Harga Emas Meroket, Sekarang Saat Tepat Untuk Beli?

Date:

Harga emas kini sedang berada di posisi tertingginya dalam kurun waktu enam bulan terakhir.

Per Senin, 6 Januari 2020, harga emas Antam telah mencapai angka Rp783.000 per gramnya. Harga jual ini bahkan telah melesat sebesar 2.75% hanya dalam kurun waktu 6 hari! 

Pertanyaannya, apakah sekarang adalah saat yang tepat untuk membeli emas?

Penggerak Harga Emas

Kita perlu memahami dulu apa saja faktor yang menyebabkan harga emas dapat naik atau turun. Berikut ini sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap pergerakan harga emas.

Supply & Demand

Terlepas dari berbagai faktor eksternal, keseimbangan antara persediaan dan permintaan merupakan hal paling mendasar dalam menentukan harga jual emas.

Sama halnya dengan barang dan jasa pada umumnya, harga jual emas sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara persediaan dan permintaan emas secara global. 

Sederhananya, harga emas akan relatif meningkat ketika persediaan yang ada tidak mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan yang ada. Begitu pula sebaliknya, harga emas akan turun ketika peningkatan penawaran lebih tinggi dari pertumbuhan permintaan.

Potensi Perlambatan Ekonomi

Perlu dipahami, penguatan harga emas merupakan salah satu indikator yang menunjukkan adanya perlambatan ekonomi di masa mendatang.

Layaknya konsep risk & return (risiko dan tingkat keuntungan), potensi imbal hasil yang tinggi tentunya akan diikuti oleh tingkat risiko yang tinggi pula. Instrumen yang memiliki tingkat risiko tinggi hanya akan dibeli oleh pasar ketika pasar masih punya optimisme terhadap proyeksi kinerja ekonomi, sehingga pasar lebih berperan secara ofensif. 

Namun, ketika pasar bersikap pesimistis, maka kecenderungan pasar untuk mengambil risiko akan berkurang. Pasar cenderung bersikap defensif ketika dihadapkan pada potensi perlambatan ekonomi. Dengan demikian, investor lebih banyak berfokus pada pilihan-pilihan investasi berisiko rendah seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Logam Emas.

Oleh sebab itu, kenaikan harga emas secara signifikan dalam jangka pendek tidak bisa selamanya dianggap sebagai hal positif, Bisa saja ini disebabkan oleh ”ketakutan” pasar dalam menghadapi ketidakpastian.

Mengapa Harga Emas Melonjak Tajam?

Kenaikan harga emas di awal tahun 2020 ini menyusul semakin tingginya tensi konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Konflik antara kedua negara semakin panas setelah serangan udara militer AS yang menembak mati pimpinan satuan pasukan khusus Iran, Qassem Soleimani pada Jumat, 3 Januari 2020.

Pentagon, markas Departemen Pertahanan AS, mengumumkan secara resmi bahwa serangan ini merupakan permintaan langsung Presiden AS Donald Trump.

Tensi kedua negara kian meninggi setelah Iran memutuskan untuk mengundurkan diri dari perjanjian pembatasan penggunaan uranium sebagai bahan dasar nuklir. Hal ini direspons oleh Presiden Trump dengan mengancam akan menyerang sebanyak 52 wilayah Iran sebagai balasannya.

Ketegangan antara kedua negara ini membuat banyak pihak memprediksi konflik yang berkepanjangan tersebut dapat memicu terjadinya perselisihan yang melibatkan kekuatan militer sehingga berdampak pada perlambatan dan kemunduran ekonomi di berbagai negara.

Potensi terjadinya perang antara Amerika Serikat dengan Iran direspons oleh pasar dengan lebih banyak menempatkan modalnya di instrumen yang minim risiko yang menyebabkan kenaikan harga emas yang cukup signifikan.

Dapat dikatakan, emas adalah pelindung nilai di kala kondisi sulit.

Kapan Harus Beli Emas?

Perlu diingat, buang jauh-jauh pemahaman konvensional yang mengatakan bahwa “harga emas pasti naik terus!”, karena kembali lagi, harga emas dipengaruhi oleh persediaan dan permintaan. 

Meskipun harga emas relatif lebih stabil dibandingkan dengan instrumen lainnya, tapi tidak menutup kemungkinan harga emas akan turun.

Kenaikan dan penurunan harga emas akan terus terjadi setiap waktu sebagai respons dari kondisi pasar yang terus berubah setiap harinya. 

Ditambah lagi, emas tetaplah sebuah komoditas. Komoditas tentu berbeda dengan aset keuangan seperti saham. Komoditas hanyalah benda fisik yang dapat diperjualbelikan dengan mudah di pasar.

Berbeda dengan komoditas, aset keuangan memiliki kinerja yang menjadi dasar penentuan harga. Saham, misalnya, yang merepresentasikan perusahaan. Perusahaan memiliki pendapatan setiap tahun yang dihasilkan dari kegiatan operasional. Sebaliknya, emas tidak punya kinerja operasional seperti itu.

Pada umumnya, perubahan nominal harga emas hanya mengikuti tingkat inflasi dan nilai tukar secara jangka pendek, namun nilai riil dari emas relatif tidak berubah.

Dengan demikian, saat yang paling tepat untuk membeli emas adalah ketika harganya sedang turun.

Hindari Kepanikan, Pahami Yang Kamu Beli

Dalam berinvestasi, investor seringkali mengambil keputusan terburu-buru yang didasari oleh kepanikan.

Bahkan, tidak sedikit dari kita yang menganggap dirinya sebagai investor namun sikapnya menunjukkan bahwa dia hanya seorang spekulator yang mudah diombang-ambingkan oleh pasar.

Sebelum memutuskan untuk membeli emas, bertanyalah dulu kepada diri sendiri; apakah kenaikan harga emas disebabkan oleh peningkatan nilai riil? Ataukah hanya sekadar kepanikan pasar jangka pendek?

Untuk menutup tulisan ini, kami mengutip kata-kata investor legendaris asal Inggris, Benjamin Graham, yang menyatakan bahwa the individual investor should act consistently as an investor and not as a speculator.

Tags: