Indeks Tekno: Untuk Menyambut Gojek, Tokopedia dkk?

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 4 menit]

Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan klasifikasi industri baru bagi perusahaan-perusahaan terbuka yang telah melepas sahamnya di bursa dengan nama IDX Industrial Classification (IDX-IC) pada 25 Januari 2021. 

IDX IC ini akan menggantikan Jakarta Stock Industrial Classification (Jasica) yang telah dipakai oleh bursa sejak 1996. IDX IC terdiri dari 12 sektor dan 35 sektor, lebih banyak dari Jasica sebanyak 9 sektor dan 56 sub sektor.

Sebagai gambaran, klasifikasi industri ini adalah pengelompokan sektor bagi perusahaan terbuka di BEI. Misalnya, perusahaan A yang bergerak di usaha bank akan dikelompokkan ke dalam sektor keuangan. Sederhananya, klasifikasi adalah kategorisasi emiten berdasarkan kriteria tertentu.

Setiap sektor yang terdiri dari sejumlah perusahaan itu memiliki indeks sektoral yang dapat dipantau kinerjanya sama seperti indeks lainnya (IHSG, LQ-45, IDX 30 dan sebagainya). Indeks sektoral yang mengacu kepada IDX IC rencananya akan berlaku mulai Mei 2021.

Salah satu hal yang menarik dari IDX IC ini adalah adanya Indeks Tekno (IDXTECHNO). Dalam Jasica atau klasifikasi sektor yang lama, tidak ada indeks tekno. Indeks Tekno dalam IDX IC ini berisi perusahaan-perusahaan yang dulunya masuk ke dalam subsektor "Komputer dan Jasa" serta "Perdagangan Ritel" dari sektor "Perdagangan, Jasa dan Investasi".

Saham yang masuk Indeks Tekno itu antara lain:

Saham Perusahaan
ATIC Anabatic Technologies Tbk.
DCII DCI Indonesia Tbk.
DIVA Distribusi Voucher Nusantara Tbk.
DMMX Digital Mediatama Maxima Tbk.
ENVY Envy Technologies Indonesia Tbk.
GLVA Galva Technologies Tbk.
HDIT Hensel Davest Indonesia Tbk.
KIOS Kioson Komersial Indonesia Tbk.
LMAS Limas Indonesia Makmur Tbk
LUCK Sentral Mitra Informatika Tbk.
MCAS M Cash Integrasi Tbk.
MLPT Multipolar Technology Tbk.
MTDL Metrodata Electronics Tbk.
NFCX NFC Indonesia Tbk.
PTSN Sat Nusapersada Tbk
SKYB Northcliff Citranusa Indonesia Tbk.
TECH Indosterling Technomedia Tbk.


Seperti yang dijelaskan oleh BEI, salah satu alasan pembuatan IDX IC adalah menyelaraskan diri dengan global practice. Menurut BEI, IDX IC dibuat karena adanya perusahaan di bidang usaha baru seiring perkembangan ekonomi Indonesia.

Seperti diketahui, tidak sedikit perusahaan teknologi di berbagai belahan dunia yang telah menjadi perusahaan terbuka. Di Amerika Serikat, misalnya, berbagai perusahaan teknologi seperti Facebook, Google, Amazon, Twitter dan sebagainya telah melepas sahamnya kepada publik.

Berbagai perusahaan teknologi itu kini bahkan menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa saham AS, menggeser berbagai perusahaan di sektor tradisional seperti minyak dan gas atau keuangan. Saham dari berbagai perusahaan itu diminati oleh para investor di negeri Paman Sam.

Di Indonesia, Indeks Tekno di BEI ini muncul seiring dengan berbagai wacana IPO dari perusahaan teknologi raksasa Indonesia seperti Tokopedia, Gojek, Bukalapak dan berbagainya. Jika berbagai perusahaan yang dikategorikan sebagai unicorn bahkan decacorn itu jadi merealisasikan IPO maka saham-saham perusahaan tersebut kemungkinan akan dikelompokkan ke dalam Indeks Tekno.

Baca juga: Tokopedia dan Antisipasi Euforia Saham Startup 

Bukan tidak mungkin, Indeks Tekno ini menjadi salah satu persiapan dari BEI "menyambut" datangnya berbagai perusahaan teknologi yang akan melepas sahamnya kepada masyarakat investor Indonesia. 

Apabila berbagai perusahaan teknologi merealisasikan rencana IPOnya maka akan menjadi kabar baik bagi para pelaku pasar saham karena memiliki tambahan pilihan instrumen saham, terutama perusahaan teknologi dengan produk dan jasanya yang kian banyak dipakai oleh masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen atau mitra, tapi juga jadi pemilik perusahaan-perusahaan tersebut, tentu dengan segala persyaratan dan risikonya.


 

Investasi