3 Tahun Naik 200%, Saham Ini Masih Layak Koleksi?

[Waktu baca: 5 menit]

Saham seringkali disebut sebagai instrumen investasi jangka panjang. Benarkah demikian? 

Sebenarnya, tidak semua harga saham meningkat dalam jangka panjang. Saham BIPI, misalnya. Di tahun 2010, harganya Rp200-an. 10 tahun kemudian, harganya terpaku di Rp50.

Tentu saja, tidak semua saham seperti itu. Ada saham yang harganya meningkat dalam jangka 3-5 tahun.  Salah satunya adalah saham PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. dengan kode DNET. Dalam jangka 3-5 tahun, harga saham DNET telah meningkat lebih dari 200%.

Sekitar 5 tahun lalu, saham DNET berada di level Rp900an. Setelah itu, saham DNET terus menanjak dalam jangka panjang hingga kini bertengger di level Rp3.000an.

Sumber: RTI, diakses pukul 1.30 pada Selasa, 28 April 2020

Profil DNET

Sejumlah brand yang cukup dikenal di masyarakat sebenarnya dimiliki sebagian sahamnya oleh Indoritel. Sebut saja restoran Kentucky Fried Chicken, toko swalayan Indomaret dan roti Sari Roti.

Di Indonesia, bisnis KFC dikelola oleh PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST). Perusahaan itu sebagian sahamnya dengan porsi 35% dimiliki oleh Indoritel. Fast Food Indonesia dikategorikan sebagai entitas asosiasi dalam laporan keuangan Indoritel. 

Begitupula dengan PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (ROTI) yang memproduksi Sari Roti serta PT Indomarco Prismatama yang mengelola toko swalayan Indomaret. Sebagian saham Nippon Indosari dan Indomarco dimiliki oleh Indoritel.

Selain itu, bisnis inti Indoritel lainnya adalah fiber optik dengan merk FiberStar yang dijalankan melalui anak usahanya, PT Mega Akses Persada. Keempat bisnis tersebut yang berkontribusi besar terhadap pendapatan Indoritel.

Kinerja

Pertumbuhan kinerja keuangan Indoritel cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, perusahaan mengantongi pendapatan sebesar
Rp129,79 miliar meningkat sebesar 130,25% dibandingkan dengan Rp56,37 miliar pada 2017.

Di samping itu, perusahaan juga mengantongi pendapatan dari bagian laba dari entitas asosiasi sebesar Rp423,24 miliar pada 2018 atau meningkat 57,4% dibandingkan dengan Rp268,9 miliar pada 2017. Bagian laba dari entitas asosiasi itu lebih besar daripada pendapatan perusahaan.

Bagian laba dari entitas asosiasi itu meningkat sejalan dengan peningkatan laba bersih yang diperoleh Indomaret sebesar 81%, Fast Food Indonesia 28% dan Nippon Indosari sebesar 3%. 

Dalam hal laba bersih, setelah sempat turun di 2017, Indoritel kembali membukukan pertumbuhan laba bersih pada 2018. 

Kinerja Indoritel 2016-2018

Sumber: Laporan Tahunan 2018

Tantangan 2020

Sama seperti banyak perusahaan lain di dunia ini, Indoritel menghadapi tantangan berupa penyebaran wabah corona yang memukul perekonomian. Situasi itu mempengaruhi permintaan terhadap barang dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan.

Tingkat konsumsi rumah tangga Indonesia berpengaruh terhadap kinerja perusahaan-perusahaan seperti Indoritel ini yang memang memfokuskan diri berinvestasi pada sektor kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Pada 2020, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 3,2% atau turun dibandingkan dengan pertumbuhan 5% pada 2019. Penurunan itu sejalan dengan proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat pandemi covid-19.

Kendati demikian, kinerja salah satu entitas asosiasi Indoritel yaitu Indomaret kemungkinan mengalami peningkatan di bulan Maret dan April 2020 seiring kebijakan pembatasan sosial dari pemerintah.

Dalam sebuah wawancara dengan CNCB Indonesia, manajemen Indoritel mengakui adanya peningkatan penjualan sebesar 7%-10% pada Maret di kawasan Jabodetabek setelah pemerintah menyerukan bekerja dari rumah (working from home).

Tentu saja, dampak dari situasi ini akan terlihat lebih jelas bagi publik dalam laporan keuangan Indoritel yang akan dirilis beberapa bulan lagi. Apakah harga saham DNET akan terus menanjak di masa depan seiring perkembangan kinerja keuangan perusahaan? Kita tunggu saja.

 

 

Penasaran bagaimana cara mengelola keuangan berbasis Syariah? Apa saja yang diperbolehkan dan tidak? Yuk, join di webinar Shariah Savvy untuk lebih paham tentang mengelola keuangan berbasis Syariah.

Related Posts

PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)

Comments (1)

  1. Taufiq Sunar

    Ajaib juga ini saham bisa naik terus dengan PER lebih dari 100 kali dan PBV lebih dari 5 kali.

Leave a Comment

You need to sign in before leave a comment. Fields marked with an * are required.

Sign in

Subscribe To Big Alpha

Subscribe now and get exclusive news, advisory and more.