Personal Finance

3 Opsi Investasi Siapkan Dana Umrah Saat Pandemi

[Waktu baca: 5 menit]

Kementerian Agama menetapkan besaran biaya umrah pada masa pandemi corona sebesar Rp26 juta.

Besaran biaya itu menjadi panduan bagi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang menyediakan layanan perjalanan umrah bagi jemaah asal Indonesia.  Penetapkan besaran biaya itu dilakukan oleh Kementerian Agama dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 777 Tahun 2020 tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Umrah Referensi Masa Pandemi Covid-19.

Biaya itu terdiri dari biaya pelayanan jemaah umrah di Indonesia, dalam perjalanan maupun saat di Arab Saudi. Biaya itu termasuk biaya penerbangan dari Indonesia ke Arab Saudi dan sebaliknya. Tertarik?

Bagi yang belum memiliki dana untuk umrah tersebut bisa mengumpulkannya dari sekarang dengan target waktu tertentu, misalnya, 1 atau 2 tahun mendatang. Mengumpulkan dana tersebut tidak hanya dapat dilakukan dengan cara menabung di tabungan bank, tapi juga di instrumen investasi lain.

Metode investasi itu dapat dilakukan dengan cara investasi sekaligus (lump sump) atau investasi berkala (Rupiah cost averaging/RCA). Investasi lump sump berarti seseorang langsung menginvestasikan sekian jumlah uang untuk mendapatkan hasil tertentu. Sementara itu, investasi RCA berarti seseorang mencicil dana investasi secara berkala dalam kurun waktu tertentu, misalnya setiap bulan.

Berikut ini sejumlah pilihan instrumen investasi untuk mengumpulkan dana umrah tersebut:

1. Deposito

Selain tabungan, bank menawarkan produk simpanan berjangka berupa deposito. Deposito menawarkan bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan tabungan biasa. Bunga dari bank besar (bank buku IV) menawarkan bunga sekitar 3,25%-3,5% di era suku bunga rendah pada akhir 2020 dan awal 2021 ini.

Bank yang lebih kecil (buku III, buku II atau buku I) biasanya menawarkan bunga lebih tinggi daripada buku IV, misalnya 3,75%-4%, pada akhir 2020 dan awal 2021, tentu dengan risiko yang menyertainya. Besaran persentase ini dapat dipertimbangkan untuk menghitung berapa dana yang perlu diinvestasikan untuk mendapatkan imbal hasil investasi tertentu.

Di sejumlah bank, investasi deposito kini dapat dilakukan dengan nominal Rp1 juta. Artinya, investasi di deposito dapat dilakukan dengan metode RCA alias mencicil setiap bulan atau dengan metode lump sump (sekaligus). Baca artikel ini: Masih Diminati, Ini 10 Fakta Deposito untuk memahami deposito lebih lanjut.

2. Reksa Dana

Cari instrumen investasi dengan potensi keuntungan yang lebih tinggi daripada deposito? Reksa dana adalah salah satu pilihannya. Reksa dana adalah instrumen investasi yang kian populer belakangan ini yang ditandai dengan peningkatan jumlah Nilai Aktiva Bersih (NAB) dari tahun ke tahun.

Pada saat ini, ada empat jenis reksa dana yang umumnya dipasarkan oleh manajer investasi (perusahaan manajemen aset) yaitu reksa dana campuran, reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang.

Dari berbagai jenis itu, reksa dana yang paling rendah risikonya adalah reksa dana pasar uang. Reksa dana jenis ini dapat dipilih untuk menghasilkan imbal hasil investasi yang lebih tinggi daripada deposito.

Sebelum membeli, calon investor bisa memperhatikan laporan bulanan (fund fact sheet) untuk mengetahui data historis kinerja (apakah lebih unggul dari deposito atau tidak) beserta alokasi investasi reksa dana tersebut.

Pada saat ini, reksa dana kian mudah dibeli melalui berbagai aplikasi di smartphone. Proses pembelian tersebut, mulai dari pendaftaran hingga transaksi dapat dilakukan secara online. Investasi reksa dana dapat dilakukan dengan metode lump sum atau RCA. Klik link berwarna biru ini untuk mempelajari lebih jauh mengenai reksa dana.

3. SBN Ritel

Surat Berharga Negara (SBN) Ritel juga dapat dipertimbangkan untuk mengumpulkan dana umrah. Hasil investasi SBN ritel biasanya lebih tinggi daripada deposito bank BUMN. 

Kendati demikian, investor perlu mempertimbangkan mengenai jangka waktu investasi SBN ritel. Seperti diketahui, sejumlah jenis SBN ritel seperti Savings Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Tabungan (ST) tidak dapat dicairkan sewaktu-waktu, kecuali pencairan sebagian pokok investasi dengan fasilitas early redemption.

Jangka waktu investasi SBR dan ST biasanya selama 2 tahun, sedangkan jangka waktu SBN ritel lainnya seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) dan Sukuk Ritel (SR) selama 3 tahun. Namun, ORI dan SR dapat dijual di pasar sekunder sebelum jatuh tempo dengan risiko pasar (capital loss).

Tidak seperti reksa dana, investasi SBN ritel hanya dapat dilakukan dengan metode lump sum. Dengan demikian, dana umrah yang diperoleh dari investasi SBN berasal dari pokok investasi ditambah imbal hasilnya. 

Pada 2021, ada enam seri SBN ritel yang akan ditawarkan oleh pemerintah kepada masyarakat. Baca artikel ini untuk mendapatkan pencerahan lebih lanjut.

Present Value

Pertanyaan yang sering muncul, berapa uang yang perlu diinvestasikan untuk mengumpulkan dana Rp26 juta? Kita bisa menghitungnya secara sederhana menggunakan konsep present value yang tersedia di program Excel. Excel menyediakan perhitungan present value sebagai salah satu formula finansial. 

Sebagai contoh, kita hendak berinvestasi dengan cara lump sum selama 2 tahun dengan perkiraan imbal hasil investasi bersih (setelah dikurangi pajak, biaya dan sebagainya) sebesar 5%.

Dari kalkulasi present value, uang yang perlu diinvestasikan sekitar Rp23.582.766 untuk mendapatkan imbal hasil sekitar Rp2.417.234. Dari uang pokok ditambah imbal hasil itu maka diperoleh dana Rp26 juta.

Tentu saja, nilai uang yang diinvestasikan perlu disesuaikan dengan ketentuan kelipatan modal investasi di setiap instrumen. Selamat berinvestasi untuk beribadah.


 

Related articles

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login