The Growing Champion: ERAA

Dewasa ini, kemajuan teknologi dan telekomunikasi di Indonesia sedang bertumbuh dengan pesat. Pertumbuhan kualitas ekosistem digital nasional terus meningkat akibat perbaikan kualitas infrastruktur digital dan jumlah kepemilikan gadget yang bertumbuh secara eksponensial. Internet serta perangkat digital telah membawa Indonesia menuju era ekonomi yang berbasis teknologi.

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang ritel dan distribusi perangkat elektronik yang pertama kali melantai di pasar modal pada Desember 2011. Perusahaan ini memiliki pangsa pasar sebesar 32%-33% pada tahun 2017. Saat ini, ERAA memiliki 84 pusat fasilitas distribusi yang bekerja sama dengan lebih dari 53 ribu outlet pihak ketiga dan 787 pelaku ritel di Indonesia.

ERAA memiliki lisensi untuk mendistribusikan 15 merk ponsel, di antaranya Apple, Asus, Huawei, Xiaomi, dan Samsung. ERAA juga memiliki fasilitas penjualan perangkat ponsel pintar resmi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia seperti Erafone, iBox, Android Nation, dan Mi Store.

Di Indonesia, pasar ponsel pintar masih memiliki ruang yang relatif besar yang belum dioptimalkan. Berdasarkan data, Indonesia hanya memiliki tingkat penetrasi penggunaan ponsel pintar sebesar 23%, sehingga masih memberikan banyak ruang bagi pasar untuk bertumbuh. Pada tahun 2019, tingkat penetrasi diharapkan dapat meningkat ke level 28.4%.

Sebagai negara yang sama-sama memiliki jumlah populasi yang besar, China telah mencapai tingkat penetrasi di level 56%, sedangkan India telah mencapai 33.4%. Dengan jumlah populasi sebesar 260 juta penduduk, tingkat penetrasi Indonesia yang hanya sebesar 23% dianggap menjadi potensi pasar yang masif bagi pelaku industri ponsel pintar.

Pertumbuhan pasar yang begitu cepat membuat produsen ponsel pintar mengganti produknya secara terus menerus setiap 6 – 12 bulan sekali dengan spesifikasi, fitur, dan teknologi yang lebih canggih. Riset juga menunjukkan bahwa generasi milenial (39.1%) selalu mengganti ponsel lama mereka dengan ponsel baru dalam kurun waktu 6 – 12 bulan sekali.

Sehingga, dapat diartikan bahwa semakin baik kualitas teknologi yang ditawarkan, maka jumlah permintaan generasi millenial untuk mengganti ponsel mereka pun juga meningkat, memberikan dampak pada pertumbuhan pasar yang positif.

ERAA juga telah berhasil meningkatkan nilai gross margin dan net profit margin, yang diklaim disebabkan oleh peluncuran produk Iphone X dan Samsung S9 pada 2017, yang kemudian diikuti oleh peluncuran produk Xiaomi Red 5 Series pada 2018.

Selain itu, ERAA juga telah berhasil memangkas jarak antara kinerja penjualan produk Apple global dengan produk Apple yang diluncurkan di Indonesia dengan jumlah penjualan yang meningkat 2 kali lipat pada peluncuran terakhir. Peluncuran produk lain seperti Samsung, Asus, dan Oppo juga relatif disambut positif oleh pasar.

Pada tahun 2018, ERAA telah membuka lebih dari 200 store resmi. Berdasarkan Kontan, sebagian besar didominasi oleh store yang berlokasi di kota-kota kecil yang selama ini belum dioptimalkan potensi pasarnya. Sebagian besar store yang dibuka merupakan store yang berukuran kecil.

Indonesia diprediksi memiliki sebesar 76 juta penduduk pengguna ponsel pintar pada tahun 2019. Sampai hari ini, relatif masih banyak kota-kota di Indonesia yang belum tersentuh oleh distributor resmi. ERAA siap untuk mengoptimalkan kesempatan ini dengan mencanangkan rencana strategis untuk membuka 1000 store di kota-kota kecil di berbagai wilayah di Indonesia. ERAA telah mengalokasikan belanja modal sebesar 300 Miliar pada tahun 2018 untuk merealisasikan rencana ini.

ERAA juga terus meningkatkan permintaan dan keterlibatan konsumen melalui pendekatan distribusi omnichannel untuk memberikan kenyamanan, keamanan, dan kecepatan dalam distribusi produknya. ERAA juga tengah fokus dalam memperluas skala bisnisnya untuk mengantisipasi perubahan pasar di masa mendatang dengan mulai mendistribusikan produk-produk yang tergolong dalam Internet-of-Things.

Saat ini, ERAA sedang mengembangkan pendekatan omnichannel melalui penyediaan layanan online-to-offlineOmnichannel yang terintegrasi ini membuat konsumen kini dapat memesan produk secara online lalu kemudian diantarkan menuju store ERAA terdekat. Atau konsumen juga dapat memesannya secara offline hingga kemudian produknya dikirimkan ke alamat yang diinginkan.

