Jerry Ng dan Bank Jago: Musuh Besar Bank Konvensional

Fauzan Ahmad

Pada 2018, Jerry Ng telah mencapai puncak kariernya. Sebagai bankir yang hampir tiga dekade malang melintang mencicipi kursi direksi berbagai bank swasta tanah air, ia nyaris tak kekurangan apapun.

Fakta bahwa Jenius, layanan yang dibidani Jerry sejak menjabat Direktur Utama Bank BTPN, telah menjadi market leader di segmen perbankan digital dalam negeri adalah bukti keberhasilannya yang lain.

Namun di tahun yang sama, bersamaan dengan kedatangan Sumitomo Mitsui ke dalam tubuh BTPN, Jerry memutuskan untuk menanggalkan seluruh jabatannya.

“Sebagai pemimpin, mau secanggih apapun pasti ada waktunya [berhenti]. Kreativitas ada waktunya. Ini adalah waktu yang tepat [untuk mundur],” kata Jerry waktu itu

Waktu kemudian membuktikan bahwa tumpulnya kreativitas bukan alasan utama Jerry mundur. Sebaliknya, pengunduran diri itu rupanya justru menjadi awal dari ambisi Jerry mewujudkan visinya ke level yang lebih tinggi.

Belum genap dua tahun sejak pensiun, setelah berhasil meyakinkan Grup Northstar dan beberapa investor strategis lain soal visi bisnisnya, Jerry mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut.

Bank yang konon tinggal punyal 5-6 kantor cabang fisik ketika diakuisisi tersebut bernama Bank Artos, perusahaan BUKU I yang dulunya didirikan keluarga Arto Hardy pada 1992.

“Kami bersyukur karena kami mendapat apa yang kami cari, yaitu bank yang tidak punya legacy. Dengan itu, kami bisa membangun dari awal,” kata Jerry saat menjadi pembicara dalam gelaran Katadata Indonesia Data and Economy Conference (IDE) 2021, Maret lalu. 

Kini, setelah transformasi besar-besaran yang dilakukan Jerry dan kolega di tubuh perusahaan tersebut, bank Artos telah berganti seragam menjadi PT Bank Jago Tbk. (ARTO).

Dan Bank Jago, secara mengejutkan, menjelma dari bukan siapa-siapa menjadi sebuah perbankan fenomenal. Dalam kurun setahun, status bank ini langsung melompat dari BUKU I menjadi BUKU III.

Modal inti perusahaan juga berlipat, dari kisaran Rp1 triliun menjadi Rp7 triliun lebih. Aturan ini membuat ARTO telah memenuhi aturan OJK yang mewajibkan bank konversi digital supaya memiliki modal inti minimal Rp3 triliun.

“Bank Jago ini bukan merupakan kelanjutan dari Jenius, sebab kelanjutan itu implikasinya Jago hanya marginally better [dibanding Jenius]. Saya melihat Jago ini sebagai kategori baru atau transformasional,” kata Jerry. 

Sejak awal, Jerry memang mengatakan bahwa Bank Jago tidak seperti kebanyakan bank calon digital tanah air. Termasuk Jenius yang tetap mengadaptasi nilai-nilai idealisme lama BTPN meski berstatus bank dengan wajah modern.

Jerry menyebut bahwa konsep bank rintisannya kali ini mengelaborasi strategi bisnis bank-bank digital di Eropa-Amerika dan Asia. Ciri khas bank-bank digital asal Eropa dan Amerika Latin seperti Revolut, Nw6, Tinkoff dan Nubank yang menonjolkan aspek tampilan antarmuka (UI) dan pengalaman pengguna (UX) diadaptasi oleh ARTO.

Sistem cloud banking, yang sebelumnya belum pernah dipakai secara penuh oleh bank lain di dalam negeri, juga diterapkan langsung oleh Bank Jago sejak layanan digitalnya mengudara.

Kemudian, dari sisi para pemain Asia seperti WeBank (China) dan Kakao Bank (Korea Selatan), Jerry mengadaptasi sebuah ciri khas yang juga belum banyak di bawa ke tanah air: kolaborasi ekosistem digital.

“Saya melihat dua-duanya [pendekatan Eropa dan Asia] mempunyai keunggulan [...] Bank Jago akan mengkombinasikan keduanya. Kami akan fokus di life centric solution, tapi juga akan melakukan kolaborasi dengan ekosistem yang melakukan segala macam payment,” kata Jerry. 

Pendekatan Jerry sejauh ini tampak membuahkan hasil.

Adaptasi strategi gaya Asia yang dilakukan lewat kolaborasi dengan berbagai perusahaan ekosistem digital seperti Gojek dan Bibit, misalnya, telah membuat saham Bank Jago jadi buruan investor bak permata paling langka di dunia.

Proyeksi penetrasi yang dimiliki Gojek dan Bibit mau tak mau menular ke Bank Jago. Apalagi, API yang dimiliki Bank Jago kini telah tertanam resmi ke platform-platform tersebut.

Hasrat tinggi investor terhadap ARTO kemudian membuat kapitalisasi pasar Bank Jago hampir mencapai Rp250 triliun. Rapor tersebut menempatkan Bank Jago sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar tertinggi kelima di bursa.

Padahal, bila dibandingkan bank big caps lain seperti BCA, Mandiri atau BRI yang punya aset ratusan bahkan ribuan triliun, ARTO masih terlampau sangat kecil.

Bukan hanya membawa berkah terhadap valuasi pasar perusahaan, kolaborasi ekosistem ala bank digital Asia yang dilakukan ARTO juga mengerek pacuan kredit perusahaan.

