Berkah Kedatangan XL bagi LINK Net

Fauzan Ahmad

Dengan kinerja top line dan bottom line yang konsisten, dan terus tumbuh dari tahun ke tahun, PT Link Net Tbk. (LINK) adalah salah satu perusahaan operator telekomunikasi menjanjikan. Namun, entitas milik Grup Lippo yang bakal segera diakuisisi Grup Axiata lewat PT XL Axiata Tbk. (EXCL) ini bukannya tanpa masalah.

Meski konsisten mengalami peningkatan jumlah pelanggan layanan internet kabel maupun televisi berbayar sejak 2018, LINK mengalami stagnasi pada segmen broadband bisnis alias korporasi.

Per akhir Desember 2020, jumlah pelanggan korporasi LINK mentok pada angka 2.340 perusahaan, susut 5,68 persen secara year on year (yoy). Padahal, di saat yang sama, segmen-segmen lain LINK masih tumbuh yoy pada rentang 25-26 persen.

Perusahaan sebenarnya tidak memiliki kekurangan berarti. Manajemen, misalnya, pernah mengklaim bahwa sejak pandemi pelanggan korporasi mereka di sektor kesehatan meningkat. Sebagian dari pelanggan bahkan mengajukan layanan upgrade kapasitas hingga 40 persen. Ini terjadi lantaran sebagian dari klien korporasi Link Net merupakan perusahaan konsultasi kesehatan daring alias telemedicine.

“Secara signifikan terdapat permintaan penambahan kapasitas, upgrade, dengan rata-rata kenaikan layanan 40 persen,” kata Direktur Penjualan Bisnis LINK Agung Satya Wiguna dalam Investor Daily Summit, 15 Juli 2021 lalu. 

Sayang seribu sayang, kenaikan itu tak diikuti peningkatan jumlah pelanggan korporasi secara umum. Sebab, di saat bersamaan pandemi juga membuat berbagai perusahaan mengurangi aktivitas, bahkan gulung tikar. Banyaknya bisnis yang gulung tikar pada akhirnya juga tekanan akibat kaburnya pelanggan lebih besar.

Data Bank Dunia tahun lalu, yang kemudian divalidasi oleh Menteri Bappenas Suharso Monoarfa menyebut bahwa 60 persen bisnis secara global termasuk di Indonesia gulung tikar akibat pandemi.  

Namun, patut digarisbawahi pula bahwa faktor lesunya dunia usaha bukan satu-satunya pendorong stagnasi pelanggan korporasi LINK. Aspek lain yang sukar diabaikan adalah masih belum meratanya jangkauan layanan perseroan.

Mengacu laporan keuangan tahunan, selain kawasan Jakarta dan sekitarnya, LINK sebenarnya sudah bisa diakses di Bandung dan sekitarnya,  Surabaya dan sekitarnya, Yogyakarta-Solo, hingga Batam dan Medan.

Namun, cakupan perusahaan di titik-titik tersebut belum merata. Jaringan kabel LINK masih terpusat di kawasan Jabodetabek. Padahal, potensi segmen korporasi di luar area vital tersebut juga tidak kalah menjanjikan.

Sebagai informasi, hingga akhir kuartal 1/2021, jaringan kabel yang dimiliki LINK memang telah mampu menjangkau 2,7 juta rumah di Indonesia dengan 859.000 di antaranya sudah berstatus pengguna layanan. Jumlah jangkauan bahkan ditarget naik lagi menjadi 3,2 juta rumah hingga akhir tahun nanti. 

Namun, jumlah tersebut masih kalah jauh dari cakupan layanan Indihome milik Telkom yang konon telah mampu mencakup 11 juta rumah. Secara rasio cakupan dan jumlah pelanggan, Telkom lewat Indihome yang memiliki pelanggan 8 juta lebih juga jauh di atas Link Net.

Ketika sudah berbicara soal akselerasi segmen bisnis inilah, kehadiran Grup Axiata sebagai pengendali baru berpotensi punya pengaruh besar.

Dalam hal layanan internet kabel, XL memang belum kenyang pengalaman. Per Januari lalu saja, cakupan kabel XL Home baru menembus 540 ribu rumah dengan total jumlah pelanggan di bawah 100 ribu rumah. 

Namun, rekam jejak mereka mengembangkan bisnis internet seluler bisa menjadi bekal berharga untuk mengangkat posisi tawar Link Net. Terbukti, angka jangkauan 540 ribu rumah yang dibukukan XL Home tersebut telah meningkat 100 persen bila dibandingkan jangkauan 2019 yang baru mentok di kisaran 270 ribu rumah.

Penetrasi XL Home, untuk ukuran layanan broadband berusia muda, juga relatif menjanjikan dengan pelanggan mencapai 90.000 pengguna per akhir tahun lalu, dua kali lipat dibanding rapor 2019. 

"Sejak diluncurkan pada Desember 2018, XL Home telah mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Di masa pandemi pertumbuhan pelanggan XL Home meningkat pesat hingga 2x lipat dari tahun 2019 dan saat ini mencapai lebih dari 90 ribu pelanggan," tutur Group Head Corporate Communication EXCL Tri Wahyuningsih seperti dilansir Kontan

Adanya bantuan strategi sinergis dengan EXCL, lebih lanjut, juga potensial mengikis pangsa pasar kompetitor seperti Indihome. Sebab dengan sinergi yang baik, EXCL dan LINK bisa mengisi semua ceruk pasar.

EXCL dengan XL Homenya sejauh ini menyasar kalangan menengah ke bawah dengan iming-iming kecepatan akses 100Mbps. Sedangkan Linknet relatif dikenal karena produk premium berkecepatan 1Gbps. Kolaborasi bisnis antara keduanya bisa menjadi lawan mematikan untuk kompetitor yang masih mengejar angka penetrasi.

Hal tersebut turut diakui Fitch Ratings, yang juga beranggapan bahwa kombinasi XL dan Link Net akan membuat perebutan tahta internet kabel di Indonesia semakin seru.

 

Persaingan yang kian kompetitif itulah yang kemudian membuat prospek Link menyalip layanan kabel kompetitor terbuka lebar. Apalagi bila melihat tingkat penetrasi internet kabel yang masih tergolong rendah.

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet pada tahun lalu memang menyebut bahwa pengguna internet di Indonesia telah menyentuh 196,7 juta. Namun, dari jumlah tersebut, sebanyak 90 persen lebih cenderung lebih mengandalkan internet seluler. 

Dengan pandemi masih berjalan dan budaya bekerja dari rumah kian menjamur, APJII menilai prospek semakin banyak pemakai internet beralih ke layanan kabel terbuka lebar.

Dan, kecenderungan tersebut benar terjadi, patut dinanti seberapa siap kolaborasi Link Net dan EXCL menangkap kebutuhan calon-calon pelanggannya

Bisnis