Pendekatan omnichannel tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko barang yang tidak sampai terkirim ke tempat tujuan yang selama ini menjadi salah satu faktor penghambat bagi konsumen untuk membeli secara online. Selain itu, ERAA juga telah bekerja sama dengan Lazada dan Shopee untuk menjadi platform distribusi produk Xiaomi di Indonesia. Peningkatan efisiensi distribusi melalui berbagai strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan penjualan ERAA.

ERAA juga mendominasi pasar penjualan produk Apple di Indonesia. Meskipun harganya relatif mahal, ERAA telah mendapatkan kepercayaan dan loyalitas konsumen Apple dalam beberapa tahun terakhir. Peluncuran produk Apple yang terjadi hampir setiap tahun selalu diikuti dengan peningkatan permintaan yang signifikan dari konsumen.

ERAA juga kini sedang membangun segmen pasar baru pada produk Xiaomi yang selalu merebut perhatian pasar. Pada segmen ini, Xiaomi menyasar konsumen menengah ke bawah dengan menyediakan produk dengan harga yang lebih murah namun setingkat dengan kualitas produk premium. Xiaomi telah berhasil merebut perhatian pasar Indonesia yang memiliki karakter cost-sensitive melalui 4 store resminya di Indonesia.

Xiaomi pun kini telah masuk dalam pasar ponsel premium melalui peluncuran produk Xiaomi Mi Mix 2 pada tahun lalu yang langsung terjual ludes. Xiaomi juga memiliki rencana jangka panjang untuk membangun pusat perakitan produknya di Indonesia untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dari tahun ke tahun. Kami percaya rencana ekspansi ini dapat semakin memperluas pasar Xiaomi di Indonesia nantinya.

Dengan basis jumlah pengguna yang besar, industri ojek online sedang mengalami lonjakan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, ERAA memanfaatkan momen pertumbuhan ini dengan membangun kemitraan dengan Gojek & Grab untuk menyediakan ponsel pintar yang layak bagi driver. ERAA juga bekerja sama dengan Telkomsel dan XL Axiata untuk menawarkan ponsel pintar secara gratis apabila membeli paket data pada jumlah yang ditentukan sehingga dapat mendorong pertumbuhan penjualan.

Semakin tingginya spesifikasi ponsel yang dibutuhkan untuk menjalankan high performance app, membuat fitur spesifikasi dan kemampuan performa menjadi pertimbangan penting bagi konsumen dalam memilih ponsel. Sehingga konsumen cenderung tidak hanya mempertimbangkan harga melainkan juga spesifikasi yang dimiliki.

Di tahun 2018, budaya mobile games telah mampu mengubah perilaku pengguna ponsel dengan signifikan. Melalui aplikasi games, pengguna dapat membedakan kualitas ponsel antara satu dengan yang lain. Sehingga, untuk mengikuti tren teknologi yang berlaku, konsumen tidak akan ragu untuk mengganti ponselnya dengan ponsel baru yang lebih canggih, atau yang dikenal sebagai technology driven-buyer. Kesempatan ini justru dimanfaatkan oleh Xiaomi yang masuk ke pasar dengan menawarkan produk premium dengan rata rata harga sebesar 130USD, dibandingkan dengan produk kompetitornya Oppo dan Vivo seharga 220USD.

Kinerja keuangan ERAA terus bertumbuh setiap tahun. Perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 43% di tahun 2018. Sedangkan laba bersih tumbuh sebesar 150% di tahun yang sama. Nilai net profit margin juga meningkat dari 1.4% di tahun 2017, menjadi 2.5% di tahun 2018.

Net Profit Margin (NPM) adalah konsep pengukuran sederhana yang membandingkan antara laba bersih dengan pendapatan perusahaan. Contoh sederhananya, apabila perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp100 dan menghasilkan laba bersih sebesar Rp50, maka, nilai NPM adalah sebesar 50% atau 50/100.

ERAA juga berhasil secara konsisten mencatatkan pertumbuhan pendapatan laba bersih positif dalam 5 tahun terakhir sejak 2014. Di masa mendatang, penjualan ponsel pintar diprediksi masih tetap menjadi kontributor utama dalam menghasilkan pendapatan bagi perusahaan.

Dalam beberapa bulan terakhir, terjadi penurunan dalam pertumbuhan average sales price (ASP) yang disebabkan oleh produk Xiaomi yang menjual produk dengan harga murah pada kualitas spesifikasi yang serupa dengan premium dan pembukaan store ERAA di kota-kota kecil yang memiliki daya beli yang relatif lebih rendah dibanding kota-kota besar.

Kesimpulannya, Indonesia adalah pasar yang memiliki prospek cerah untuk ponsel pintar dengan pertimbangan-pertimbangan seperti: 1) potensi pertumbuhan yang tinggi karena masih rendahnya tingkat penetrasi, 2) pertumbuhan ekonomi yang akan meningkatkan daya daya beli konsumen, 3) masifnya penetrasi pasar yang dilakukan oleh ponsel low cost seperti Xiaomi dan Oppo

Related Posts

Inspirasi Investasi Saham dari Direksi BCA
IHSG Melemah, Saham ITIC "Melawan"

Leave a Comment

You need to sign in before leave a comment. Fields marked with an * are required.

Sign in

Subscribe To Big Alpha

Subscribe now and get exclusive news, advisory and more.