Adanya kolaborasi pendanaan yang dilakukan ARTO bersama perusahaan-perusahaan fintech lending seperti Modal Rakyat, Akulaku, Akseleran hingga AdaKami punya kontribusi tidak kecil terhadap rapor penyaluran kredit perusahaan.

Hingga akhir Juni, Bank Jago telah membukukan penyaluran kredit Rp2,17 triliun atau tumbuh 139,12 persen dari realisasi per akhir tahun lalu.

Sekitar Rp1,03 triliun atau 47,7 persen dari kredit tersebut merupakan kredit konsumsi, kemudian Rp875,2 miliar alias 40,3 persen adalah kredit modal kerja serta sisanya terbagi ke dalam kredit pihak berelasi dan kredit investasi.

Di saat yang sama, pendekatan ala Eropa dan Amerika Latin yang dilakukan perusahaan juga menghasilkan dampak menjanjikan.

Dengan bekal tampilan yang ramah bagi generasi peka teknologi, ARTO mampu menggaet nasabah baru dan hal ini tampak jelas dari tren dana pihak ketiga (DPK) perseroan.

Hingga akhir semester I/2021, DPK Arto telah menembus level Rp1,72 triliun. Angka ini meningkat 114,71 persen dibandingkan rapor DPK per Desember 2020 yang baru mentok pada kisaran Rp803,94 miliar. 

Tentu saja, bila hitungannya adalah angka, harus diakui bahwa capaian Bank Jago masih jauh dari empat bank besar di tanah air.

Belum seimbangnya jumlah pendapatan bunga perseroan terhadap belanja-belanja teknologi membuat ARTO masih merugi Rp50,91 miliar hingga akhir semester I/2021.

Sebagai ilustrasi perbandingan PT Bank BTPN Tbk. (BTPN), emiten BUKU III lain yang juga merupakan panji lama Jerry Ng, mampu membukukan pertumbuhan laba 47 persen secara year on year (yoy) ke posisi Rp5,59 triliun per akhir semester I/2021.

Emiten BUKU III lain seperti PT Bank Permata Tbk. (BNLI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) juga membukukan rapor pendapatan berikut laba lebih baik ketimbang ARTO dari berbagai sudut pandang.

Meski demikian, bukan berarti capaian Bank Jago bisa dikatakan buruk.

Pasalnya bukan cuma menciut, kerugian pada semester I/2021 ini juga diyakini manajemen merupakan isyarat baik. Dengan proyeksi saat ini, dan penyaluran kredit berikut pendapatan bunga terus tumbuh, perseroan optimistis tren ruginya bisa lenyap pada akhir tahun mendatang.

“Jadi, kinerja kami belum positif karena faktor investasi. Kami menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan masih sejalan dengan perencanaan awal. Lagipula, investasi ini juga tentu akan bisa kami nikmati terus hasilnya di masa mendatang,” tambahnya,” kata Direktur Utama ARTO Kharim Siregar dalam siaran pers Senin (26/7).

Optimisme perusahaan terkait kinerja yang berbalik juga divalidasi para pakar.

Konsensus yang dihimpun Bloomberg baru-baru ini, misalnya, memperkirakan bahwa pada akhir tahun nanti ARTO akan mampu membalikkan kinerja rugi Rp189,6 miliar tahun lalu menjadi untung Rp9 miliar.

Keuntungan itu kemudian baru akan mengembang menjadi Rp300 miliar lebih pada tahun depan dan terus berlipat pada tahun-tahun berikutnya.

Pandangan Bloomberg tersebut juga divalidasi dalam Credit Suisse Equity Research. Lewat publikasi studi terbarunya terkait tren bank digital pada Senin (27/7/2021) lalu, mereka memperkirakan ekosistem yang dimiliki GoTo (Gojek dan Tokopedia) akan mampu mengangkat ARTO menjadi bank dengan pertumbuhan konsumen terbaik hingga 2030.

Tim Reset Credit Suisse memperkirakan total addressable market (TAM) yang mampu direngkuh Bank Jago bisa mencapai US$150 miliar atau sekitar Rp2.165 triliun.

Untuk saat ini, proyeksi semacam itu barangkali tampak terlalu tendensius. Namun, bukan berarti hal tersebut tidak realistis.

Berkaca pada kasus Kakao Bank, bank digital asal Korea Selatan yang kerap dirujuk Jerry Ng sebagai contoh, potensi bank digital membalikkan kinerja dalam waktu singkat adalah hal yang sangat mungkin.

Data yang dihimpun FTP Partners, contohnya, menyebut bahwa sejak memproklamirkan diri sebagai Bank Digital, Kakao hanya butuh 2 tahun untuk membalikkan rapor. Dari kerugian 37,6 miliar won pada akhir 2017, perusahaan ini mampu mendulang untung 11,2 miliar won pada 2019.

Bila fenomena yang dialami Kakao Bank tersebut benar-benar menular kepada Bank Jago, lagi-lagi Jerry Ng bakal mendapat keuntungan besar.

Hingga pekan lalu saja, keberhasilan ARTO menduduki lima besar big caps telah sukses mengantarkan Wakil Direktur Utama Bank BCA ini sebagai orang terkaya kelima di Indonesia versi Forbes

Dengan nilai kekayaan ditaksir mencapai US$4,8 miliar, Jerry hanya dipisahkan dua tangga dengan dua mantan bosnya di BCA: Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono.

Sukses tidaknya Bank Jago juga akan menjadi jawaban apakah keputusan Jerry menunda keputusan pensiunnya di industri perbankan merupakan pilihan yang tepat

Bisnis