Diakuisisi Gojek, Ini Prospek Bank Jago (ARTO)

Berkah Rio

[Waktu baca: 7 menit]

Gojek menyampaikan pengumuman mengejutkan pekan lalu, yakni akusisi atas 22% saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO).

Rumor tentang rencana Gojek masuk ke bisnis bank melalui akuisisi sudah lama beredar, sedangkan Bank Jago, semula bernama PT Bank Artos Indonesia Tbk., sudah sering disebut-sebut sebagai bank yang akan diakuisisi.

Bank Jago sudah menyita perhatian investor sejak paruh kedua tahun 2019 lalu. Sejak saat itu, isu akan masuknya Gojek ke bank ini sudah mulai terdengar, meskipun sulit mendapatkan konfirmasi tentang kebenarannya.

Alih-alih, kabar yang terkonfirmasi justru adalah akuisisi saham ARTO oleh bankir senior Jerry Ng dan Patrick Walujo. Keduanya membeli saham ARTO masing-masing melalui PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) sebanyak 37,65% dan Wealth Track Technology Limited sebanyak 13,35%.

Seiring dengan itu, namanya pun berubah dari semula Bank Artos menjadi Bank Jago. Kantor cabang juga berpindah dari Bandung ke Jakarta. Bank ini digadang-gadang akan segera bertransformasi menjadi bank digital inovatif. Kecurigaan pasar terkait akan masuknya Gojek ke bank ini pun makin kuat.

Rumor Gojek

Kecurigaan itu boleh jadi memang beralasan. Salah satu investor awal Gojek adalah Northstar Group, private equity yang didirikan oleh Patrick Walujo. Northstar Group juga punya pengalaman dalam pengelolaan perbankan, melalui PT Bank BTPN Tbk.

Duet Jerry Ng dan Patrick Walujo membesarkan bank ini dan melahirkan produk inovasi digital bernama Jenius. Penggunanya sudah sekitar 2,5 juta nasabah per Juni 2020, mayoritas dari kalangan milenial yang memang menjadi sasaran utama produk ini.

Northstar kemudian melepas BTPN ke bank asal Jepang, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). Jerry Ng terakhir menduduki posisi sebagai direktur utama di BTPN. Langkah kedua tokoh ini untuk mengakuisisi ARTO memberi sinyal bahwa sukses yang sama seperti di BTPN akan terulang di ARTO.

Seiring dengan itu, isu ingin masuknya Gojek ke bisnis bank mulai berembus. Relasi antara Gojek dan ARTO melalui Northstar Group dan Patrick Walujo memperkuat spekulasi bahwa ARTO akan menjadi bank sasaran akuisisi Gojek.

Alhasil, saham ARTO yang semula hanya bergerak di kisaran kurang dari Rp150 per lembar sejak IPO pada Januari 2016, seketika melejit hingga lebih dari Rp4.000 pada 2019 lalu. Nilai kapitalisasi pasarnya pun melonjak hingga lebih dari Rp40 triliun, bersaing dengan kalangan bank-bank besar papan atas.

Lonjakan ini sangat mencolok, sebab total aset ARTO per akhir 2018 hanya Rp664 miliar. Setelah akuisisi oleh kedua pengusaha tersebut dengan skema rights issue, ekuitasnya meningkat dari hanya Rp115,6 miliar pada 2018 menjadi Rp681 miliar. Total aset pun menjadi Rp1,32 triliun.

Berikut ini perkembangan aset ARTO dari tahun ke tahun (dalam Rp miliar):

Neraca 2015 2016 2017 2018 2019
Giro 49 44 43 33 25
Tabungan 26 45 64 59 86
Deposito 489 502 565 420 489
Total Dana Pihak Ketiga (DPK) 489 502 565 420 489
Simpanan Bank Lain 68 19 14 24 28
Total Kewajiban atau Liabilitas 638 628 698 549 640
Total Ekuitas atau Modal 107 147 139 116 681
Total Aset 746 775 837 665 1,321

 
Tetap saja, aset senilai hanya Rp1,32 triliun tentu tidak seimbang dengan kapitalisasi pasar hingga di atas Rp40 triliun. Jelas, pasar tidak sedang menghitung valuasi terkini ARTO, tetapi ekspektasi atas valuasi masa depannya jika rumor masuknya Gojek ke dalam bank ini ternyata benar.

