Vale membukukan penurunan pendapatan sebesar 2% menjadi $764,7 juta karena realisasi harga rata-rata pengiriman nikel matte yang lebih rendah menjadi US$10.498 per ton dibandingkan dengan US$10.855 per ton. Kendati demikian, INCO dapat menjaga laba kotor tetap tumbuh di tengah penurunan pendapatan.

Secara bottom line, Vale Indonesia mencetak laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$82,82 juta pada 2020 atau naik 44,28% dibandingkan dengan US$57,4 juta pada 2019.

Perusahaan memproduksi nikel matte yang digunakan dalam pembuatan nikel olahan dengan kandungan rata-rata 78% nikel, 1%-2% kobalt serta 20%-21% sulfur. Seluruh produk nikel matte dikirim ke Jepang untuk proses pemurnian.

Berdasarkan kinerja perusahaan, kendati mengalami penurunan pendapatan, ANTM dan INCO tetap bisa membukukan pertumbuhan keuntungan. Kinerja perusahaan yang masih dapat bertumbuh di tengah kontraksi ekonomi ini menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kedua saham tersebut, selain sentimen baterai listrik yang seakan menjadi narasi utama saham nikel.

Di tengah berbagai sentimen mengenai nikel tersebut, saham ANTM dan INCO mendapatkan momentumnya. Dua saham ini melesat sepanjang 2020 setelah sempat tersungkur dalam pada Maret 2020 saat pasar saham longsor akibat kepanikan global terhadap pandemi. Perhatikan dua grafik garis berikut:

Saham ANTM dan INCO berada dalam tren naik sejak Maret 2020 sampai Maret 2021. Dalam setahun terakhir hingga awal Maret 2021, saham ANTM telah naik lebih dari 300% sedangkan INCO naik lebih dari 90%. Peningkatan ini kemungkinan terjadi karena ekspektasi para pelaku pasar terhadap masa depan kedua perusahaan ini.

Apakah peningkatan itu akan berlanjut pada 2021? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Namun, investor perlu memperhatikan aspek penawaran dan permintaan nikel di seluruh dunia. Pada awal Maret 2021 ini, misalnya, ada kabar yang kurang bagus bagi harga nikel.

Korporasi nikel dan stainless steel asal China, Tsinghan Holding Group, yang mengumumkan rencananya menyediakan 100.000 ton nikel matte kepada pembuat baterai kendaraan listrik Huayou Cobalt serta CNGR Advanced Material. 

Tambahan pasokan ini dikhawatirkan menekan harga nikel. Tsingshan memperkirakan total produksi nikel dapat mencapai 600.000 ton pada 2021 dan terus meningkat pada 2022 dan 2023. Karena kesepakatan itu, harga nikel turun 8% pada Kamis (4 Maret 2021) atau penurunan harian terbesar sejak 2017.

Harga-harga saham nikel seperti ANTM dan INCO turut merespon sentimen itu sehingga berguguran masing-masing 6,67% dan 6,75% atau menyentuh batas bawah penurunan harga saham (ARB).

Apakah ini hanya sentimen negatif sementara atau awal dari sebuah penurunan yang panjang? Berbagai sentimen yang terjadi di luar Indonesia perlu dicermati secara seksama jika kita memutuskan menempatkan uang di saham-saham nikel.