BUMI Tidak Lagi Datar

Tirta Prayudha

[Waktu baca: 4 menit]

Beberapa hari terakhir, saham emiten pertambangan batubara terbesar di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk., seolah bangkit dari kuburnya. Setelah lama tertidur di level Rp50, harga saham BUMI naik 120% ke harganya saat ini di Rp110 per lembar dalam tiga bulan terakhir.

Kenaikan ini tentu menjadi perhatian, karena BUMI punya tempat khusus di hati para pelaku pasar modal dalam negeri. Emiten ini sempat merajai index dan mendapat julukan ‘saham sejuta umat’. 

Namun kegagalan mereka dalam menjaga konsistensi mencetak laba dan meningkatnya jumlah utang yang mereka miliki, lambat laun menyeret harga saham ini ke level terendah yang diijinkan bursa.

Hingga sekarang, emiten ini masih sering disebut emiten Bakrie, padahal status kepemilikan mayoritas BUMI saat ini tidak lagi dipegang oleh keluarga Bakrie. BUMI sekarang dikuasai oleh Chendong Investment Corporation (CIC), perusahaan asal China yang mengempit sekitar 22,7% atau sebanyak 14,85 miliar unit saham. Sisanya atau 77,3% atau 50,53 miliar saham merupakan saham publik.

Perpindahan kepemilikan mayoritas inilah yang menjanjikan adanya perbaikan dalam tata kelola BUMI.

Lalu bagaimana dengan kinerjanya?

Sama seperti perusahaan pertambangan batubara lainnya, BUMI bertindah sebagai price taker dari produk yang mereka jual. Kinerjanya sangat tergantung kepada harga jual acuan batubara dunia yang berada di luar kendali mereka.

Apalagi dampak pandemi covid-19 yang menurunkan permintaan batubara secara agregat, juga ikut menyeret kinerja BUMI tahun lalu.

Di kuartal tiga tahun 2020, BUMI masih mencetak rugi sebesar US$137 juta turun drastis sebesar -306% jika dibandingkan dengan kuartal tiga tahun 2019, di mana mereka masih bisa mencetak laba sebesar US$76 juta.

Turunnya volume penjualan BUMI menjadi kontributor utama BUMI merugi. Bayangkan saja, penjualan mereka turun -22% dari U$751 juta (Q3 2019) menjadi US$587 juta (Q3 2020).

Kinerja BUMI yang anjlok itu juga semakin merosot akibat besarnya beban utang yang mereka tanggung. Secara total, BUMI telah membayar US$331,6 juta pinjaman sejak April 2018. Pembayaran ini terdiri atas pokok Tranche A sebesar US$195,8 juta dan bunga US$135,8 juta, termasuk bunga akrual dan bunga yang belum dibayar.

Di masa lalu, BUMI memang gemar berutang melalui penerbitan obligasi, yang mengakibatkan perpindahan kepemilikan mayoritas perusahaan ini. Utang yang tadinya belum dibayar BUMI akhirnya dikonversi menjadi saham BUMI (OWK – Obligasi Wajib Konversi).

Baca Juga: MBAP: Emiten Batubara Kecil Nan Konsisten

Kalau kinerjanya belum membaik, kenapa harga saham BUMI bangkit?

Sentimen kenaikan harga saham BUMI murni dipengaruhi oleh melonjaknya harga acuan batubara dunia. Harga komoditas hitam ini sudah mendekati US$90 per ton, yang berarti sudah naik sekitar 50% dari harga benchmark batubara tahun lalu di harga US$60 per ton.

Kenaikan ini dipicu oleh tipisnya pasokan batubara yang ada di China, imbas konflik yang sedang terjadi antara China dan Australia (eksportir batubara terbesar ke China). Ditambah lagi, kebutuhan listrik domestik China yang semakin meningkat menyambut musim dingin dan Tahun Baru Imlek.

Saat ini, China sedang mengalami musim dingin terparah dalam lima dekade terakhir. 

Ekspektasi pasar atas tingginya harga jual batubara dunia inilah yang mengerek harga BUMI bangkit dari level terendahnya. Harga jual yang semakin tinggi dan geliat ekonomi yang sudah semakin membaik diharapkan akan meningkatkan volume penjualan BUMI ke depannya. Dan tentu saja bisa berujung dalam membaiknya bottom line BUMI secara keseluruhan.

Pasar ekspor BUMI saat ini porsinya sekitar 70% sampai 75% dari total penjualan mereka. Sementara porsi ekspor BUMI ke China sendiri berkisar antara 15% - 20% dari total produksi mereka. 

Apalagi tahun ini, China diperkirakan akan membeli batu bara Indonesia senilai US$ 1,47 miliar atau sekitar Rp 20,6 triliun yang semakin akan menjaga harga jual komoditas unggulan Indonesia ini. 

Hal tersebut berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) dengan China Coal Transportation and Distribution yang diteken November lalu.

Karakteristik pasar yang bersifat forward looking inilah yang menjadi sentimen positif untuk harga BUMI. Apalagi jika dibandingkan dengan harga saham emiten-emiten pertambangan lainnya seperti ADRO, INDY, PTBA, ITMG dan HRUM, kenaikan harga saham BUMI memang masih tertinggal.

Padahal, status BUMI sebagai emiten pertambangan batubara terbesar di Indonesia tidak bisa dilupakan begitu saja. Tahun ini, BUMI menargetkan total produksi sebanyak 90 juta ton batubara. Bandingkan dengan ADRO (52-54 juta ton) dan INDY (31,4 juta ton), target jumlah produksi BUMI akan terasa jumbo.

Baca Juga: Batu Bara Melejit, Saham Kontraktor Tambang (UNTR, DOID, PTRO) Makin Menarik?

Jadi, harus beli saham BUMI nih?

Terlepas dari kinerjanya, BUMI memiliki reputasi sebagai saham yang gampang bergejolak. Saham ini memiliki risiko tinggi yang mungkin tidak cocok untuk investor pemula.

Toh, saat ini kinerja BUMI belum terlihat membaik. Kenaikan harga acuan batubara masih berupa sentimen dan belum benar-benar tercermin dalam laporan keuangan BUMI, setidaknya hingga kuartal III tahun 2020.

Idealnya, dampak naiknya harga jual batubara baru bisa tercermin di laporan keuangan kuartal empat BUMI nantinya. Meskipun secara tahunan, BUMI diperkirakan masih mencetak rugi akibat kinerja 9M20 yang masih negatif.

Meskipun pada saat itu, harga saham BUMI bisa jadi sudah naik lebih tinggi dari level harganya saat ini.
 

Investasi