Harga 5 Saham LQ-45 Ini di Bawah Harga IPO, Menarik?

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 4 menit]

Indeks LQ-45 adalah salah satu dari 34 indeks yang ada di Bursa Efek Indonesia. Indeks ini menjadi rujukan investasi bagi sebagian investor.

Berdasarkan laman resmi BEI, indeks LQ-45 diartikan sebagai indeks yang mengukur kinerja harga dari 45 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

Dibandingkan dengan berbagai indeks lain di BEI, indeks LQ-45 lebih dikenal oleh para investor dan kerap disebut serta dibahas di berbagai forum investor saham.

Harga dari sebagian besar saham yang masuk indeks LQ-45 telah meningkat sejak perusahaan menawarkan saham perdana (IPO). Sebagian saham lainnya juga telah mengalami pemecahan nominal saham (stock split) setelah meningkat berkali-kali lipat sejak IPO.

Namun, sebagian saham lain, harganya kini di bawah harga IPO. Pasar saham yang pergerakannya sangat fluktuatif pada paruh pertama 2020 karena faktor virus corona turut menekan harga sejumlah saham tersebut.

Saham apa saja yang masuk indeks LQ-45 namun harganya kini di bawah harga IPO? Berdasarkan daftar emiten yang masuk indeks LQ-45 periode Februari-Juli 2020 dan data pasar saham hingga Jumat, 29 Mei 2020, berikut ini di antaranya:

1. SRIL (PT Sri Rejeki Isman Tbk.)

Sri Rejeki Isman adalah perusahaan yang memproduksi tekstil dan garmen. Emiten berkode saham SRIL ini IPO pada 17 Juni 2013 dengan harga penawaran perdana sebesar Rp240.

Pada penutupan pasar saham Jumat (29 Mei 2020), saham SRIL ditutup di harga Rp142. Sejak awal tahun, saham perusahaan ini telah turun lebih dari 45%.

Baca Juga: Nasib Sritex (SRIL) Setelah Joe Biden Dilantik

2. TKIM (PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk.)

Pabrik Kertas Tjiwi Kimia adalah perusahaan yang memproduksi kertas. Emiten bersandi saham TKIM ini IPO pada 1990 dengan harga Rp9.500.

Pada penutupan pasar saham Jumat (29 Mei 2020), saham TKIM ditutup di harga Rp3.970. Sejak awal tahun, harga saham TKIM telah turun lebih dari 60%.

Berdasarkan profil perusahaan di IDX, perusahaan pernah melakukan serangkaian aksi korporasi sejak 1990. Namun, perusahaan ini belum pernah melakukan stock split.

3. MNCN (PT Media Nusantara Citra Tbk.)

Media Nusantara Citra adalah perusahaan media. Emiten bersandi saham MNCN ini IPO pada 2007 dengan harga Rp900. Pada penutupan pasar saham Jumat (29 Mei 2020), saham MNCN ditutup di harga Rp850 atau level harga yang terpaut tidak terlalu jauh dengan harga IPO-nya. 

Dengan posisi harga saat ini, bukan tidak mungkin harga MNCN kembali ke level IPOnya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sejak awal tahun, harga saham MNCN telah turun lebih dari 40%.

Baca Juga: Mengupas Kinerja MNCN, TKIM dan SRIL

4. ITMG (PT Indo Tambangraya Megah Tbk.)

Indo Tambangraya Mega adalah perusahaan tambang batubara. Emiten bersandi saham ITMG ini IPO pada 2007 dengan harga Rp14.000.

Pada penutupan pasar saham Jumat (29 Mei 2020), saham ITMG ditutup di harga Rp8.100. Sejak awal tahun, harga saham ITMG telah turun lebih dari 20%.

5. INKP (PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk.)

Indah Kiat Pulp & Paper adalah perusahaan yang memproduksi kertas. Emiten bersandi INKP ini IPO Pada 1990 dengan harga Rp10.600.

Pada penutupan pasar saham Jumat (29 Mei 2020), saham INKP ditutup di harga Rp5.250. Sejak awal tahun, harga saham INKP telah turun lebih 20%.

Berdasarkan profil perusahaan di IDX, perusahaan pernah melakukan serangkaian aksi korporasi sejak 1990. Namun, perusahaan ini belum pernah melakukan stock split.

 

Apabila Anda berencana untuk berinvestasi saham, Big Alpha telah menyusun sebuah e-book kuartalan yang berisi 15 saham pilihan. Klik di sini untuk melakukan pemesanan.

Investasi