Yang Harus Diwaspadai Soal Mobil Listrik di Indonesia

Emha Asror

Gembar-gembor pemerintah soal kendaraan listrik, entah itu berupa mobil maupun sepeda motor, sedianya sudah dimulai sejak 2018 lalu. 

Ketika itu, di 4 April 2018 itu Presiden Joko Widodo resmi meluncurkan “Making Indonesia 4.0”—sebuah peta jalan dalam menerapkan revolusi industri jilid 4. Dalam roadmap itu dicantumkan, pengembangan industri manufaktur kendaraan listrik (electric vehicle/EV) domestik merupakan prioritas utama pemerintah.

Saking seriusnya ingin menggarap EV, di Jakarta Convention Center (JCC) pada momen acara peluncuran tiga tahun lalu itu, dengan tegas Jokowi pun menuturkan: “Saya harap kementerian lembaga lain, pemerintah daerah, dan pelaku usaha mendukung penuh program ini sesuai tugas masing-masing demi kemajuan bangsa yang dicintai.”

Tak main-main, industri baterai ion litium segera dibangun besar-besaran. Baru-baru ini, misalnya, melalui holding company PT Industri Baterai Indonesia (IBI), pemerintah bersama LG Chem dan Contemporary Amperex Technology (CATL) sepakat berkolaborasi mendirikan pabrik penggerak utama EV itu dengan total nilai investasi mencapai USD 9,8 miliar atau sekitar Rp 142 triliun.

Tahu bahwa cadangan bijih nikel nasional lebih kurang sampai 4,4 miliar ton, pemerintah mengungkapkan faktor ini memungkinkan Indonesia dapat menjadi pengendali manufaktur EV di ASEAN, juga bisa menguasai 20 persen pasarnya di 2025 kelak. 

Berduyun-duyun kalangan aktivis lingkungan dan publik tak segan mendukung dengan terbuka rencana pemerintah ini, mengingat kendaraan berbahan bakar fosil menjadi penyebab terbesar polusi udara di Tanah Air. 

Jokowi pun membenarkan bila pembuatan agenda ini memang guna mewujudkan energi dan kualitas udara bersih. “Serta membuktikan komitmen pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca,” sambung Jokowi di depan awak media beberapa tahun lalu. 

Agar semua berjalan sesuai rencana dan berlangsung dengan baik, dua tahun silam agenda akbar itu kemudian Jokowi tuangkan dalam Perpres No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.

Tak ada yang membantah bahwa benar keberadaan EV mampu membentuk lingkungan yang ramah, sebab sanggup meredam konsumsi BBM hingga 9,44 juta kilo liter per tahun bahkan. Kehadiran EV di Indonesia kabarnya mampu pula menyusutkan CO2 sebanyak 11,1 juta ton saban tahunnya, di samping menghemat devisa sampai USD 1,8 miliar berhubung penggunaan BBM yang berkurang.

Apabila demikian halnya, apa sebetulnya yang harus diwaspadai soal akan datangnya kendaraan listrik di Indonesia?

Awal tahun ini sebuah artikel di American Spectator—majalah asal Amerika, “The Future of Electric Vehicles Is Highly Flammable” oleh Eric Peters mencantumkan, kemungkinan baterai mobil listrik bertegangan sangat tinggi, biasanya 400 volt dan 800 volt, rawan memicu kebakaran. 

Kesalnya, tak berhenti sampai di situ. Pengisian baterai yang terlalu cepat, yang lazim berlaku di setiap EV, berpotensi menimbulkan thermal runaway alias pelepasan termal—gas beracun yang melekat pada baterai ion litium—yang bersifat mudah terbakar dan merambat. 

Perlu dicatat, kendati pemadaman sudah menggunakan gas dan air dalam volume yang tak sedikit, kebakaran yang dipicu thermal runaway sangat sulit diatasi. Tersebab, rak penyimpanan energi baterai ion litium sengaja disusun begitu rapat dan sangat berdekatan dengan bahan kontruksi lain, sehingga ketika api menyala jadi susah dikendalikan. 

Peristiwa itu pernah diderita mobil listrik pabrikan milik Elon Musk. Sekitar pukul 11.30 siang, di Kota Houston pada 17 April 2021 kemarin itu, Tesla Model S lompat melewati pembatas jalan. Produk keluaran 2019 itu menyeruduk sebuah pohon kemudian. Koran setempat melaporkan, tak seorang pun di kursi kemudi ditemukan. Tapi dua orang tewas di dalam, dua-duanya di kursi belakang. Mereka menggunakan autopilot self-driving.

Diketahui belakangan, mereka berdua bukan tewas karena benturan. Tetapi, di dalam mobil listrik yang terbakar itu, mereka ikut terpanggang. Kabar yang beredar, sewaktu ada seorang wartawan yang tiba pertama kali di tempat kejadian, ia sudah berusaha keras memadamkan api. Namun, si jago merah tak juga redup, bahkan meski telah disiram 30.000 galon air.

“Struktur baterai di Tesla terdiri dari sel-sel besar,” ungkap K.M. Abraham, seorang profesor riset yang baru saja pensiun di Center for Renewable Energy di Northeastern University, mengomentari peristiwa itu. Fakta lain, lima tahun lalu Samsung harus menarik sekitar satu juta ponsel Galaxy Note 7 barunya karena baterai ion litium yang dipakai mudah terlalu panas dan terbakar.

Dari serangkain bukti itu, betul barangkali tak semua EV akan mengalami hal serupa. Toh, setiap mobil listrik yang akan dijual, produsen harus mematuhi peraturan tertentu dan wajib memastikan bahwa kendaraan mereka cukup aman untuk pengemudi, di satu sisi. 

Pada lain sisi, pembeli didesak memiliki pengetahuan terlebih dahulu sebelum membeli. Tapi sayangnya, dan perlu diingat lagi, konsumen di negeri ini tak cukup punya keinginan sekedar sedikit saja mencari tahu barang-barang yang akan mereka beli, begitu juga untuk produk-produk otomotif. Ini bisa dibuktikan, sebagaimana laporan OECD di 2019 lalu, dengan betapa rendahnya literasi kita yang menempati posisi 62 dari 70 negara, termasuk literasi otomotif.

Bisnis