Investasi

Ingin Diversifikasi? Ini 3 Alasan Investasi Obligasi

"Jangan menaruh telur di satu keranjang" adalah salah satu prinsip investasi yang dikenal secara umum, tidak hanya di Barat tapi juga di Indonesia. Prinsip itu memiliki makna penting terkait diversifikasi investasi.

Telur dianggap merepresentasikan dana investor, sedangkan keranjang diartikan sebagai instrumen investasi. Investor dianjurkan tidak menaruh semua telur hanya di satu keranjang. Kenapa? Kalau satu keranjang jatuh, semua telur akan pecah.

Oleh karena itu, investor perlu membagi beberapa telur ke beberapa keranjang. Tujuannya adalah mengelola risiko. Apabila satu keranjang jatuh dan telur di dalamnya pecah, investor masih memiliki keranjang-keranjang lain yang telur di dalamnya tidak pecah.

Obligasi

Salah satu instrumen investasi yang dapat dipertimbangkan sebagai pilihan diversifikasi investasi adalah obligasi. Obligasi adalah instrumen investasi yang tampaknya belum sepopuler  emas, tanah, properti, saham dan sebagainya di mata investor ritel.

Ketidakpopuleran obligasi disebabkan sejumlah hal. Salah satunya adalah obligasi selama ini lebih banyak ditransaksikan dengan modal yang besar (ratusan juta hingga miliaran Rupiah).

Obligasi digunakan oleh organisasi besar seperti korporasi atau pemerintah pusat untuk menggalang dana dari investor untuk mendanai berbagai proyek.  Kendati demikian, pemerintah juga merancang obligasi khusus yang diperuntukkan bagi investor ritel.

Pada saat ini, modal minimal untuk berinvestasi di obligasi yang diterbitkan secara khusus oleh pemerintah untuk ritel senilai Rp1 juta (dan kelipatannya) serta maksimal Rp3 miliar. 

Di samping itu, produk obligasi masih terbatas. Obligasi yang relatif terjangkau bagi investor ritel diterbitkan secara berkala dalam beberapa bulan sekali, tidak seperti saham yang bisa dibeli di setiap hari kerja.

Ketika diterbitkan, penawaran obligasi juga berlangsung hanya beberapa pekan. Kondisi ini tidak lain karena obligasi memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan instrumen lain dimana obligasi merupakan surat pengakuan utang.

Alasan Investasi Obligasi

Pada umumnya, ada tiga alasan kenapa investor berinvestasi di obligasi. Alasan ini dapat dijadikan pertimbangan bagi masyarakat yang mempertimbangkan untuk berinvestasi di obligasi. Alasan itu antara lain:

1. Keuntungan Obligasi Dapat Diprediksi

Pada dasarnya, keuntungan dari berinvestasi di obligasi dapat diprediksi jumlahnya berdasarkan kupon (bunga). Setiap obligasi yang diterbitkan memiliki kupon yang harus dibayarkan oleh penerbit kepada investornya secara berkala (sebulan sekali atau setiap 6 bulan sekali).

Kupon itu ada yang dibayar secara bulanan (seperti SBN ritel) dan ada pula yang dibayar setiap 6 bulan (seperti Obligasi Negara seri FR atau INDON). Keuntungan itu biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan bunga deposito.

Predictable income itu berbeda dibandingkan dengan instrumen investasi lain seperti saham. Hasil investasi dari investasi saham tidak selalu dapat diprediksi secara pasti.

2. Modal Investasi Pasti Kembali

Apabila investor memegang obligasi hingga jatuh tempo, investor akan mendapatkan kembali modalnya yang biasa disebut sebagai nilai nominal. Jatuh tempo obligasi bervariasi, mulai dari tahunan (SBN ritel) hingga belasan atau puluhan tahun (Obligasi Negara seperti FR atau INDON).

Karena karakteristiknya ini, obligasi dianggap sebagai instrumen yang dapat menjaga keutuhan modal. Namun, modal itu bukan tidak mungkin dapat berkurang apabila investor menjual obligasi di pasar sekunder sebelum jatuh tempo.

Apabila obligasi dijual di harga yang lebih rendah daripada harga belinya, investor dapat mengalami kerugian atau yang biasa disebut sebagai capital loss. Selain itu, obligasi memiliki risiko bernama default risk dimana penerbit obligasi mengalami gagal bayar atas modal dan kupon obligasi.

3. Obligasi Sebagai Penyeimbang

Di tengah volatilitas pasar saham, investasi di obligasi dapat menjadi penyeimbang. Dengan keuntungan yang pasti dan jangka waktu yang diketahui, investasi di obligasi dapat menjadi opsi diversifikasi portofolio.

Pada umumnya, kupon yang ditetapkan oleh penerbit obligasi tidak terpengaruh oleh  kondisi eksternal. Kupon yang ditawarkan oleh obligasi dengan bunga tetap (fixed rate bonds) juga tidak terpengaruh oleh perubahan suku bunga.

Namun, perubahan suku bunga dapat berpengaruh terhadap harga obligasi. Suku bunga dan harga obligasi memiliki korelasi terbalik. Ketika suku bunga naik, harga obligasi turun. Begitupula sebaliknya.

 

 


 

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login