Uji Taji Portofolio Syariah vs Konvensional

Berkah Rio

[Waktu baca: 9 menit]

Pasar saham kerap kali dianggap sebagai praktek yang haram dalam pandangan Islam, terutama karena aksi jual beli saham dengan keuntungan yang tidak pasti, secara sekilas tampak tidak ada bedanya dengan perjudian.

Namun, pada kenyataannya, prinsip dasar investasi di pasar saham bukanlah untuk bertaruh saham mana yang akan naik atau turun. Investasi saham adalah membeli suatu aset dengan harapan nilainya dapat meningkat di masa mendatang.

Keuntungan atau kerugian yang dihasilkan dari aktivitas investasi itu seharusnya merupakan hasil wajar atas mekanisme ekonomi yang normal. Ketika kinerja bisnis suatu perusahaan membaik, tentu layak jika sahamnya diapresiasi, sedangkan ketika kinerjanya buruk, tentu wajar juga sahamnya turun.

Memang benar, ada beberapa perusahaan yang menjalankan bisnisnya secara tidak sesuai dengan prinsip syariah. Bisnis bank, misalnya, tidak sejalan dengan sejumlah pandangan dalam Islam mengenai riba. 

Mayoritas korporasi memang menjalankan bisnisnya dengan mengandalkan pinjaman bank. Namun, hal itu tidak berarti semua perusahaan yang ada di pasar menjadi tidak halal sebagai tempat investasi. 

Untuk memudahkan investor, pasar modal sudah memberikan alternatif investasi berupa keranjang indeks yang berisi saham-saham halal untuk diinvestasikan. Saham-saham yang dipilih sudah memenuhi syarat-syarat prinsip syariat Islam.

Ada tiga indeks saham syariah di bursa saat ini, yakni Jakarta Islamic Index (JII), Indonesia Sharia Stock Index (ISSI), dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70). Lantas, bagaimana perbandingan kinerja indeks saham syariah ini dibandingkan konvensional selama periode pandemi?

Berikut ini perbandingan kinerja indeks saham syariah dengan beberapa indeks acuan utama konvensional di pasar modal sepanjang tahun ini (year to date/ ytd):

*Data per Selasa (15 Desember 2020)

Jika mengacu pada perbandingan indeks-indeks tersebut, terlihat bahwa baik indeks saham syariah maupun konvensional masih turun dibandingkan kondisi akhir tahun 2019 lalu. Artinya, kinerja saham konvensional maupun syariah relatif sejalan.

Hanya saja, secara umum kinerja indeks-indeks syariah masih lebih lemah dibandingkan dengan IHSG.

Konvensional Didukung Bank, Syariah Didukung Tambang

Kinerja indeks syariah yang tertekan dibandingkan IHSG cukup wajar terjadi, sebab indeks syariah tidak mengikutsertakan saham-saham perbankan, padahal saham-saham perbankan justru adalah saham-saham berkapitalisasi pasar terbesar di bursa saat ini.

Saham-saham perbankan pun sudah jauh lebih baik kinerjanya akhir-akhir ini, seiring tingginya ekspektasi pemulihan ekonomi tahun depan pascahadirnya vaksin di Indonesia. Saham bank terapresiasi lebih dulu, sebab pemulihan kinerja ekonomi akan dimulai dengan meningkatnya permintaan kredit di bank.

Namun, sebenarnya sebelum kinerja saham bank mulai membaik, kinerja indeks syariah justru lebih unggul, sebab didukung oleh saham-saham pertambangan yang kinerjanya paling unggul di pasar modal. Hanya saja, dari sisi kapitalisasi pasar, saham pertambangan masih kalah besar dibandingkan saham bank.

Peningkatan kinerja indeks sektor tambang terutama didorong oleh kinerja harga komoditas yang membaik.

Permintaan emas terdorong oleh peningkatan permintaan logam ini sebagai instrumen investasi safe haven selama pandemi. Selain itu, permintaan nikel terdongkrak oleh sentimen mobil listrik, sedangkan batu bara oleh kebutuhan energi selama musim dingin di belahan bumi utara.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sepanjang tahun berjalan kinerja indeks sektor pertambangan sudah mencatatkan kinerja positif, yakni tumbuh 19,89% ytd. Indeks sektor tambang menjadi satu-satunya indeks sektoral yang sudah berkinerja positif, sedangkan indeks sektoral lainnya masih minus.

Akan tetapi, menyusul indeks sektor tambang, di posisi kedua ada indeks sektor keuangan yang kinerjanya terus membaik. Kini, pertumbuhan indeks sektor keuangan tercatat hanya -0,24% ytd. Tidak lama lagi, kinerjanya bersiap untuk berbalik positif seiring tren kenaikan harga saham emiten-emiten bank yang sejauh ini terus berlanjut.

Berikut ini perbandingan lengkap kinerja indeks-indeks sektoral di BEI:

*Data per Selasa (15 Desember 2020)

Instrumen Investasi Syariah Tidak Saja di Saham

Meskipun di pasar saham kinerja instrumen syariah masih lebih lemah dibandingkan konvensional, tetapi pilihan investasi syariah tentu bukan saja di saham. Beberapa alternatif instrumen investasi syariah lainnya di pasar modal antara lain surat utang/sukuk dan pasar uang.

Selain itu, ada juga reksa dana syariah yang dikelola oleh manajer investasi yang secara khusus meracik aneka portofolio syariah sehingga bisa berkinerja optimal, bahkan mengungguli kinerja IHSG.

Menariknya, meskipun kinerja indeks saham syariah secara umum masih kalah dibandingkan kinerja pasar atau IHSG, tetapi pertumbuhan dana kelolaan reksa dana syariah justru bertumbuh sepanjang tahun ini.

Hal ini terlihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang perkembangan nilai aktiva bersih atau assets under management (AUM) reksa dana. 
OJK mencatat bahwa meskipun dari sisi total AUM reksa dana konvensional masih jauh lebih besar dibandingkan dengan reksa dana syariah, tetapi pertumbuhan reksa dana syariah jauh lebih unggul tahun ini.

Berikut ini data perbandingannya (dalam Rp triliun):

*Data per 27 November 2020
 
Dari data tersebut, terlihat bahwa AUM reksa dana syariah masih tumbuh hingga 33,13% ytd, sedangkan AUM reksa dana konvensional justru turun -0,84% ytd. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum permintaan atas instrumen investasi syariah masih cukup tinggi tahun ini.

Total AUM reksa dana syariah pun meningkat dari semula hanya 9,91% terhadap total AUM reksa dana, kini menjadi 12,87% per November 2020. Namun, masih akan sangat banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk terus meningkatkan portofolio aset reksa dana syariah.

Pilih Konvensional atau Syariah?

Pada dasarnya, jika mengacu pada kinerja indeks acuan masing-masing, terlihat bahwa baik instrumen konvensional maupun syariah memiliki kinerja yang tidak jauh berbeda dan cenderung bergerak beriringan.

Oleh karena itu, pilihan antara konvensional atau syariah tidak dapat menjamin mana yang lebih untung. Pilihan antara konvensional atau syariah lebih didasarkan atas preferensi keimanan Islam, sedangkan dari sisi tingkat keuntungan, relatif tidak banyak bedanya.

Pada masing-masing kelompok terdapat instrumen yang unggul dibandingkan yang lain. Namun, risiko yang sama besarnya tetap membayangi setiap instrumen, baik itu konvensional maupun syariah.


 

Investasi