Sempat Diwarnai Rebutan Harta, Siapa Pemilik Sinar Mas Group?

Dika Aksara

Sinar Mas Group adalah salah satu konglomerasi besar di Indonesia. Berdiri sejak 1983, Sinar Mas Group berkembang pesat dengan enam lini bisnis yang dijalankan. Pada 2003, dengan restrukturisasi induk perusahaan, Sinar Mas tak lagi memiliki holding melainkan President Office yang memfasilitasi operasional seluruh pilar bisnis. 

Ada enam pilar bisnis yang dijalankan Sinar Mas Group, antara lain pulp dan kertas, agribisnis dan pangan, layanan keuangan, pengembang dan real estate, telekomunikasi, serta energi dan infrastruktur. Ada satu lagi lini bisnis yang mulai digarap Sinar Mas, yaitu digital ventures. 

Namun dengan nama besar yang dimiliki, kisah Sinar Mas tak melulu mulus. Selepas wafatnya sang pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja, pada 2019 lalu, berbuntut pada sengketa perebutan harta antar-anak. Freddy Widjaja, salah satu anak Eka Tjipta Widjaja, menggugat lima saudara tirinya atas pembagian harta warisan sang ayah. Hingga April 2021 ini, mediasi yang diupayakan terwujud pun gagal. Lantas bagaimana nasib Sinar Mas saat ini? Siapa pemilik Sinar Mas Group? Big Alpha merangkumnya untuk kamu.

 

1. Pemilik Sinar Mas Group

Nama Eka Tjipta Widjaja barangkali masih melekat sebagai pendiri dan pemilik Sinar Mas Group. Tahun 2018 lalu, Eka Tjipta bertengger di posisi ketiga di deretan orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes. Kekayaannya saat itu menyentuh US$8,6 miliar.

Tapi kepemilikan Sinar Mas Group saat ini tentu berubah sepeninggal Eka Tjipta Widjaja pad 2019 lalu. Seperti diketahui, ada enam pilar bisnis yang dijalankan Sinar Mas. Masing-masing lini bisnis kini dikendalikan oleh generasi kedua dan ketiga dari keturunan Eka Tjipta Widjaja. 

  • Bisnis pulp dan paper dipegang oleh Teguh Ganda Widjaja.
  • Bisnis agribisnis dan makanan dikendalikan oleh Franky Widjaja dan Muktar Widjaja melalui Golden Agri.
  • Bisnis jasa keuangan dipegang Indra Widjaja melalui Sinarmas Multiartha.
  • Bisnis pengembang dan real estate dikendalikan Muktar Widjaja.  
  • Bisnis energi dan infrastruktur juga dipegang oleh Franky Widjaja dan Indra Widjaja.
  • Bisnis lainnya, dipegang oleh  generasi kedua dan ketiga serta dibantu tenaga profesional.

 

2. Kisah rebutan warisan masih berlanjut

Wafatnya Eka Tipta Widjaja ternyata menyisakan kisah bak drama Korea: rebutan harta antar-anak. Maklum, Eka Tjipta Widjaja, dikutip dari CNBC, memiliki 28 anak dari lima orang istri. Salah satu anak yang sah secara hukum, Freddy Widjaja, menggugat lima orang saudara tirinya terkait pembagian harta. 

Lima tergugat adalah Teguh Ganda Widjaja, Indra Widjaja, Muktar Widjaja, Djafar Widjaja, dan Franky Oesman Widjaja. Namun hingga April 2021 lalu, mediasi untuk mempertemukan antara penggugat dan tergugat selalu gagal. Gugatan Freddy ini dilakukan atas aset Grup Sinarmas senilai Rp737 triliun. Dari angka tersebut, ahli waris hanya mendapat Rp76 miliar dan sisanya diberikan kepada tergugat. 

Dikutip dari CNBC juga, gugatan diajukan karena tidak ada rincian atas harta peninggalan Eka Tjipta Widjaja serta adanya wasiat sisa uang atau harta peninggalan yang hanya diserahkan kepada kelima tergugat. 

 

3. Eka Tjipta Widjaja sudah perhitungkan adanya rebutan harta

Dikutip dari Kontan, ternyata Eka Tjipta Widjaja sudah memperhitungkan adanya potensi rebutan harta di antara keturunannya. Hal ini diungkapkan dalam sebuah wawancara pada 1996 silam. Saat itu, Eka Tjipta menyebutkan bahwa perusahaans sedang menyusun anggaran rumah tangga, demi menghindari adanya rebutan harta warisan dan aset Sinar Mas. Saat itu, Eka Tjipta menyebutkan bahwa ada enam anaknya yang dapat restunya untuk masuk dalam struktur perusahaan dan memegang kendali. Lima di antaranya, Teguh Widjaja, Indra Widjaja, Franky Oesman Widjaja, Muktar Widjaja, dan Djafar Widjaja. 

 

4. Kisah hidup Eka Tjipta Widjaja

Aset triliunan rupiah yang didapat oleh Eka Tjipta Widjaja tidaklah didapat dengan instan. Jalan hidupnya yang panjang juga penuh kerikil dan batu kali yang mengadang. 

Ia pertama kali datang ke Indonesia pada 1932 saat usianya 9 tahun, menyusul sang ayah yang sudah migrasi ke Indonesia lebih dulu. Eka yang hanya bermodalkan ijazah SD sudah bekerja sedari kecil sebagai pedagang permen dan biskuit keliling Makassar. 

Dengan usaha keras yang jatuh-bantun, Eka Tjipta tidak putus asa. Pemasukannya mampu menambal kebutuhan keluarga. Pada usia 37 tahun, Eka Tjipta pindah ke Surabaya. Di sana ia mencoba berbisnis kopi dan kebun karet di Jember. 

Eka Tjipta kemudian membangun CV Sinar Mas dan mulai berbisnis bubur kertas dari sisa pengolahan karet. Bisnisnya berkembang pesat. tahun 1976, ia mendirikan PT Tjiwi Kimia.  Sejak itu, bisnis Eka Tjipta berkembang pesat dan merambah berbagai sektor industri hingga saat ini

Bisnis