Harga saham ARTO sempat turun lagi ke bawah level Rp1000 tahun ini seiring dengan terkonfirmasinya kasus Covid-19 di Indonesia. Namun, isu masuknya Gojek ke bank ini kembali menguat dan mendorong sahamnya melejit lagi.

Pada Senin (21 Desember 2020), setelah akhirnya ada pengumuman resmi akuisisi Gojek atas ARTO, saham ARTO pun melonjak 11,79% pada sesi pertama ke level Rp4.360. Saham ARTO bahkan sempat naik hingga Rp4.870 saat pembukaan perdagangan.

Valuasi ARTO Terlampau Tinggi?

Berdasarkan data RTI, valuasi ARTO dengan harga Rp4.360 berdasarkan rasio harga berbanding nilai buku atau price to book value (PBV) sudah mencapai 38,93 kali.

Sebagai pembanding, PBV saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. hanya 2,75 kali, PT Bank Central Asia Tbk. hanya 4,73 kali, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. hanya 1,70 kali. Artinya, jika dibandingkan dengan valuasi saham bank-bank besar ini, harga saham ARTO sudah terlalu tinggi atau tidak lagi wajar.

Apalagi, hingga tahun ini, ARTO masih rugi. Rugi ARTO tercatat terus membesar dari tahun ke tahun. Tahun 2019 lalu, rugi ARTO mencapai Rp122 miliar, membengkak dari Rp23 miliar pada 2018, Rp8,7 miliar pada 2017, dan Rp33 miliar pada 2016.

Jelas, tidak masuk akal untuk memberikan harga terlalu tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan saham-saham blue chip, untuk bank kecil yang bahkan masih rugi. Namun, dengan masuknya ARTO ke dalam ekosistem Gojek, apakah valuasi itu menjadi wajar?

Gojek merupakan perusahaan teknologi digital dengan valuasi sekitar US$10 miliar. Jika dirupiahkan, nilai ini setara lebih dari Rp140 triliun. Bisnis Gojek pun menyebar di berbagai lini dan terintegrasi dengan layanan keuangannya yang unggul, yakni Gopay.

Prospek Gopay sebagai dompet digital sangat cerah, sebab menjadi bagian dari ekosistem Gojek. Mitra pengemudi Gojek kini mencapai sekitar 2,5 juta orang, sedangkan pengguna layanannya jauh lebih besar. Di Play Store, aplikasi Gojek sudah diunduh oleh lebih dari 50 juta pengguna.

Bayangkan saja jika layanan dompet digital Gojek ini akhirnya akan terintegrasi dengan layanan perbankan Bank Jago. Riset iPrice pada Februari 2019 saja menunjukkan transaksi di Gopay sudah sekitar US$6,3 miliar, atau kurang lebih Rp88 triliun.

Bank Jago bisa mendapatkan minimal dua keuntungan jika layanan Gopay diintegrasikan dengan layanan perbankan Bank Jago, yakni ketersediaan likuiditas dari dana mengendap pengguna Gopay sebagai dana pihak ketiga (DPK), serta dari fee atau komisi layanan transaksi.

Hal inilah yang kemungkinan diantisipasi oleh investor sehingga mengapresiasi saham ARTO hingga sedemikian tinggi. ARTO memiliki peluang masa depan yang menjanjikan, meskipun hingga kini belum disampaikan seperti apa model integrasi bisnis Gojek dan Bank Jago.

