Masa Depan PTBA dengan Gasifikasi Batubara

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 6 menit]

Bagaimana masa depan perusahaan batubara? Apakah perusahaan batubara akan tutup atau mengecil seiring penurunan permintaan batubara dari berbagai negara yang beralih ke sumber energi lain? 

Seperti diketahui, tidak sedikit negara yang kini meninggalkan batubara karena dianggap merusak lingkungan. Situasi itu berdampak terhadap permintaan batubara yang diproduksi di berbagai negara produsen, salah satunya Indonesia.

Di tengah berbagai ketidakpastian masa depan industri batubara, perusahaan batubara tidak tinggal diam. Sejumlah perusahan mengambil aneka keputusan di masa kini untuk menjaga keberlangsungan bisnis batubara di masa depan.

Salah satu keputusan itu adalah menjalankan proyek gasifikasi atau mengubah batubara menjadi gas serta bahan baku industri kimia. Dengan kata lain, batubara yang dijual oleh perusahaan bukan lagi hanya produk hulu (batubara mentah), melainkan produk hilir (produk bernilai tambah).

Perusahaan batubara yang telah ancang-ancang untuk menjalankan proyek gasifikasi ini adalah Bukit Asam (PTBA). Anak usaha BUMN yang kini bergabung dalam holding BUMN MIND ID ini telah mempersiapkan proyek gasifikasi sejak beberapa tahun lalu.

PTBA dan Gasifikasi 

Sebagai gambaran, hilirisasi batubara yang dilakukan oleh PTBA adalah mengembangkan batubara berkalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME) dan produk kimia seperti urea polypropylene. Untuk apa DME? DME dapat digunakan sebagai bahan pengganti atau substitusi gas cair (LPG).

Dalam pengembangan DME, PTBA telah menandatangani nota kesepahaman dengan BUMN minyak dan gas yaitu Pertamina yang kelak akan bertindak sebagai off taker (pembeli produk) serta perusahaan asal Amerika Serikat yaitu Air Products yang memiliki teknologi gasifikasi batubara pada 2018.

Proyek pengembangan konversi batubara menjadi DME ini direncanakan akan dimulai pada 2024 (atau 3 tahun lagi). Dalam produksi tersebut, PTBA memperkirakan batubara yang dibutuhkan mencapai 6,5 juta ton dengan produksi DME sebanyak 1,4 juta ton.

Sementara itu, PTBA juga telah menandantangani perjanjian dengan sejumlah perusahaan seperti Pertamina, Pupuk Indonesia dan Chandra Asri Petrochemical pada 2017 untuk membangun pabrik konversi batubara menjadi urea, DME dan polypropylene di salah satu lokasi tambang yaitu Tambang Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Dalam proyek ini, batubara yang dikonsumsi diperkirakan mencapai 8,1 juta ton per tahun. Urea yang diproduksi diperkirakan dapat mencapai 570 ton per tahun, DME 400.000 ton per tahun dan polypropylene 450.000 ton per tahun. Berbagai langkah ini menunjukkan rencana PTBA bukan isapan jempol semata.

Proyek ini memiliki sejumlah arti penting bagi PTBA di masa depan. Proyek ini setidaknya berusaha memastikan adanya permintaan terhadap batubara yang diproduksi oleh PTBA di masa depan. Sampai saat ini, PTBA memproduksi dan menjual lebih dari 20 juta ton batubara setiap tahunnya.

Pada 2019, misalnya, PTBA memproduksi 29 juta ton batubara yang meningkat 10% dibandingkan dengan 26 juta ton pada 2018. Dari produksi itu, PTBA menjual 27 juta ton batubara pada 2019 atau meningkat 12% dibandingkan dengan 24 juta ton pada 2018. Volume produksi dan volume penjualan itu berfluktuasi setiap tahunnya yang disebabkan sejumlah faktor.

Jika proyek gasifikasi ini berjalan lancar, permintaan batubara untuk keperluan dalam negeri akan kian kuat. Pada saat ini, penjualan batubara PTBA terbagi untuk pasar dalam negeri dengan porsi 60% dan ekspor 40%.  Jika pasar ekspor suatu saat menurun karena penurunan permintaan akibat kebijakan negara pengimpor batubara, PTBA perlu memperkuat pasar dalam negerinya jika ingin bertahan di masa depan.

Proyek gasifikasi ini setidaknya menjadi salah satu langkah perseroan untuk "mengamankan" potensi pendapatan di masa depan. Pada saat ini, PTBA memiliki cadangan batubara lebih dari 3,24 miliar ton dan sumberdaya 8,28 miliar ton. Cadangan tersebut merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia.

Baca Juga: MBAP: Emiten Batubara Kecil Nan Konsisten

Proyek ini bukan hanya ambisi perusahaan semata tanpa dukungan pemerintah. Pemerintah mendukung pengembangan proyek gasifikasi batubara ini dengan menetapkannya sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Peraturan Presiden Nomor 109/2020 tentang Perubahan Ketiga Atas Perpres No.3/2016 tentang Percepatan Pelaksanaan PSN.

Dengan ditetapkan sebagai PSN, pemerintah berupaya supaya proyek ini dapat terselesaikan setidaknya sebelum masa kepempimpinan Presiden Joko Widodo berakhir pada 2024. PSN merupakan bagian dari "janji politik" pemerintahan Presiden Jokowi.

Saham PTBA

Sama seperti saham-saham batubara lainnya, saham PTBA juga terjungkal ketika pasar saham terguncang akibat kepanikan investor seluruh dunia terhadap pandemi corona pada kuartal I/2020.

Namun, PTBA adalah salah satu saham batubara yang dapat mencetak return positif sepanjang 2020 karena harganya terkerek naik pada akhir tahun seiring reli yang terjadi pada Oktober-Desember 2020. 

Selain karena sentimen vaksin yang menjadi katalis positif ke pasar saham secara keseluruhan, saham batubara juga dipengaruhi sentimen peningkatan harga batubara yang terjadi di dunia.

Pada Januari 2021, harga batubara acuan (HBA) mencapai US$75,4 per ton atau meningkat lebih dari 20% dibandingkan dengan US$59,62 per ton pada Desember 2020 serta merupakan level tertinggi sejak Juli 2019. 

Seperti diketahui, harga batubara sempat berangsur turun pada 2020 seiring penurunan permintaan yang disebabkan berbagai faktor, salah satu di antaranya adalah pandemi corona yang memukul perekonomian dunia. Sebelum pandemi pun harga batubara juga sempat terpukul.

Kendati demikian, harga batubara di pasar berjangka mulai berangsur naik pada akhir 2020 karena adanya peningkatan permintaan dari negara-negara pengimpor batubara, salah satunya China, negara yang ekonominya mulai menggeliat pasca terpukul oleh pandemi.

Baca Juga: Batu Bara Melejit, Saham Kontraktor Tambang (UNTR, DOID, PTRO) Makin Menarik?

Harga batubara juga merangkak naik berkat kebijakan China yang melarang masuknya produk batubara asal Australia. Larangan itu dibuat karena persoalan diplomatik di antara kedua negara berbeda benua tersebut. 

Jika gasifikasi dapat menjadi katalis bagi saham PTBA di masa depan, pelaku pasar juga perlu mengamati perkembangan harga batu bara di 2021 yang dapat menjadi katalis bagi saham ini dalam jangka pendek. Saham sejumlah emiten batubara tidak jarang bergerak segendang seirama dengan pergerakan dengan harga batubara.
 

Investasi