Teman-teman Beli Sepeda, Apakah Saya Harus Ikut Beli?

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 4 menit]

Olahraga bersepeda menjadi kian populer belakangan ini karena dibatasinya berbagai kegiatan olahraga untuk mencegah penyebaran virus corona di Indonesia. 

Bersepeda menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin tetap berolahraga sembari menjaga jarak dan menghindari kontak fisik. Kian populernya bersepeda pada saat pandemi tidak hanya terjadi di sebagian daerah Indonesia, tapi juga berbagai negara lain.

Bukan tidak mungkin, tren bersepeda itu diikuti oleh teman-teman terdekat di lingkungan pergaulan kita. Mereka membeli sepeda dengan berbagai merk, harga, dan jenis. Barangkali pula mereka mengunggah foto sepeda tersebut di media sosial mereka.

Dalam situasi itu, apakah kita perlu ikut membeli sepeda seperti teman-teman yang lain? Pertimbangan keuangan apa saja yang perlu dibuat sebelum memutuskan membeli atau tidak membeli sepeda? Berikut ini sejumlah tipsnya:

1. Butuh atau Tidak?

Sebelum memutuskan untuk membeli sepeda, tidak ada salahnya kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah saya benar-benar membutuhkan sepeda untuk berolahraga? Apakah bersepeda adalah olahraga yang benar-benar akan saya lakukan?

Apabila jawaban atas pertanyaan itu adalah "tidak" maka sebenarnya kita tidak perlu memaksakan diri untuk membeli sepeda. Namun, apabila jawabannya adalah "ya" maka kita dapat melangkah ke tahap selanjutnya.

2. Anggaran

Setelah menetapkan bahwa bersepeda adalah kebutuhan, kita perlu menyiapkan langkah selanjutnya yaitu anggaran. Kita perlu memastikan bahwa kita memiliki anggaran yang cukup untuk membeli sepeda.

Anggaran ini bisa berasal dari tabungan. Anggaran yang digunakan untuk membeli sepeda sebaiknya bukan simpanan dana darurat mengingat pembelian sepeda bukan transaksi yang dilakukan pada saat darurat.

Besaran anggaran yang dimiliki tentu saja akan berpengaruh terhadap merk dan jenis sepeda yang dibeli. Sebagai contoh, apabila anggaran yang dimiliki hanya Rp2 juta jangan memaksakan diri untuk membeli sepeda seharga Rp30 juta.

3. Survei Harga

Pada saat hendak membeli sepeda, kita sebaiknya tidak terburu-buru melakukan pembelian. Karena tingginya permintaan sepeda pada saat pandemi virus corona dan terbatasnya stok, harga sepeda meningkat di sejumlah tempat.

Kondisi itu tidak jarang dimanfaatkan oleh pedagang yang meningkatkan harga dengan peningkatan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, sebelum melakukan transaksi, kita bisa melakukan survei di sejumlah tempat, baik toko sepeda atau platform dagang elektronik (e-commerce) untuk mencari harga yang terbaik.

4. Menabung

Apabila belum memiliki anggaran pada saat hendak membeli sepeda, kita bisa mengumpulkan uang dengan cara menyisihkan penghasilan segera setelah mendapatkan gaji atau penghasilan bulanan.

Pengumpulan dana dapat dilakukan dengan menyimpannya di rekening simpanan biasa atau tabungan berjangka. Kita bisa menentukan berapa lama uang itu akan terkumpul untuk membeli sepeda.

5. Perawatan

Hampir sama seperti kendaraan lainnya, kita perlu sadar bahwa uang yang dikeluarkan untuk sepeda tidak hanya pada saat membelinya namun juga setelah menggunakannya dalam beberapa waktu tertentu.

Misalnya, dalam kurun waktu tertentu, bagian sepeda seperti kampas rem, ban dalam/luar, kabel rem dan sebagainya perlu diganti supaya sepeda tetap dapat berfungsi secara normal.

Di samping itu, bukan tidak mungkin kita akan tergoda untuk melakukan modifikasi sepeda tersebut yang tentunya membutuhkan anggaran yang lebih besar. Oleh karena itu, kita perlu mengantisipasi berbagai biaya tambahan ini.


 

Personal Finance