Prospek Bisnis Digital Bank Jago

Saat ini, kita belum mendengar kabar terkait keuntungan yang sudah dihasilkan oleh Gojek. Startup ini masih genjar melakukan promosi dan menerima suntikan modal segar. Baru-baru ini, PT Telkom Indonesia Tbk. bahkan ikut menyuntikkan modal ke Gojek dengan nilai Rp2,1 triliun.

Jika benar hingga kini Gojek masih membakar modal dan belum menghasilkan keuntungan, artinya baik Gojek maupun Bank Jago sama-sama perusahaan yang masih merugi.

Penopang utama valuasi Gojek adalah kekayaan data dan basis penggunanya yang besar, yang sewaktu-waktu bisa dimonetisasi lebih jauh. Namun, keuntungan riil dalam bentuk uang tunai belum dihasilkan.

Lantas, apakah tepat berinvestasi pada perusahaan yang masih rugi dengan hanya berdasarkan pada prospek masa depannya saja? Hal ini sulit dijawab.

Namun, jalur bisnis yang kini ditempuh Gojek dan Bank Jago memang bisnis yang sangat menjanjikan di masa mendatang. Peluang keberhasilannya pun cukup besar, meningat tren yang dibawa oleh Gojek sulit untuk dibalikkan lagi.

Setelah masyarakat perkotaan kini terbiasa dengan memesan ojek, taksi, makanan, layanan pengiriman, dan layanan lainnya secara online melalui Gojek, sulit bagi mereka untuk mundur lagi ke belakang dan menggunakan cara lama. Artinya, bisnis Gojek kemungkinan besar akan bertahan lama dalam jangka panjang.

Bank Jago sendiri rencananya akan berkembang menjadi bank digital yang kini mulai menjadi tren global. Bank digital nantinya akan menghasilkan inovasi layanan perbankan yang melampaui keterbatasan bank-bank konvensional saat ini dan beroperasi tanpa perlu kehadiran fisik kantor cabang.

Hal ini memungkinkan efisiensi yang lebih tinggi dalam ekspansi hingga ke pelosok-pelosok. Apalagi, literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia kini masih sangat rendah, sehingga peluang bagi bank digital masih sangat besar.

Minimal, Bank Jago akan mendapatkan dukungan basis nasabah dari mitra pengemudi dan UMKM Gojek yang kemungkinan besar mayoritas belum mampu mengakses layanan perbankan.

Bukan tidak mungkin, Gojek dapat menghasilkan data alternatif yang dapat menjadi landasan bagi pembuatan skor kredit mitra pengemudi dan UMKM mereka. Jika ini dielaborasikan bersama Pefindo Biro Kredit selaku penyedia data skor kredit bagi perbankan, tentu peluang bagi akses keuangan UMKM akan sangat tinggi di masa mendatang.

Untuk diketahui, setiap calon debitur yang hendak meminjam uang di bank, akan terlebih dahulu dianalisis oleh bank terkait kelayakan calon debitur tersebut untuk menerima kredit. Analisis oleh bank ini didasarkan atas data skor kredit yang disediakan oleh Pefindo Biro Kredit (PBK). Dulunya, sistem ini dikenal dengan istilah BI Checking.

Selama ini, landasan penyusunan skor kredit PBK hanya berdasarkan data kredit dari berbagai lembaga keuangan. Data di Gojek sangat mungkin menjadi data alternatif yang bisa memperkaya penyusunan skor kredit, bahkan membentuk data skor kredit alternatif.

Ini membuka peluang akses kredit bagi nasabah yang selama ini dianggap unbankable, atau tidak dapat menerima layanan perbankan karena bukan dari kalangan korporasi atau karyawan berpenghasilan tetap dengan rekam jejak penghasilan yang jelas. Masyarakat yang unbankable ini jumlahnya justru masih sangat besar.

Nah, sebagai bank mitra Gojek, Bank Jago berpotensi lebih dahulu memanfaatkan peluang ini. Ini peluang masa depan Bank Jago, yang kemungkinan besar bisa membawanya dari semula bank yang rugi menjadi salah satu bank jagoan di Indonesia.
 
 
 
 

Investasi