Yield Obligasi Tinggi, Saatnya Beli Reksa Dana Pendapatan Tetap?

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 3 menit]

Yield atau imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) Indonesia kian tinggi pada saat ini. Menurut data worldgovernmentbonds.com, yield obligasi bertenor 10 tahun sebesar 6,876% per 22 Maret 2021. Dibandingkan dengan yield pada akhir Desember 2020 sebesar 5,984%, yield SUN 10 tahun itu telah naik 0,892% pada saat ini.

Yield SUN Tenor 10 Tahun (Year to Date)

Sumber: worldgovernmentbonds.com

Mengapa yield itu naik?

Salah satu penyebabnya adalah peningkatan yield US Treasury atau obligasi yang diterbitkan Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjadi 1,75% pada 22 Maret 2021 dari 0,91% pada akhir Desember 2020. Peningkatan itu terjadi karena antisipasi pelaku pasar terhadap perkiraan peningkatan inflasi di Amerika Serikat.

Seperti diketahui, inflasi menjadi salah satu indikator yang mendorong peningkatan yield. Seiring peningkatan inflasi, investor berekspektasi terhadap yield yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas peningkatan harga-harga barang dan jasa di pasar.

Selain inflasi, stimulus yang digelontorkan oleh Pemerintah AS senilai US$1,9 miliar dan peningkatan harga minyak juga diperkirakan berdampak terhadap peningkatan yield tersebut. 

Peningkatan yield US Treasury itu membuat aset yang kerap dikategorikan sebagai "safe haven" itu menjadi lebih menarik sehingga dana investor keluar (outflow) dari pasar obligasi Indonesia ke pasar obligasi AS. 

Peningkatan yield obligasi AS itu turut mendorong peningkatan yield obligasi Indonesia. Peningkatan yield tersebut akan diikuti dengan penurunan harga obligasi seiring pergerakan arah yang berlawanan dari yield dan obligasi.

Penurunan harga obligasi tersebut turut mempengaruhi keuntungan dari reksa dana pendapatan tetap yang menjadikan obligasi sebagai salah satu aset yang dikelola. 

Seperti dikutip dari harian Bisnis Indonesia pada Senin, 22 Maret 2021, menurut data Infovesta Utama, kinerja indeks reksa dana pendapatan tetap turun 1,92% secara year to date. Kondisi ini kontras dengan indeks reksa dana pendapatan tetap yang melesat 8,99%. 

Penurunan return reksa dana pendapatan tetap yang dipicu penurunan harga obligasi ini dapat dimanfaatkan bagi investor yang berminat untuk masuk ke reksa dana jenis ini. 

Kendati demikian, perkembangan mengenai yield US Treasury di AS yang dipengaruhi oleh data-data ekonomi makro di AS perlu terus dipantau. Bukan tidak mungkin yield US Treasury dapat kembali naik seiring perbaikan ekonomi AS.

Investasi